Terkilir atau keseleo adalah cedera pada persendian karena adanya perenggangan otot secara spontan yang berlebihan. Biasanya terkilir terjadi pada kaki atau tangan. Orang yang jarang berolah raga cenderung lebih mudah terkilir saat terjadi peregangan otot dibandingkan dengan orang yang rajin berolah raga. Hal tersebut dikarenakan refleksi otot olahragawan bekerja lebih baik. Orang yang terkilir dapat ditolong dengan cara diurut. Adapun efek dari terkilir yang dirasakan penderita misalnya :
•Sendi yang terkilir terasa sangat sakit dan bengkak.
•Persendian sulit digerakkan.
•Efek terkilir membuat tubuh mengalami peningkatan panas. Rasa panas tersebut lebih sering datang saat malam hari.
Penyebab keseleo bisa bermacam-macam, misalnya terjatuh saat olah raga, kehilangan keseimbangan saat senam, sehingga pergelangan kaki atau tangan mengalami tarikan atau tertekuk secara spontan dan kuat. Tapi pada kondisi fisik yang lemah, seseorang bisa saja mengalami keseleo oleh tarikan spontan yang tak begitu kuat.
Kejadian semacam ini pernah dialami seorang ibu yang baru beberapa hari sebelumnya melahirkan anak ketiga, kondisi fisiknya belum kuat. Ketika itu dia terpeleset di kamar mandi, sekalipun tidak jatuh dan sempat berpegang di bak mandi namun tak ayal bonggol paha kanannya langsung keseleo. Tukang urut segera dipanggil dan melakukan tugas selama 3 hari. Mungkin karena bukan ahlinya maka pengobatan yang dilakukan tak membuahkan hasil. Begitupun ketika pengobatan dilakukan oleh tukang urut lainnya yang konon menggunakan metode internal -energy, tetap tak membuahkan hasil alias sami mawon. Si penderita yang notabene ibu dari anak-anak saya itu tetap merasakan sakit yang amat sangat ketika kaki kanannya digerakkan.
Isteri saya ketika itu dalam masa cuti melahirkan dan berada di kampung halamannya di Blabak Magelang sementara saya berada di Kompleks Batan Indah Tangerang Selatan Banten. Tiga pekan pasca peristiwa itu saya baru berkesempatan untuk menjemputnya. Rekan sekerja menyarankan agar isteri saya dibawa ke “sangkal putung” (pengobatan patah tulang) di Desa Sampora Cisauk yang bernama bapak H. Amat, saran tersebut saya laksanakan. Saya jemput isteri dan membawanya dengan kendaraan langsung menuju Desa Sampora.
Bapak H. Amat memang piawai dalam hal pengobatan patah tulang. Beliau bertanya tentang kasus yang dialami lalu hanya dengan melihat sekilas beliau menyatakan bahwa bonggol tulang paha kanan isteri saya terlepas dari cangkangnya. Saya sempat bertanya : “Bagaimana bapak tau bahwa bonggol paha itu copot ?”. Beliau menjawab : “Lihat sendiri nih ! tapak kaki kanan lebih menjulur dari pada yang kiri !… itu berarti bonggol paha kanannya lepas.”
Bapak H. Amat segera melakukan prosesi pengobatannya yang khas sambil berkomat-kamit membacakan sesuatu kemudian beliau minta dibantu mengangkat kaki kanan itu pelahan-lahan dan mendorongnya keatas hingga terdengar suara … “pluug !”. Bonggol paha kanan itu telah kembali keposisinya tanpa merasakan sakit yang berarti. Prosesi selanjutnya adalah mengurut bagian yang keseleo itu menggunakan minyak dari kelapa hijau. Selain berfungsi sebagai minyak urut, konon minyak yang beraroma kelapa tersebut juga berfungsi sebagai antibiotic terhadap luka. Proses urut keseleo ini tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti, sehingga pasien tidak berteriak kesakitan. Selanjutnya bapak H. Amat mengikatkan ujung janur kelapa atau janur kuning muda dijempol kaki pasien dan membasahi janur dengan minyak urut. Anehnya yang diurut berikutnya adalah janur. Bapak H. Amat mempersilahkan saya untuk ikut mengurut janur tersebut setelah beliau bacakan sesuatu dijempol saya. Janur itu harus terus diurut hingga koyak dan digantikan dengan janur kuning yang baru. Prosesi mengurut janur ini berlangsung selama tiga hari. Seminggu kemudian isteri saya sudah diijinkan pulang kembali kerumah dan mulai dapat berjalan.

Saya kagum dengan metode pengobatan ala janur kuning oleh bapak H. Amat yang benar-benar piawai sehingga pasien keseleo bahkan yang patah tulangpun tidak merasakan sakit saat diurut. Diam-diam sayapun berniyat ingin mendalami ilmunya dan memohon kepada beliau agar sudi membagikan ilmu tersebut kepada saya. Alhamdulillah beliau bersedia mengajarkan ilmunya. Walhasil selama seminggu isteri saya dirawat diklinik sangkal putung H. Amat dan selama itu pula saya menyerap ilmu beliau. Guru pijat saya itu kini telah tiada, tahun 2002 lalu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dalam usia sekitar 102 tahun.
Sangkal Putung Janur Kuning Face Book
Sepeninggal beliau, ilmu pijat keseleo yang telah diwariskan itu mulai saya perkenalkan ke lingkungan, mulai mengurut orang-orang terdekat, tetangga atau teman yang kebetulan keseleo sebagai suatu kegiatan yang bersifat pengabdian bagi masyarakat dalam bidang kesehatan bahkan melayani secara “gratis kaum duafa” atau golongan yang tidak mampu.
Ilmu pijat keseleo tersebut sedang saya kembangkan menjadi suatu klinik. Profesi saya nambah lagi yaitu selain sebagai fungsional litkayasa di sebuah lembaga penelitian, pelatih Kelompok Ilmiah Remaja SMA dan sebagai Admin website IKAUT juga sebagai Mpu Sangkal Putung Janur Kuning.
=======================================================================
Hadijaya : 08128727937 / Email: ikaut.alumni.ut@gmail.com
Alamat : Ds. Kademangan Rt. 011/ Rw.04 Blok N/58 Kecamatan SETU Tangsel.