Mancing Buaya Sungai Komering

M3361S-3034

Apa yang diucapkan kadang-kadang menjadi kenyataan. Dipagi itu kami, akas Aji, ombay, mama Sip, bik Munah, mang Usup, serta pak lobu Asan, serombongan keluarga tengah bersiap hendak menuju huma (persawahan).
Rencananya hendak melaksanakan panen sebab padi sudah mulai menguning dan mengantisipasi siapa tau esok atau lusa datang banjir. Jarak antara perkampungan dan persawahan cukup jauh. Sarana transfortasi yang memadai untuk digunakan berkendara menuju huma kami hanyalah biduk, sampan atau perahu.
Segala piranti sudah dinaikkan keatas perahu, juga nasi, gula, kopi, piring, rokok berikut bantal-tikar juga dibawa. Secara kebetulan gulainya cuma sayur asem plus iwak hasin saja, maka dari itu mama Sip dan mang Usup tampak rada sewot air mukanya.
“Semangat… ayo semangat !, kenapa pula nyium bau iwak hasin kok tiba-tiba sewot”, kata bik Munah pada mang Usup adik bungsunya.
Mang Usup dan mama Sip, mereka berdua itu tukang menjalankan perahu besar. Kadang mereka berdua bergantian tugas, ada yang pegang satang bambu pendorong, satunya lagi pegang pengayuh sebagai kemudi biduk.
Lantaran akan mengeluarkan tenaga ekstra itulah, mungkin lebih tepat jika mereka berdua diberi makan enak. Tapi mau bagaimana lagi… lauk yang dimiliki cuma sekedar iwak hasin.
“Sebodo amatlah… asalkan hatiku tenang !”, kata mang Usup nyahut omongan bik Munah itu.
Pak Lobu Asan menghibur kedua anak muda itu : “mudah-mudahan nanti kita nemu gulai sedap yang nongol dari dalam sungai … hahaha !”, katanya sambil terbahak-bahak.
Selesai berkemas dan berdo’a sebentar, akas Aji memerintahkan rombongan untuk segera bertolak meninggalkan pangkalan (tempat menambatkan perahu). Air sungai saat itu rada melimpah hingga bibir tebing. Satang bambu panjang sudah tercelup cukup dalam di air, ruasnya yang tak basah kena air hanya tinggal sehasta saja.
Namun karena sudah terbiasa menjalankan perahu, mang Usup dan mama Sip menghadapi keadaan itu hanya slow saja. “Hayooo kebut … om !” kata mama Sip pada mang Usup sambil berseloroh.
Perahu itu meluncur cepat, baru setengah jam saja rombongan sudah mulai jauh meninggalkan pangkalan yang berada ditengah perkampungan penduduk.
Bibik mulai membuangi air yang tampias masuk biduk. Akas tengah asyik klepas-klepus ngudut bersama Pak lobu Asan.
Tak lama kemudian ombai nyapa bik Munah… “aey nah… nah !, … lihatlah dulu apa itu yang nongol dari dalam air ?”
“mana sih… apa sih mak ?” sahut bik Munah sambil melihat kearah haluan biduk.
Mendengar ombai dan bik Munah demikian serius saudara yang lain lalu ikut mengarahkan pandangan kehaluan biduk.
“aey… rusaaa, … rusaaa !!, … tuh dia berenang kesana nyelinap dibalik akar pohon !” kata pak Lobu Asan sambil jongkok.
Mang Usup dan mama Sip mengarahkan biduk ketebing. Tiba-tiba… “clentuuumb !”, mama Sip nyebur duluan lalu disusul pak Lobu Asan sambil memegangi ujung tali perahu.
Rupanya seekor rusa hampir tenggelam. Kemungkinan rusa itu ingin nyeberang dari hutan ke arah perkampungan penduduk, namun dia tak kuasa naik tebing karena tepi tebing yang curam dan licin. Sehingga akibat kecapean, rusa itupun nyaris tenggelam.
Istilahnya “mubazir” kalau dibiarkan saja. Rusa yang sebesar kambing itu rejeki, lumayan buat lauk makan di huma (persawahan).
Leher rusa itu segera dicekal mama Sip, pak Lobu Asan lalu menambatkan tali perahu ke tepi sungai. Setelah itu mereka berdua memeganginya. Serta-merta akas menjulurkan parang panjang yang barusan diasah tadi pagi. “Segeralah sembelih !” perintah Akas pada pak Lobu Asan.
Ombai dan bik Munah demikian suka hatinya. “…. hehehe Sup !, sebentar lagi kalian akan kumasakkan gulai enak !”, kata bik Munah pada mang Usup yang sedang membasuh tangan.
Selesai menyembelih, rusa itu lalu diikatkan dibelakang perahu dan perjalanan kami lanjutkan. Rusa yang telah disembelih itu diseret dibelakang perahu. Warna air sungai menjadi merah oleh darah rusa. Dalam hatiku mudah-mudahan biduk kami ini nantinya tak dibuntuti buaya.
Tak seberapa lama perahu sudah sampai di huma. Kami semua naik ke pangkalan, semua barang bawaan dipindahkan ke saung (gubuk). Akas lebih dulu naik ke saung, gembok yang menggelantung dipintu baru saja dibukanya.
Awak rombongan pemanen semuanya seolah sudah mafhum bahwa pagi itu bakal repot dengan pekerjaan masing-masing.
Bik Munah segera menyalakan diang perapian dan mulai menjerang air. Ombay, nenek kami yang tua renta segera menata garam dan segala macam bumbu dapur.
Mama Sip dan pak Lobu Asan sibuk menggotong rusa, diusung mereka ke kolong saung yang relatif tinggi.
Mang Usup sibuk mengumpulkan kayu suluh. Diusungnya satu batang balok yang rada besar untuk menggantung rusa agar dapat dikuliti dengan mudah.
Walhasil bik Munah dan ombay bagian tukang masak. Mang Usup, mama Sip dan pak lobu Asan bagian nguliti rusa. Akas si kakek yang mirip “popeye” melihat-lihat sebentar rusa yang sedang dikuliti, lalu beliau mengajak saya berjalan dipematang sawah memperhatikan padi yang siap dipanen.
“Berapa banyak semuanya kas ?” tanyaku tentang padi yang akan dituai.
“Lumayan… lumayan, kira-kira kita bakal mendapat seratus kaleng blek beras dan dua puluh kaleng blek ketan !” kata akas seraya menyulutkan korek api pada sebatang rokok yang terselip dibibirnya.
Kami berdua berkitar mengelilingi huma sebentar, lalu balik menuju saung kembali.
Daging rusa sudah beres dicincang mama Sip, hanya tinggal dicuci saja. Mang Usup masih sibuk membuangi kotoran dalam usus. Pak Lobu Asan tengah berupaya mengeluarkan otak dari tempurung kepala rusa itu.
Ombay memanggil dari atas saung : “oyy … kalau kalian pengen ngopi nih sudah tersedia !”
Pak Lobu Asan mengusung usus rusa itu menuju pangkalan, lalu direndamnya dalam sungai memakai keranjang. Maksudnya supaya sisa-sisa kotoran menjadi benar-benar bersih. Setelah membasuh tangan, iapun ikut bergabung minum kopi bersama.
Walhasil pada sekitar jam 10 pagi, urusan memanen baru saja akan dimulai. Pekerjaan memanen padi menjadi bagian tugas lelaki. Lama tak ikut memanen padi, tanganku terasa pegal. Pacet dan lintah demikian banyak, ada dua/ tiga ekor yang nyelinap dilipat pahaku. Tapi karena sambil ngobrol, menuai padi bisa jalan terus. Banyak padi yang diperoleh,tumpukannya mulai menggunung.
Ombai dan bik Munah sibuk memasak daging rusa, mereka tak  ikut nolongi menuai padi sebab daging rusa harus segera dimasak,  kalau tidak maka akan membusuk.
Paha dan bagian kepala rusa itu sudah dicantelkan diatas perapian, diasapi supaya kering.
Pada hari itu ombay dan bik Munah membuat opor dan rendang sebagai lauk makan.
Mang Usup dan saya sibuk menggotong karung-karung padi, ditaruh dibawah saung. Ngos-ngosan napas mang Usup lagi pula dia sedang kehausan. Iapun menuju dapur minta diberi air minum.
“aeh Sup… cicipkan dulu kuah opor ini, apakah sudah pas belum citarasanya ?” kata ombay sambil menyodorkan sesendok kuah.
“hmmm… sedap mak !, pas sekali…. enak, … enak !” kata mang Usup sambil minta lagi sesendok.
“aeh… sudah benar-benar lapar kamu ya ?!, segeralah ajak yang lain naik ke saung untuk makan bersama karena masakan sudah siap !”
Saya menyusul akas dan pak lobu Asan, kuberitau bahwa acara makan siang sudah dapat dimulai, “ombai bilang segera ke saung untuk makan siang !”.
“Baiklah, selesai makan nanti pekerjaan kita lanjutkan lagi !” kata akas kepada pak lobu Asan.
Tengah hari itu kami makan bersama. Agaknya itu merupakan pengalaman makan terindah yang pernah kualami.
Makan nasi dari beras pulen, gulainya opor dan rendang daging rusa yang dapat nemu. Tukang masaknya pun ahli betapa sedapnya masakan ombay dan bik Munah… memang patut diacungi jempol.
Saya teringat perkataan pak lobu Asan tadi pagi : mudah-mudahan nanti kita nemu gulai enak yang nongol dari sungai, rupanya itu menjadi kenyataan.
Rusa yang nemu dari sungai sudah dimasak menjadi gulai lauk makan di huma…. kami akhirnya bisa makan besar.
“Pucuk dicinta, ulam tiba !” kata mang Usup sambil nambahkan nasi kepiringnya. Bukan main enaknya makan di huma, perutku terasa begitu kenyang.
Selesai makan lalu merokok, ngobrol soal perolehan padi. Di hari itu perolehan padi sekitar 10 karung.
Selesai makan kena angin sepoi-sepoi di saung, tak lama sayapun terlelap tidur.
Begitu terbangun, sayup-sayup terdengar suara beduk lohor dari kampung. Mereka turun menuju pangkalan untuk berwudhu.
Saya masih duduk disaung, … tiba-tiba terdengar suara akas memanggil :
“san…. asan !, lihatlah kemari, usus dalam kranjang kamu itu ada yang mencurinya”.
Sayapun ikut mendekati pangkalan, ternyata ada dua buaya tengah berebut usus rusa yang direndamkan pak lobu Asan pagi tadi. Kranjang itu ditarik-tarik buaya, isinya terbuyar keluar dan dilahap habis buaya itu.
“Aey… buaya ini pengen dikail rupanya !” kata pak lobu Asan berang.

Di huma ada sungai kecil yang lebarnya cuma dua meter, namun disitu banyak lubuk pusaran air tempat ikan berkumpul. Dimana tempat yang banyak ikan, biasanya sering didatangi buaya.
“Punya kail besar nggak kanda ?” tanya mang Usup pada pak lobu Asan.
“Tak ada ! kita bikin saja makai besi behel, dibawah saung ada sepotong behel !” kata pak lobu Asan.
Behel setengah meter dipotong tiga. Ujungnya diasah dengan kikir agar tajam. Pangkalnya ditekuk supaya tali nilon besar dapat dikaitkan. Tali nilon itu panjangnya sekitar sepuluh meter.
Menjelang sore persiapan mancing dimulai. Umpan kailnya adalah kulit Rusa. Mata kail dibalutkan dalam umpan lalu diletakkan ditepi sungai. Ujung tali diikatkan ke batang kelapa yang tumbuh di tepi kali. Dibiarkan mengambang diatas permukaan air, tanpa ditunggu.

Tengah malam saat keenakan ngobrol, tiba-tiba terdengar suara gemericik air sungai. Namun karena suasana gelapnya malam maka kami sepakat untuk membiarkan saja. Mama Sip menyalakan senter kearah sungai, “mungkin buaya itu sudah terkait pancing !” katanya sambil tersenyum. “Biarkan saja sip !, besok pagi barulah kita angkat !” kata akas. Kami menginap di huma yang kondisinya benar-benar alami, terdengar suara nyanyian jangkrik dan belalang disana-sini diselingi suara burung pungguk.

Pagi-pagi selesai cuci muka, kami sarapan bersama, nasi goreng dengan lauk hati rusa.
Eiiy… sedap nian masakan ombai kami. Nasi goreng tersebut diberinya ketumbar dan sedikit terasi.

Selesai sarapan, kami para pria segera turun dari saung menuju pangkalan, saya sudah menyiapkan parang. Pak lobu Asan membawa serampang. Mama Sip dan mang Usup baru saja melepas kain sarung dan hanya memakai celana pendek. Akas masih klepas-klepus ngudut, beliau sebagai komandan operasi sedangkan yang lainnya siap diberi perintah.
Mang Usup baru akan melepaskan tali kail yang diikatkan dibatang kelapa, namun ia ditegur akas… : “Tahan sebentar sup !, kita ngatur strategi dulu, jangan tergesa-gesa begitu !” kata akas mengingatkan.
Saya dan mang Usup ditugasi akas memegang tali kail dan menarik buaya itu agar terseret naik ditepi tebing. Mama Sip tukang gebuknya. Pak lobu Asan tukang tikam pakai serampang.

Selesai dari pengarahan sebentar itu, lalu kamipun mulai beraksi. Tali kail sudah dilepas mang Usup dari batang kelapa. Mungkin karena buaya itu merasakan adanya getaran pada tali kail, maka buaya itupun meronta. Saya ikut memegangi tali kail.
“Ayoo… satu … dua !…. tariiik !” kata akas memberi instruksi.
“Klantuuumb !!”, buaya itu beraksi sambil membalik badan. Kepalanya mulai nongol kepermukaan air. Kami menariknya terus, maka buaya itu kemudian terseret ke tebing. Ekornya dilibaskan ke kiri dan kanan. Panci dan kuali yang lupa disingkirkan dari pangkalan karena belum dibasuh, akhirnya pada terlempar kena libas ekor buaya yang hitam itu.
Sekejap kemudian … caakk !, tengkuk buaya itu ditusuk pak lobu Asan. Buaya meronta hebat, namun ia lalu digebuk pula oleh mama Sip pakai kayu gelam…. “caloguuubb !….. caloguuubb !”.

Eksekusi selesai, buaya itu akhirnya terkapar tak berkutik.
Besar sekali badan buaya tersebut, hampir mencapai dua meter. Dari bawah perutnya terdapat tanda bahwa itu adalah buaya jantan.
Sejak penangkapan seekor buaya di lubuk itu, saya jadi takut mandi dipangkalan. Tentu disungai masih ada seekor sebagai pasangannya, yaitu buaya betina. Hmmm…. takut aghh !

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *