Oleh: J Triwiyanto, SE

I. PENDAHULUAN
Tujuan Pendidikan Nasional yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang RI Nomor UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , BAB II Pasal 3 yang berbunyi : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Dalam jenjang pendidikan maka tujuan dari Pendidikan Tinggi adalah sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 60 Tahun 1999 Tentang Pendidikan Tinggi, pada Bab II Pasal 2 ayat 1, disebutkan bahwa Tujuan Pendidikan Tinggi adalah :
a. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian;
b. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Dalam perkembangannya Perguruan Tinggi mengalami perkembangan yang pesat dan banyak memberikan andil bagi pembangunan SDM nasional. Telah banyak sarjana atau ilmuwan dilahirkan oleh perguruan tinggi, sehingga diharapkan para sarjana selain berhasil dari sisi ilmu pengetahuan juga berhasil dalam sisi jiwa dan mental yang beriman dan bertaqwa, agar alumni perguruan tinggi menjadi sarjana yang “ utuh” sebagaimana diinginkan dalam GBHN, yaitu terbentuknya manusia pembangunan yang berilmu dan terampil, sekaligus beriman dan bertaqwa. Untuk mencapai hal tersebut lulusan perguruan tinggi /sarjana harus dapat mengamalkan ilmunya dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat maka nilai-nilai moral sangat dibutuhkan dalam menerapkan ilmu yang diperoleh diperguruan tinggi, agar dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya dan dapat diambil manfaatnya. Dalam kehidupan masyarakat nilai-nilai keikhlasan sangat dihargai, untuk itu seorang sarjana belajar mengajar bukanlah! semata-mata demi mengejar prestasi dunia melainkan merupakan salah satu realisasi pengabdian kepada masyarakat dan sebagai bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dalam agama. Saat ini masyarakat sangat membutuhkan lulusan lembaga pendidikan tinggi yang bisa mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan ikhlas dan sesuai dengan norma-norma agama.

II. LEMBAGA-LEMBAGA PENDIDIKAN
Dalam dunia pendidikan, sebagaimana dinyatakan Dr.Ki Hajar Dewantoro, dikenal adanya istilah “Tri Pusat Pendidikan”, yaitu tiga lingkungan (lembaga) pendidikan yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian anak didik/generasi muda. Tiga lembaga pendidikan tersebut adalah : pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat..
Ketiga lembaga ini tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling berkaitan, sebab ketiga bentuk lembaga pendidikan ini sebenarnya adalah satu rangkaian dari tahapan-tahapan yang tidak terpisahkan. Demi tercapainya tujuan pendidikan, ketiga bentuk lembaga tersebut harus berjalan seiring, terpadu, searah dan saling melengkapi. Ketiganya sama-sama bertanggung jawab dalam masalah pendidikan generasi muda (anak didik).
Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anak, karena keberadan anak merupakan amanah yang harus dijaga dengan baik dan penuh tanggung jawab. Orang tua mesti menjaga dan melaksanakan amanat tersebut dengan cara memperhatikan kebutuhan jasmani dan rohani anak-anaknya. Anak yang belum dapat menolong diri sendiri dan dalam kondisi serba tidak berdaya, sangat memerlukan tempat berlindung dan pengayoman untuk melindungi dirinya.. Tidak ada tempat berlindung dan mendapat pengayoman yang aman sesuai kodratnya sebagai anak, kecuali kepada kedua orang tuannya.
Sedangkan masyarakat dan sekolah (sebagai perwujudan tanggung jawab pendidikan dari masyarakat dan Negara) bertanggung jawab atas pendidikan anak didik, karena masyarakat atau Negara memerlukan warga Negara yang terampil, cakap, pandai, sadar akan tugas dan kewajiban, memiliki jiwa pengabdian dan bersedia mengabdikan diri untuk kepentingan bersama.
Pada Tap MPR No. IV/MPR/1978 ditegaskan, “Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah”.

A. Pendidikan dalam Keluarga
Keluarga adalah lembaga yang asasi dan alamiah, yang pasti dialami oleh setiap manusia. Keluarga dalam perspektif Antropologi merupakan unit terkecil dalam kehidupan masyarakat, yang terdiri atas seorang kepala keluarga (ayah), pengatur kehidupan keluarga (ibu), dan anggota keluarga (anak), dengan kerja sama ekonomi, pendidikan, perawatan, perlindungan, dan sebagainya. Karenanya, keluarga dapat juga dikatakan sebagai masyarakat dalam arti mikro.
Dalam proses pendidikan, sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas dan sebelum mendapat bimbingan dari sekolah, seorang anak (generasi muda) lebih dulu memperoleh bimbingan dari keluarganya, kehidupan anak juga lebih banyak dihabiskan dalam pergaulan keluarga. Itulah sebabnya, pendidikan keluarga disebut sebagai pendidikan yang pertama dan utama, serta merupakan peletak pondasi dari watak dan pendidikan setelahnya.
Demikianlah, keluarga mempunyai peranan penting dalam proses pendidikan anak. Karena itu, orang tua yang berperanan dan bertanggung jawab atas kehidupan keluarga harus memberikan dasar dan pengarahan yang benar terhadap anak, yakni dengan menanamkan ajaran agama dan akhlak karimah.

B. Pendidikan di Masyarakat
Masyarakat adalah sekumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan Negara, kebudayaan, dan agama. Setiap masyarakat memiliki cita-cita, peraturan-peraturan, dan system kekuasaan tertentu.
Dalam masalah pendidikan, masyarakat sebenarnya tidak melakukan pendidikan dalam pengertian sebenarnya. Itulah sebabnya, pendidikan dalam masyarakat dikatakan sebagai pendidikan yang bersifat informal. Apa yang disebut sebagai pendidikan dalam masyarakat, sebenarnya hanyalah “pengaruh” masyarakat. Memang diakui bahwa pengaruh masyarakat berperan besar dalam pembentukan kepribadian anak (generasi muda).
Pengaruh masyarakat ada yang bersifat positif dan ada pula yang negatif. Yang dimaksud dengan pengarush masyarakat yang bersifat positif adalah segala kondisi dimasyarakat yang dapat mengarahkan kepribadian dan watak anak kea rah yang baik. Biasanya berupa organisasi-organisasi atau perkumpulan seperti Remaja masjid, pramuka, karang taruna, forum diskusi dll. Sedangkan pengaruh masyarakat yang bersifat negatif adalah segala bentuk keadaan yang merugikan pendidikan dan perkembangan watak anak, misalnya yang berasal dari film, majalah dan pergaulan bebas.

C. Pendidikan Sekolah
Dari ketiga bentuk pendidikan yang disebutkan, pendidikan di sekolah dapat dikatakan sebagai pendidikan yang sebenarnya. Dalam pengertian, berbeda dengan system pendidikan di keluarga dan masyarakat, pendidikan disekolah dijalankan secara formal. Dengan bimbingan seorang guru, para siswa diajar dan dididik mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan dan keilmuan, serta dengan system dan aturan yang telah ditentukan.
Menurut an-Nahlawi, dalam kehidupan social dan dalam hubungannya dengan dua lembaga yang lain, institusi pendidikan sekolah berfungsi sebagai berikut :
Pertama, menyempurnakan tugas keluarga dalam soal pendidikan. Pada dasarnya, sekolah bukanlah sentral pendidikan primer, karena pendidikan awal anak berpusat dirumah, dibawah asuhan orang tua. Sekolah melanjutkan proses tersebut serta menyempurnakan kekurangan-kekurangannya. Karenanya, harus ada hubungan timbal balik yang harmonis antara sekolah dan keluarga, sehingga hasil pendidikan benar-benar sesuai dengan yang diharapkan.
Kedua, memperluas wawasan dan pengalaman anak didik melalui transfer nilai dan peradaban. Lembaga pendidikan (sekolah) tidak cukup hanya mengembangkan perolehan pengalaman-pengalaman anak didik melalui peniruan atau pemaksaan atas kondisi tertentu. Lebih dari itu, sekolah harus mampu mengupayakan perolehan pengalaman melalui pengalaman generasi-generasi terdahulu atau bangsa yang telah maju, yang diistilahkan dengan transfer nilai-nilai dan peradaban.
Ketiga, wahana penyucian dan pembersihan. Sekolah berfungsi membersihkan ilmu-ilmu dari penyelewengan dengan jalan menyaring referensi yang akan menjadi pegangan siswa. Manusia dilahirkan dalam kondisi fitrah (suci). Sehingga ketika muncul berbagai kerusakan, maka lembaga pendidikan merupakan benteng utama untuk memurnikan dan memelihara fitrah tersebut. Dan manusia pada dasarnya berpotensi menerima kebaikan dan keburukan. Sekolah mendidik para siswa agar waspada terhadap kecenderungan-kecenderungan buruk dan memilih hal-hal yang baik.

III. PERANAN SEORANG SARJANA DALAM PENDIDIKAN DI MASYARAKAT
Keberadaan seorang sarjana sebagai salah satu elemen di dalam masyarakat disekitarnya, haruslah bisa memberikan kontribusi sesuai bidang ilmu yang digelutinya maupun bidang pekerjaan yang saat ini dijalankan sebagai profesinya. Dalam hal penguasaan ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi tempat sarjana tersebut kuliah tidak perlu dipertanyakan, namun pengamalan ilmu tersebut di masyarakat disekitarnya masih perlu di-manage sedemikian rupa sehingga keberadaan seorang sarjana benar-benar mempunyai peranan lebih dibandingkan dengan elemen masyarakat lainnya. Kalau hal tersebut belum terlaksana maka tujuan dari pendidikan tinggi belum maksimal terlaksana.
Karena tujuan dari pendidikan tinggi adalah :
1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian;
2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Sedangkan peranan seorang sarjana didalam kegiatan masyarakat, yaitu berperan dalam bidang pendidikan di masyarakat, berperan dalam bidang pembangunan ekonomi dan teknologi serta bidang Sosial budaya dan kepemimpinan.
A. Peranan Dalam Bidang Pendidikan di Masyarakat.
Yaitu sebagai individu /anggota masyarakat seorang sarjana yang telah terbekali dengan ilmu yang memadai maka dalam pendidikan di masyarakat berperan menyebarluaskan ilmu pengetahuan sesuai keahliannya kepada masyarakat luas.
Berperan sebagai pendidik. Mendidik dalam makna yang luas yaitu memberikan ilmu, memperbaiki moral dan kepribadian generasi muda. Membantu generasi muda dalam memberi bekal ketrampilan dan ilmu pengetahuan, yaitu memberikan pelatihan ketrampilan atau memberikan bimbingan dalam studi disekolah maupun bimbingan belajar (dengan menguasai mata pelajaran tertentu dan mengikuti perkembangan kurikulum) untuk masuk ke perguruan tinggi serta memperkenalkan universitas /perguruan tinggi maupun bidang pekerjaan bila akan memasuki dunia kerja.

B. Peranan Dalam Bidang Pembangunan Ekonomi dan Teknologi.
Kiprah seorang sarjana dalam upaya mengangkat harkat dan martabat masyarakat terutama dalam bidang ekonomi dan teknologi , yaitu dengan memasyarakatkan koperasi maupun teknologi tepat guna serta menggalakkan wirausaha. Karena seorang sarjana yang memiliki ketrampilan harus dapat bersikap mandiri dan berjiwa wirausaha sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

C. Peranan Dalam Bidang Sosial Budaya dan Kepemimpinan.
Dalam masalah social budaya, seorang sarjana harus berperan mengubah pandangan dan sikap masyarakat, terutama sikap pribadinya. Untuk itu seorang sarjana harus ikhlas dan tekun mencari ilmu, rela berkorban dn bekerja keras untuk mengusai ilmu serta bersedia mengembangkannya dalam berbagai lembaga yang ada termasuk di masyarakat.
Dalam bidang kepemimpinan, selain menguasai ilmu pengetahuan, seorang sarjana juga harus mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama. Sehingga menjadi suri tauladan, sehingga masyarakat akan melihat contoh konkret dari kepribadian seorang sarjana selain wawasan keilmuan yang dimilikinya. Selain itu kerelaan dan keikhlasan dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya dijalankan sebaik-baiknya dan bersedia memimpin maupun dipimpin.
Dalam peranan ini seorang sarjana juga sebagaimana anggota masyarakat lainnya tentunya tidak terlepas dari segala kekurangan, namun segala sesuatunya harus dicoba dan dijalankan dengan segala kerendahan hati dan keiklasan, untuk kepentingan bersama.
Dalam tulisan ini penulis ingin memberikan gagasan tentang perkumpulan anggota masyarakat yang terbentuk karena persamaan pendidikan yaitu lulusan pendidikan tinggi (sarjana). Dengan wadah perkumpulan sarjana tersebut maka pendidikan dimasyarakat akan diorganisir dan diatur pengelolaannya dengan manajemen yang baik agar pengaruh positif yang akan diberikan kepada masyarakat dapat dipertanggungjawabkan dan diambil manfaatnya sebanyak mungkin. Dalam perkumpulan tersebut dapat mendiskusikan berbagai macam ilmu, filsafat serta prolema actual yang terjadi dalam kehidupan masyarkat dalam koridor manajemen yang disepakati bersama. Dalam hubungannya dengan peranan sarjana UT dalam pendidikan di masyarakat tersebut maka seorang sarjana dituntut untuk berperan aktif dan sebagai pelopor penggerak dengan memberikan gagasan tentang ikatan sarjana yang ada dilingkungan tempat tinggalnya.

IV. KONSEP IKATAN SARJANA /PERKUMPULAN SARJANA.
Alumni Perguruan Tinggi /Sarjana yang telah terbekali dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi secara (relative) baik dan telah siap menjadi anggota masyarakat yang memilki kemampuan akademik dan atau professional yang memadai, maka secara individu harus dapat berperan aktif dimasyarakat tempat tinggalnya. Namun demikian agar peranan tersebut lebih maksimal dan mempunyai tujuan serta pelaksanaan yang jelas dan terarah maka perlu bersosialisasi dengan individu lainnya sebagai sesama alumni perguruan tinggi.
Keanekaragaman alumni perguruan tinggi yang berupa berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipelajari, asal perguruan tinggi, maka dalam ruang lingkup dimasyarakat tempat tinggalnya perlu dipersatukan dan dipadukan dalam suatu wadah organisasi yang berupa “IKATAN SARJANA /PERKUMPULAN SARJANA”. Ikatan Sarjana /Perkumpulan Sarjana ini adalah sebagai salah satu lembaga pendidikan di masyarakat. Untuk lembaga Pendidikan di Masyarakat lainnya yang berpengaruh positif dalam pembentukan kepribadian anak dan anggota masyarakat pada umumnya diantaranya : Perkumpulan Pemuda (Karang Taruna, Pramuka, Kelompok Kesenian dan Olahraga), Lembaga RT/RW (Pengurus beserta Kegiatannya,), Pengurus Musholla /Masjid, Forum Diskusi dll.
Ikatan Sarjana /Perkumpulan Sarjana sebagai salah satu lembaga pendidikan di Masyarakat yang terbentuk atas dasar persamaan status (pendidikan) haruslah dapat berperan lebih besar dalam lingkungan tempat tinggalnya atau domisili.
Dalam tulisan /gagasan ini yaitu Peranan Sarjana UT dalam Pendidikan di Masyarakat, penulis tujukan bagi Sarjana UT yang telah memperoleh bekal ilmu pengetahuan dari Universitas Terbuka serta pengalaman dalam profesi yang dijalankan sekarang. Untuk itu lulusan Universitas Terbuka /Sarjana UT dalam lingkungan tempat tinggalnya dituntut untuk menjadi pelopor dan penggerak dalam pembentukan Ikatan Sarjana di lingkungannya. Misalnya dengan memberikan ide /gagasan pembentukan Ikatan Sarjana kepada Pengurus RW dimana ia tinggal. Dengan adanya Ikatan Sarjana di tempat tinggalnya yang mencakup satu RW dan dapat diperluas ke RW lainnya dalam lingkup Kelurahan yang sama maupun dalam suatu lingkungan misalnya Komplek Perumahan.
Dan dengan terbentuknya Ikatan Sarjana tersebut maka seorang sarjana UT dapat berperan dalam :
1. Memperkenalkan Universitas Terbuka kepada masyarakat luas di lingkungan tempat tinggalnya, terutama kepada generasi muda, lulusan SLTA maupun Siswa kelas III sebagai alternative dalam merencanakan studinya ke jenjang perguruan tinggi..
2. Menyebarluaskan ilmu yang didapat di UT dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
3. Berpartisipasi aktif dalam upaya meningkatkan pengabdian kepada masyarakat di tempat tinggalnya, sehingga dapat menjunjung tinggi keluhuran almamaternya yaitu Universitas Terbuka dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Agar peranan tersebut dapat berjalan lancar, seorang sarjana UT harus dapat bekerja sama/melibatkan diri dengan Kepengurusan RT dan RW serta Kelurahan /Kepala Desa. Sebab perangkat pemerintah tersebut adalah pihak-pihak yang berkepentingan dan bertanggung jawab dalam bidang pendidikan dalam arti luas di masyarakat. Untuk itu maka wadah kegiatan “Ikatan Sarjana” terutama sebagai salah satu lembaga pendidikan di masyarakat, agar dapat diterima keberadaannya dan berkembang di masyarakat maka Peranan Pengurus RT dan RW maupun Kelurahan /Kepala Desa sangat besar., agar wadah kegiatan Ikatan Sarjana ini dapat berkembang dan bisa memberikan peranannya dalam pendidikan di masyarakat. Sebab Pendidikan untuk generasi muda adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah.

V. KESIMPULAN
Masalah Pendidikan adalah masalah bersama dan pendidikan adalah tanggung jawab antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Ketiga lembaga tersebut harus berjalan seiring, terpadu, searah dan saling melengkapi agar tujuan pendidikan tercapai.
Alumni Perguruan Tinggi /Sarjana Universitas Terbuka yang telah terbekali dengan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, diharapkan dapat berperan aktif dimasyarakat dalam menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. Serta mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Tujuan Pendidikan Tinggi.
Dan sebagai sarana untuk menampung alumni perguruan tinggi/sarjana sebagai unsur anggota masyarakat tersebut agar dapat mengembangkan gagasan, minat dan bakat serta potensi yang ada terutama untuk melaksankan tugas sebagai lembaga pendidikan di masyarakat, maka sarjana UT harus berperan aktif dan sebagai pelopor dalam pembentukan suatu wadah kegiatan yaitu dengan membentuk Ikatan Sarjana di lingkungan tempat tinggalnya.

VI. PENUTUP
Demikian ide/gagasan yang dapat penulis sampaikan berkaitan Peranan Sarjana UT dalam mengembangkan diri untuk menyebarluaskan ilmu yang diperolehnya di UT maupun dalam lingkup pekerjaan yang dijalani sekarang ini dengan berperan aktif dan sebagai pelopor untuk pendirian Ikatan Sarjana (lingkup yang lebih luas) dilingkungan tempat tinggalnya atau membentuk Ikatan Alumni UT (lingkup terbatas).
Seorang sarjana sebagai anggota masyarakat juga adalah salah satu unsur dalam Pendidik di Masyarakat, diharapkan dapat berperan aktif untuk pembinaan dan kemajuan generasi muda dan anggota masyarakat lainnya dilingkungan tempat tinggalnya.
Dalam penulisan gagasan ini yang masih banyak kekurangannya, penulis berharap semoga memberikan manfaat bagi sesama alumni Universitas Terbuka, generasi muda maupun anggota masyarakat lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
DR. dr. WAHJOETOMO. 1997. PERGURUAN TINGGI PESANTREN – PENDIDIKAN ALTERNATIF MASA DEPAN. Jakarta : Gema Insani Press.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Penerbit Fokusmedia, Bandung, 2003.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 60 Tahun 1999, Tentang Pendidikan Tinggi, Bab II Pasal 2 Ayat 1.

 

Tentang Penulis

N A M A : JENTOT TRIWIYANTO, SE
ALAMAT : PONDOK UNGU PERMAI BLOK AD.14 NO. 21 BEKASI 17125 Telp. 021-70212669
Email : ika.utjakarta@gmail.com
Blog : www.akuntansiut.wordpress.com
TEMPAT /TGL LAHIR : SURAKARTA, 21 AGUSTUS 1966
PENDIDIKAN : Menyelesaikan Pendidikan dasar dan menengah di SDN Ngapeman No. 23 Surakarta, SMP N 3 Surakarta(1983) dan SMEA N 2 Surakarta pada tahun 1986. Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Jurusan Pendidikan Akuntansi di Universitas Sebelas Maret (UNS) – FKIP Surakarta pada Tahun 1989.
Menyelesaikan Pendidikan S1 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi di Universitas Terbuka (UT) – UPBJJ-Jakarta pada Tahun 2003.1.
Dalam Kepengurusan IKA UT Wilayah Jakarta, dipercaya sebagai Sekretaris.

 Photo by admin2 :