Oleh-Oleh Mudik Lebaran 1434 H

idulfitry1430-1


Lebaran atau Hari Raya Iedul Fithry merupakan momentum penting bagi kaum muslim karena mengandung makna religius yaitu bersilaturrahmi bersama keluarga sambil saling memaafkan. Bagi para perantau berlaku istilah mudik atau pulang ke kampung halaman untuk menemui keluarga masing-masing terutama ayah, ibu, kakak-adik termasuk kakek-nenek, paman bibi serta kerabat terdekat bahkan teman sepermainan dimasa kecil.
Mudik lebaran merupakan saat yang istimewa karena sebagai wahana melepas rasa rindu para perantau pada sejumlah sanak keluarga dan kerabat. Oleh sebab banyak kerabat dan handai-tolan yang perlu disambangi maka acara mudik lebaran membutuhkan tenggang waktu yang relatif longgar paling sedikit selama seminggu.
Lebaran 1434 H kali ini tenggang waktu liburan bagi pekerja khususnya PNS terasa agak longgar tersedia 3 hari cuti massal diawal pekan. Saya dan keluarga sejak jum’at malam 2 Agustus 2013 meluncur mudik ke Jawa Tengah dengan sebuah Blazer Montera. Kendaraan tersebut cukup longgar untuk mengangkut 5 penumpang pada perjalanan jauh. Start dari Tangerang jam 24.00 wib dan tiba di Blabak Magelang sabtu malam 3 Agustus 2013 jam 22.00 wib tanpa mengalami kemacetan yang berarti.
Saya berkumpul bersama keluarga mertua di Blabak Magelang selama 5 hari sambil sowan ke segenap keluarga pihak isteri dan berziarah ke makam keluarga besar Mbah Cokro Dimejo, yaitu kakek buyut yang notabene mantan Lurah Desa Senden di era revolusi.
Pertemuan dengan keluarga mertua selama 5 hari menjelang lebaran saya rasakan waktunya cukup proporsional, lalu mengingat bahwa saya perlu juga sowan kepada ayah-bunda di Sumatera Selatan maka pada hari rabu siang 7 Agustus 2013 yaitu H-1, saya pamit untuk terbang ke Palembang sementara anak-isteri berlebaran di Magelang hingga akhir masa libur mereka yaitu 18 Agustus 2013 yad.

Dari Blabak Magelang saya diantar anak-anak serta keponakan dengan kendaraan pribadi menuju bandara Adi Sucipto Yogyakarta lalu menumpang pesawat Citilink menuju Bandara Soekarno-Hatta. Dari Jakarta selanjutnya saya pindah menumpang pesawat Lion Air menuju Palembang. Oleh-oleh berbagai penganan khas Magelang 1 tas penuh saya tempatkan di bagasi pesawat.
Sekalipun dalam suasana lebaran harga tiket pesawat diatas rata-rata, namun dengan bantuan sistim pesan tiket online maka saya berhasil memilih harga tiket senilai hari-hari biasa. Pesan tiket via online pembayarannya dilakukan secara transfer kepada agen tiket online. Saya yakin dengan model beli tiket online jika telah merambah keberbagai lapisan masyarakat, maka agen penjualan tiket langsung yang biasa mangkal di ruko-ruko bisa kedodoran atau setidaknya akan merasakan “kesepian”. Pengguna jasa penerbangan bisa menghemat biaya dengan cara memilih sendiri deretan harga tiket termurah via internet berdasarkan jadwal penerbangan dan beragam jenis pesawat yang diinginkan. Oleh sebab itu dengan biaya kurang dari 1 juta rupiah saya bisa melampaui rute Jogja-Jakarta-Palembang.
Saya tiba di Bandara Sultan Mahmud Badarudin Palembang tepat malam lebaran. Jemputan sudah menanti dihalaman parkir bandara. Penjemput itu adalah seorang Dokter ahli Rontgen bernama Dr. Rosdiana MKes, beliau kakak kandung saya sendiri. Perjalanan menuju rumah orangtua hanya ditempuh setengah jam, memang bilangan Rimbo Kemuning relatif dekat dengan bandara.
Keesokan harinya seusai shalat ied para tetangga mulai berdatangan kerumah, ayah saya H. Dahlan (82 Th) dan ibu Hj. Halimah (76 th) adalah warga tertua disana. Tetamu terus berdatangan hingga malam hari, baik warga sekitar maupun sanak famili sesama suku Komering.
Mudik lebaran selalu saja memberi kesan, maklum perjumpaan dengan orang-orang tertentu lebih mungkin terjadi ketika lebaran dimana orang-orang sengaja datang untuk saling bersilaturrahmi.
Demikian pula halnya dengan saya saat mudik ke Palembang. Di tempat kediaman adik saya yang notabene seorang Arsitek telah berkunjung pula “saudara angkatnya” beserta keluarga, mereka tak lain adalah warga transmigrasi Mesuji Ogan Komering Ilir. Namanya Ibu Abdul Rahman, dia berasal dari daerah Malang Jawa timur. Pada awal 90-an mereka datang ke Lampung sebagai buruh PT. Gunung Madu (pabrik gula). Ketika itu pak Abdul Rahman sebagai buruh produksi dan ibu Abdul Rahman bertugas dibagian pembiakan kupu-kupu putih pembasmi hama kumbang tebu yang menjadi penyebab boleng-boleng pada batang tebu. Kupu-kupu putih dilepas disekitar tanaman tebu lalu menebarkan telurnya. Telur-telur itu kelak menetas dan melahirkan ulat-ulat kecil. Ulat kupu putih disukai kumbang tebu, bila datang ulat maka kumbang tebu akan menyantapnya namun kumbang itu akan mengalami keracunan lalu mampus. Serangga kupu putih sengaja dibiakkan guna mengatasi kumbang pengerat tebu, demikian penuturan bu Abdul Rahman mengenang pekerjaan masa lalunya.
Di areal perkebunan sawit, hama perusak yang perlu dipunahkan adalah tikus karena sering memakan buah sawit muda. Petani sawit memanfaatkan ular kobra, burung hantu dan burung elang untuk menangkapi tikus-tikus itu. Ular kobra yang dilepas adalah jenis tertentu yang ludahnya tak lagi berbisa dan aman bagi manusia. Di areal kebun sawit ular kobra, burung hantu dan burung elang adalah hewan-hewan yang dilindungi dan tak boleh ditangkap karena menolong kebun sawit petani dari ancaman tikus.
Ibu Abdul Rahman berkisah bahwa pada tahun 1990 ia dan suami ketika itu baru memiliki 2 anak masih balita. Mereka merenung bahwa minimnya penghasilan sebagai buruh pabrik gula dengan penghasilan hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup tak akan menjadikan mereka dapat memiliki rumah dan tanah yang layak. Kebulatan tekad dan semangat untuk hidup sebagai transmigran adalah pilihan untuk mencapai cita-cita ingin memiliki rumah dan kebun yang luas. Mereka lalu sepakat untuk ikut mendaftar sebagai warga transmigrasi dan selanjutnya menerima penempatan di lokasi transmigrasi Desa Kedungreja, Kecamatan Mesuji Raya Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan. Mereka dan para transmigran yang ketika itu berjumlah 200 kk masing-masing mendapat lahan 2 Ha untuk kebun dan ¼ Ha lahan untuk pekarangan rumah. Lahan jatah itu semula mereka tanami kelapa sawit dan kini telah berproduksi mencapai sekitar 500 tandan setiap bulannya. Setiap tandan memiliki berat berbeda, jika dipukul rata kira-kira per-tandan beratnya sekitar 25 Kg. Harga jual sawit kebun adalah Rp 1.400,-/Kg, dapat dikalkulasikan pendapatan kotor yang diperoleh adalah : 500 tandan/Bln x 25 Kg/tandan x Rp. 1400,-/Kg = Rp. 17.500.000,- (tujuh belas juta lima ratus ribu rupiah). Jika dikurangi dengan biaya perawatan tanaman, biaya pembersihan lahan serta upah kuli tuai, berarti tiap kepala keluarga transmigrasi sedikitnya masih dapat mengumpulkan uang sebanyak 10 juta rupiah per bulan. Pendapatan tersebut wajar mereka peroleh atas kerja berat yang dipejuangkan selama hampir 20 tahun.

Beberapa warga transmigran lain seperti halnya ibu Abdul Rahman juga menambah lahan mereka dengan cara membeli lahan teman atau tetangga yang “menyerah” dalam beratnya perjuangan memelihara pertumbuhan kebun sawit. Lahan-lahan yang tanaman sawitnya tak terawat atau mengalami gagal tumbuh itu mereka tanami karet. Sebanyak 2 Ha tanaman karet bu Abdul Rahman kini mulai berproduksi. Getah karet yang berhasil disadap mereka campur dengan TSP agar dapat membeku. Mereka tidak menjual getah karet dalam keadaan cair (lateks). Oleh sebab itu mereka tak perlu mencampurnya dengan larutan amoniak. Penyediaan produk perkebunan karet hanya berupa karet beku. Jika berupa lateks atau getah cair maka terkendala oleh adanya guyuran air hujan sewaktu-waktu yang dapat menyebabkan kerugian karena getah cair mudah tumpah.

Kebun karet keluarga bu Abdul Rahman menghasilkan sekitar 10 Kg karet beku setiap hari, dengan harga jual per kilogram Rp 8.000,- maka jika dikalkulasikan pendapatan dari produksi karet perbulan = 10 Kg/Hari x Rp 8.000,-/Kg x 30 Hari/Bln = Rp 2.400.000,- Pendapatan tersebut masih tergolong kecil mengingat bahwa hasil penyadapan lahan 2 Ha hanya dilakukan seorang anaknya yang lulusan Sekolah Menengah Pertanian. Kebun karet seluas 2 Ha setidaknya membutuhkan 3 orang tenaga penyadap. Hal tersebut berarti lahan tanaman karet mereka mampu menghasilkan produksi karet beku senilai 5 sampai 7 juta rupiah per bulan.
Bersakit-sakit dahulu (20 tahun) bersenang-senang kemudian, kebun sawit dan kebun karet saat ini sudah menghasilkan kesejahteraan bagi keluarga. Sekalipun pak Abdul Rahman telah tiada sejak 2 tahun lalu, namun seorang putera mereka kini dapat meneruskan pendidikan yang lebih tinggi yaitu Magister Agama Islam di sebuah Universitas di Lampung.
Anak-anak warga transmigran kini dapat mengenyam pendidikan formal diberbagai satuan pendidikan di wilayah Kecamatan Mesuji Raya Ogan Komering Ilir. Anak-anak itu ada yang bersekolah di Pondok Pesantren Darul Falah, ada pula yang di SD Negeri, SMP Negeri 1, SMA Negeri 1 dan di SMK Negeri 1 Mesuji Raya. Tak sedikit pula dari putera-puteri warga transmigran itu yang merantau dan bersekolah di kota-kota besar di Palembang, di Lampung, di Jakarta, di Jogjakarta dan sebagainya.

Sekalipun mereka lahir dan dibesarkan dilahan kebun sawit namun kesadaran untuk mengenyam pendidikan tinggi ternyata selalu ditumbuhkan orang tua mereka. Orang tua tak ingin kehidupan berat sebagai petani lantaran dulu tak mengenal bangku sekolah juga dialami oleh anak-anaknya. Kalau toh generasi penerus tersebut nantinya tetap ingin kembali bermukim di kebun sawit maka kebun sawit itu kelak akan dikelola atau diurus oleh anak yang sarjana.

Jaman selalu berobah, siapa tau besok lusa muncul anggota DPR, atau pejabat tinggi, hakim, jaksa, ahli akuntan, bidan, dokter, polisi, tentara dll dari balik semak kebun sawit atau dari balik pepohonan karet sebagai generasi penerus warga transmigran dan mereka juga adalah warga Mesuji Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan.[Gway].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *