Category Archives: PROFILE ALUMNI UT

Sang Istri Diplomat yang Penuh Semangat

Terlahir sebagai putri Minang membuat Surmaini Mansoer Mauna memiliki paras yang cantik dan ayu.

Ia lahir dan dibesarkan di Pariaman Sumatra Barat tepatnya pada tanggal 17 Mei 1947 yang silam. Wanita ayu ini adalah istri dari seorang diplomat, Prof. Dr. Boer Mauna dan di karuniai 4 orang putera. Ia adalah lulusan Sarjana Sosial Ilmu Politik dari Universitas Terbuka (UT) tahun 2014.

Aktif menjadi salah satu pengurus Kongres Wanita Indonesia membuatnya selalu terlihat awet muda dan bersemangat. Ingin menambah ilmu pengetahuan di bidang komunikasi adalah alasannya memilih kuliah di UT, karena perannya di Kowani cukup penting yaitu sebagi salah satu Koordinator Hubungan Luar Negeri dan Hubungan Masyarakat.

Ibu Mei begitu kerap ia dipanggil, senyum manis tak pernah hilang dari bibirnya ketika ia berkomunikasi, baik dengan rekan sejawatnya maupun dengan masyarakat luas. Dituturkannya dengan lembut bahwa selama menjadi mahasiswa UT banyak manfaat dan dampak langsung yang diperolehnya dalam aktifitasnya di Kowani, diantaranya kepercayaan diri yang semakin meningkat ketika berhubungan dengan banyak orang di Kowani.

Diusia yang tak lagi muda ini ia tak pernah kehilangan semangat untuk terus belajar menuntut ilmu dengan menjadi mahasiswa UT, dan pancaran kebahagiaan serta rasa bangga di wajah cantiknya terlihat jelas ketika ia menerima ucapan selamat dari Rektor UT di acara Wisuda UT.

Ibu Mei, semangat dan jiwa mudamu sungguh sangat menginspirasi.

 

 

(Sumber)

Disiplin, Kerja Keras, dan Motivasi Tinggi sebagai Kunci Meraih Cumlaude

Bagi Suranto, alumni Program Studi Magister Manajemen (PS MM) Program Pascasarjana Universitas Terbuka (PPs-UT) angkatan 2012.2 ini, berhasil menyelesaikan kuliah dengan dengan hasil sangat baik (IPK 4 dan predikat cum laude) merupakan anugerah dari Allah SWT yang sangat disyukuri. ”Saya bahagia dan bersyukur saat dinyatakan sebagai wisudawan terbaik pada masa wisuda periode III 2014 sehingga bisa berjabat tangan dengan Rektor dan Pembantu Rektor 1 di acara wisuda hari ini”, katanya.

Suranto memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah ke pasca sarjana dari mulai tahun 2011. Namun demikian keinginan pengajar di KPPN Bangko Merangin, Jambi pada seksi Verifikasi dan Akuntansi tersebut akhirnya baru terwujud pada tahun 2012 dengan mendaftar kuliah pada PS MM UT. Ia menjelaskan bahwa Program MM Reguler UT memang sangat tepat dipilih karena sistem pembelajarannya yang fleksibel, hanya ada 4 (empat) kali tutorial tatap muka (TTM) per semester, sedangkan sisanya, mahasiswa dapat belajar secara mandiri dengan waktu yang fleksibel melalui tutorial online (Tuton). Motivasi dari pengajar satker yang mulai tanggal 15 Februari 2014 telah pindah di seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal (MSKI) dari divisi Treasury Learning Center (TLC) KPPN Depkeu Semarang ini untuk kuliah di PS MM PPs-UT yaitu selain untuk menambah ilmu yang berguna bagi kedinasan dan masyarakat, juga dapat memotivasi anak tentang pentingnya menuntut jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Belajar di Universitas Terbuka menurut Suranto sangat menantang, penuh suka dan duka. ”Sukanya yaitu teman-teman seangkatan sangat kompak dan saling menyemangati. Begitu juga dengan pengelola PPs di UPBJJ-UT Jambi yang selalu memberikan motivasi dan informasi administrasi akademik yang dibutuhkan dengan baik”, katanya. “Dukanya, jarak tempuh untuk mengikuti TTM di UPBJJ-UT Jambi yang membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam dari lokasi tempat tinggal ”, imbuhnya.

Mengenai kiat mendapatkan predikat cum laude dan IPK 4, Suranto menjelaskan bahwa kriteria keberhasilan studi di UT yaitu harus mempunyai sikap disiplin, kerja keras, dan motivasi yang tinggi untuk belajar dengan tekun dan menyelesaikan setiap tugas matakuliah dengan baik dan tepat waktu. Ia menambahkan, setiap mahasiswa MM UT harus mengalokasikan waktu untuk belajar mandiri melalui Tuton dengan intensif, bahkan sampai larut malam. Di samping itu, harus berpartisipasi aktif baik pada Tuton maupun TTM. Sedangkan hal-hal yang harus diperhatikan saat penulisan Tesis/Tugas Akhir Program Magister (TAPM) yaitu harus banyak belajar, membaca referensi, mengikuti kaidah penulisan sesuai pedoman yang ada, dan rajin berkonsultasi dengan para pembimbing. Yang tidak kalah penting, menurutnya, yaitu harus berusaha menjalin komunikasi dengan pihak universitas, baik dengan pengelola PPs di UPBJJ-UT maupun dengan Prodi MM di UT Pusat. ’Saya sangat bangga dan berterima kasih terhadap Bapak/Ibu di UPBJJ-UT Jambi, pejabat dan staf di lingkungan PPs-UT, para dosen TTM, tutor Tuton, dan para pembimbing yang sangat banyak berperan bagi keberhasilan saya’.

Mengenai harapannya terhadap UT kedepan, Suranto menyatakan semoga UT ke depan semakin jaya, semakin luas berkontribusi dalam mencerdaskan bangsa, dan semoga UT dapat segera membuka program S3.

 

(Sumber)

Mengenal Ketua Pokjar Blitar Raya

aniek

Hari Minggu, 22 Nopember 2015 merupakan hari terakhir dari kegiatan Rakernas Ikatan Alumni Universitas Terbuka di Kawasan Perkantoran UT Pondok Cabe Tangerang Banten. Sesuai rencana bahwa pada hari Minggu itu, usai sarapan pagi dilanjutkan acara rekreasi ke Taman Balai Kota DKI. Namun rupanya sebagian peserta Rakernas mulai berkemas untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Jadi hanya sekitar 13 orang saja yang bersedia ikut rekreasi. Panitia menyiapkan 2 mobil dan berangkatlah mereka menuju Balai Kota Jakarta.

muaw2Sementara itu saya dan dua orang teman Pengurus IKAUT Pusat tidak ikut rekreasi karena akan meninjau kegiatan registrasi alumni baru di Gedung BAAPM. Memang di bulan November 2015 sedemikian padatnya kesibukan di Kawasan Perkantoran UT Pondok Cabe, disamping kegiatan Rakernas IKAUT dilaksanakan pula 2 kali acara wisuda yang jaraknya hanya selang 2 minggu.
FB_IMG_1448472745843

Acara rekreasi ke Balai Kota tersebut selesai jam 2 siang, dan rombongan kembali ke Wisma 2. Saya menyapa seorang diantara mereka yang baru turun dari kendaraan : “sudah selesai rekreasinya bu, … berkesan sekali tentunya ya ?
“Oh iya pak Hadi dan yang paling berkesan bagi saya adalah betapa lincahnya bu Hera (Herawati Sampurno, SE Panitia Rakernas) mengendalikan kemudi sedan yang saya tumpangi.” Begitu jawab bu Muawanah, SPd (nama panggilannya : bu Aniek) seorang utusan rakernas dari IKAUT Wilayah Malang yang notabene juga sebagai Ketua Pokjar Amanah Blitar Raya. Wawancarapun dimulai setelah beliau menyatakan kesediaannya.
aniek
12249684_496673880510765_5346599652152775550_n

Hadijaya : “Tolong ceritakan bagaimana awal mula bu Aniek mengenal UT ?”

Aniek Muawanah : “Dulu tahun 1998 saya bertugas sebagai guru setingkat sekolah dasar di sebuah Madrasah di wilayah Blitar. Sebetulnya saat itu saya sudah menyandang gelar sarjana dari perguruan tinggi non UT dan telah mengabdi selama 8 tahun. Permasalahannya adalah muncul aturan baru bahwa tenaga pengajar SD harus memiliki ijazah PGSD. Saya dan rekan-rekan senasib dan sepenanggungan mulai resah dan gelisah karena sebagai guru Madrasah yang belum memiliki ijazah PGSD.
Ditengah kebingungan itu bangkit keinginan untuk kuliah lagi supaya bisa memiliki ijazah PGSD, tapi gelap mau kuliah dimana ?, kuliah yang memungkinkan kami bisa tetap eksis mengajar tanpa terganggu oleh kegiatan perkuliahan… dimana itu ?
Pucuk dicinta ulam tiba, demikian pepatah mengatakan, suatu ketika di tahun 1998 saya beranjangsana ke kota Kediri secara tak sengaja saya melintas didepan Kantor Perwakilan Universitas Terbuka. Kantor tersebut merupakan Kantor Perwakilan UPBJJ Malang, “nah inikah dia kampus yang kucari selama ini ?” gumamku dalam hati. Sayapun seakan tersedot magnet dan segera menghampiri kantor tersebut untuk mencari jawabnya. Ternyata benar bahwa saya memungkinkan untuk bisa kuliah program studi PGSD disitu.
Tak membuang waktu lama, maka sayapun secepatnya mengumpulkan kawan-kawan guru yang senasib sepenanggungan yang berdomisili di wilayah Blitar untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa FKIP PGSD Universitas Terbuka.

blitar6Sebetulnya ada peluang bahwa para guru negeri yang telah memiliki masa kerja lebih dari lima tahun, perkuliahannya bisa dibiayai melalui proyek Pemerintah namun kemudahan tersebut tak berhasil kami peroleh dikarenakan masih kentalnya nepotisme saat itu. Oleh sebab demikian saya dan 32 rekan sesama guru berhimpun dalam suatu grup D2 PGSD Swadana (Biaya Sendiri) bahkan grup tersebut menjadi nama Kelompok Belajar (Pokjar) pertama yang saya dan rekan-rekan dirikan untuk mengelola kegiatan belajar bersama di Blitar. Dari jumlah tersebut 10 orang putus kuliah dengan alasan tak mampu mengikuti pembelajaran dan tak mampu dalam hal biaya sehingga tersisa 22 orang. Dari jumlah 22 orang yang mahasiswa aktif alhamdulillah ada 12 orang yang lulus tepat waktu termasuk saya. Kami mendapat undangan wisuda di Pondok Cabe pada tanggal 3 Juli 2001 dan diwisuda dengan gelar A.Ma.Pd secara penuh hidmat oleh Rektor UT saat itu Bapak Professor M. Atwi Suparman. Demikian terkesan dihati saya karena hari wisuda itu kebetulan pula bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang ke 30. Jadi saya masuk UT : Tahun 1998 Program Studi D2 PGSD setelah lulus tahun 2001 lalu melanjutkan lagi ke S1 pada tahun 2008 dan diwisuda lagi pada tahun 2010 begitu pak Hadi.”
muaw3
Hadijaya : “Wah saya jadi terharu dengan cerita ini bu. Apakah perolehan gelar A.Ma.Pd itu melancarkan usaha ibu untuk menjadi seorang guru PNS ?”

Aniek Muawanah : “Saat itu tahun 2002 saya dan 12 orang rekan lainnya sudah berusaha mengikuti test CPNS, test Guru Kontrak Daerah dan test Guru Bantu Pusat baik di Departemen Pendidikan maupun di Departemen Agama Kabupaten Blitar namun mengalami kendala. Walaupun sudah kami jelaskan bahwa ijazah D2 dan Akta-4 di UT itu sudah menjadi satu kesatuan. Akhirnya setelah tahun 2003 kami semua mengikuti test ulang dan berhasil direkrut sebagai CPNS Guru Bantu Pusat. Itulah perjuangan yang sudah kami jalankan dengan ijazah A.Ma.Pd dari UT. Nah ijazah dari UT tersebut ternyata bisa kami gunakan untuk kenaikan tingkat atau penyesuaian ijazah sehingga bagi kami para guru yang sukwan (sukarelawan) atau tenaga pengajar yang diperbantukan di swasta sudah masuk katagori “linier”, demikian pak Hadi.”

Hadijaya : “Tolong ibu jelaskan bagaimana pengalaman dalam mengelola Pokjar Blitar Raya selama ini ?”

Aniek Muawanah : “Pada mulanya Pokjar yang saya kelola bernama Pokjar Srengat, karena nama Srengat adalah nama Desa dimana saya dan rekan-rekan berdomisili. Setelah kami sukses diterima sebagai CPNS, banyak masyarakat dari kalangan guru yang mendaftarkan diri sebagai mahasiswa UT. Mereka mengusulkan pergantian nama Pokjar Srengat menjadi Pokjar Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar. Lalu seiring dengan perjalanan waktu perubahan nama terjadi lagi hingga saat ini namanya menjadi Pokjar Amanah Blitar Raya. Pokjar tersebut berbadan hokum dan terdaftar di Kantor Pengadilan Negeri Blitar.

blitar8Melalui pokjar tersebut kami selenggarakan tutorial tatap muka baik untuk Program Pendas maupun Non Pendas secara intensif sehingga para mahasiswa terbantu dalam mengatasi kesulitan belajar. Dari pokjar Amanah Blitar Raya hingga saat ini telah lahir kurang lebih 4 ribu Sarjana. Alhamdulillah hingga saat ini pokjar Amanah masih dipercaya masyarakat dalam membantu suksesnya penyelenggaraan kegiatan kuliah di Universitas Terbuka. Pada event wisuda bulan November 2015 di Pondok Cabe terkirim sebanyak 17 mahasiswa dari pokjar kami. Kehadiran saya di Pondok Cabe selain mengikuti acara Rakernas juga sambil mengawal para calon alumni UT dari Blitar.”
blitar1Hadijaya : “Disamping sebagai guru seni di Madrasah dan sebagai Pengelola Pokjar Amanah Blitar Raya, apakah jabatan yang ibu pegang di organisasi IKAUT Wilayah Malang ?”

Aniek Muawanah :
“Di Kepengurusan IKAUT Wilayah Malang saya menjabat sebagai Bendahara. Saya dan rekan-rekan pengurus lainnya aktif melakukan kegiatan sosialisasi dan promosi (Sosprom). Kamipun bergabung dalam mengelola program “Gerakan Sarjana Mandiri (GSM)” guna membantu anak-anak Kudran-4 (anak-anak kurang mampu) yang kami arahkan agar bisa kuliah di UT. Pada mulanya anak-anak itu kami approach untuk bekerja pada perusahaan masing-masing pengurus GSM agar mereka memiliki penghasilan tetap. Misalnya dipekerjakan di event organizer, ada yang di Yayasan Pendidikan Al Mukminin ada yang di usaha kuliner dan sebagainya sehingga mereka bisa kuliah di UT. Sampai saat ini jumlah mahasiswa berlatar belakang Kudran-4 itu yang mengikuti program GSM dari Wilayah Blitar dan Kediri mencapai 53 orang dan sedang dalam masa kuliah semester 3.
Saya juga sebagai Ketua Sanggar Seni Kreasi Baru di Blitar. Dalam upaya pelestarian budaya bangsa, dibawah binaan STKSI ( Sanggar Seni Kembang Sore) saya mendirikan Sanggar Seni Amanah, yang rutin tiap hari Jumat melaksanakan latihan tari.
blitar5Sebagai apresiasi kami kepada segenap mahasiswa yang turut serta dalam kegiatan ini, kami bekerja sama dengan sanggar tari kembang sore untuk melaksanakan diklat dan uji kompetensi tari, yang mana dalam kegiatan tersebut para peserta mendapatkan sertifikat setelah lolos dalam uji kompetensi tersebut.
Hasil dari kegiatan ini, selain sebagai upaya pelestarian budaya, kelak mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi yang dimilikinya melalui sanggar tari pribadi. Kegiatan ini kami laksanakan mulai tahun 2012 sampai dengan sekarang, dengan jumlah peserta sebanyak lima puluh orang peserta (data bulan nopember 2015).
blitar2Guna meningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, yang tidak hanya pintar dalam pengetahuan tetapi juga dalam penerapan ilmunya , maka perlu adanya sebuah kegiatan sebagai penyeimbang pengetahuannya. Kegiatan seni merupakan salah satu alterantif kami dalam mewujudkan hal tersebut. Dalam hal ini kami menitik beratkan dalam kegiatan Seni Musik. Usaha ini kami bentuk dan diperuntukkan bagi segenap mahasiswa Universita Terbuka serta segenap alumni naungan POKJAR Blitar Raya. Maka dari itu, untuk menampung kreativitas mereka, pada tahun 2004 saya mendirikan Grup Musik “ Harmoni” yang didalam manager kami berisikan para mahasiswa dan alumni UT POKJAR Blitar Raya.
Sebagai usaha mengembangkan dan melatih jiwa wirausahawan, kami menerima even-even music diberbagai acara, electone tunggal maupun group band.
Ada juga kegiatan usaha kuliner yang saya dirikan. Merupakan sebuah usaha yang didalamnya terdapat mahasiswa Universitas Terbuka. Meskipun usaha ini merupakan usaha pribadi namun dalam pelaksanaannya tidak meninggalkan aspek social dan kekeluargaan.

blitar7Dalam rangka pengembangan usaha ini, kami merekrut beberapa karyawan, beberapa diantaranya merupakan mahasiswa Universitas Terbuka, Kelompok Belajar Blitar Raya. Hal itu saya lakukan agar program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah tidak putus dan bisa dilaksanakan oleh semua pihak. Saya ingin merubah paradigma masyarakat yang notabene berangapan bahwa kuliah itu untuk golongan ningrat, priyayi, dan hanya kalangan tertentu saja yang dapat menumpuh pendidikan sarjana. Melalui usaha ini, mereka-mereka yang memiliki cita-cita yang tinggi dapat melanjutkan kuliah dengan gaji dari jerih payah mereka sendiri dan kelak mereka dapat membuat usaha secara mandiri tanpa diabatasi garis apapun.
Saat ini lima tenaga kerja kami, dua diantaranya merupakan mahasiswa Universitas Terbuka, yang memiliki cita-cita akan membuka beberapa cabang untuk memberdayakan Sumber Daya Manusia khususnya dari alumni IKA-UT.”
muaw1Hadijaya : “wah… sedemikian banyak kegiatan yang ibu tangani, sebagai guru madrasah, pengurus IKAUT Wilayah, sebagai ketua Pokjar Blitar Raya dan juga masih mengelola usaha kuliner. Bukan main… kami bangga memiliki rekan alumni yang demikian hebat sepak terjangnya, semoga menjadi contoh bagi rekan-rekan alumni dimana saja berada. Baiklah cukup sekian dulu bincang-bincangnya dan terimakasih atas kesediaan ibu untuk diwawancarai, sukses ya bu !”

MENGENAL PROFILE ALUMNI : DR. Ir. INDRA TJAHJANI, SS, MLA, MMSI

poster-2-UT-1

DR.Ir.Indra Tjahjani, SS, MLA, MMSI pada mulanya telah menyandang kesarjanaan di bidang Landscape Architecture dari Universitas Trisakti. Namun ketika Indra memutuskan untuk mengambil program D3 Bahasa Inggris di Universitas Terbuka, orangtuanya menyarankan agar menyelesaikan sampai S1. Sejak SD (dulu SR), sampai duduk diperguruan tinggi Indra selalu berusaha bekerja guna membiayai sekolah dan kuliahnya sendiri. Kondisi saat itu (waktu Indra masih SD) juga jaman krismon yang kondisinya lebih buruk dibandingkan saat ini. Oleh karena itu Indra ingin sekali menikmati sekolah dibiayai pihak lain, maka Indra mencari bea-siswa dan sekaligus anjangsana ke negara lain.
Pada 1988 Indra memperoleh bea siswa dari Pemerintah Australia (AIDAB) untuk melanjutkan S2 di bidang Landscape Design di Melbourne University –Australia. Sepulangnya dari Australia, Indra memperoleh tugas untuk menjadi Team Leader suatu Project Bank Dunia untuk membangun Jaringan Komunikasi dan Sistem Informasi Manajemen di LIPI.
11 tahun kemudian setelah Project selesai Indra memutuskan untuk mengambil program Magister Manajemen Sistem Informasi, untuk memperkuat pengetahuannya dibidang MIS, dan agar Indra dapat berbagi dengan mahasiswanya di Universitas Bina Nusantara sampai sekarang.
Indra sebenarnya sejak tahun 1978 Indra sudah membaktikan dirinya sebagai dosen di FALTL Universitas Trisakti. hingga tahun 2005. Indra kadang juga berbagi dengan mahasiswa Universitas Paramadina, apabila jadwal memberi kuliahnya tidak bersamaan dengan di Binus.
Pada tahun 2000, Indra memperoleh beasiswa IPRS dari University of Canberra-Australia untuk melanjutkan S3 dibidang Pelestarian Warisan Budaya, 2005 Indra berhasil memperoleh gelar Doctor of Environmental Planning. Sejak itu Indra selalu giat mengajak mahasiswanya untuk mengenal Warisan Budaya.
Dr.Ir.Indra Tjahjani,SS.MLA.MMSI adalah Pengurus Pusat IKAUT dan menjabat sebagai Ketua Subbidang Pameran Internasional.
Untuk mengikuti seluruh kegiatan yang dilalui beliau dan jika rekan alumni ada yang berminat mendukung Pelestarian Warisan Budaya silahkan klik http://mbatikyuuuk.com. Demikian sekilas info (Gway)

MENGENAL PROFIL ALUMNI : Dra. LINCE SIAHAAN, MSi

linc1

Mengawali penuturan kisah ini, Dra. Lince Siahaan, MSi menyampaikan segala hormat, puji dan rasa syukur yang dipanjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa yang telah menyertai perjalanan hidup atas diri dan keluarganya. Tuhan mengaruniakan 3 orang putera dan puteri bagi keluarga Lince. Dengan kehadiran buah hati tercinta ini, tidak pernah terbayangkan untuk dapat meningkatkan ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Sebelumnya Lince adalah lulusan SAA (Sekolah Asisten Apotheker) di Medan dan setelah menikah, ia bekerja di perusahaan farmasi. Lince menuturkan bahwa sebetulnya ia sangat merindukan kesempatan melanjutkan pendidikan, tapi kerepotan mengurus rumah tangga sangat menyita waktu karena sambil bekerja. Tidak ada waktu kalau kuliah di universitas konvensional, dan pada tahun 1984 Lince mendapat kabar sukacita bahwa Universitas Terbuka membuka kesempatan belajar jarak jauh. Lince langsung mendaftar dan diterima. Pada penerimaan perdana itu ada seleksi masuk Universitas Terbuka yang tidak jelas kriterianya tapi tanpa test.
Sambil bekerja di perusaaan farmasi di Jakarta, Lince melanjutkan kuliah ke FISIP Universitas Terbuka jurusan Administrasi Niaga. Banyak suka duka dalam perkuliahan di UT ini tapi beliau akui lebih banyak sukanya. Lince dapat berkenalan dengan teman-teman dengan latar belakang dan profesi yang berbeda. Di UT ini Lince dan kawan-kawannya membentuk kelompok belajar kemudian mengundang tutor ke tempat berkumpul di jl Kayu Putih IV Jakarta. Tutor yang diundang kadang-kadang penulis modul mata kuliah dan juga tutor istimewa lainnya seperti ibu Tian yang sekarang menjabat rektor UT. Dukanya paling kalau dapat nilai kurang memuaskan padahal belajarnya sudah sungguh-sungguh.
Lince menyelesaikan pendidikan di UT akhir tahun 1989 dan menjadi wisudawan angkatan ke- 2 pada tanggal 1 Maret 1990. Setelah lulus S1, Lince bersama beberapa orang lulusan UT membuka kantor di Jl Raya Bekasi Timur dengan menyediakan fasilitas tutorial swasta, Lince menjadi salah seorang tutor disana.
Tahun 1999 Lince melanjutkan pendidikan ke Magister FISIP Universitas Indonesia jurusan kekhususan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dan menyelesaikannya sampai lulus tahun 2001 sebagai angkatan ke-3.
Setelah anak-anak beliau beranjak dewasa, Dra. Lince Siahaan, MSi mengisi waktu luang dengan bekerja di perusahaan farmasi sambil menjalankan usaha tenunan songket dan ulos yang pada mulanya hanya sebagai hobby untuk koleksi lalu meningkat menjadi profit oriented business dengan mengikuti pameran-pameran produksi hand made. Setelah pensiun dari perusahaan farmasi, Lince lebih serius mengembangkan tenunan songket dan ulos sebagai bisnis utama. Lince mengadopsi desain songket produksi sendiri dari berbagai motif tenunan, dari gambar-gambar flora dan fauna yang ada di Indonesia. Lince memberi nama produksi songket tersebut “motif nusantara”.
Dra. Lince Siahaan MSi adalah Pengurus Pusat IKAUT dan menjabat sebagai Ketua Bidang Fasilitasi Kegiatan.
Andaikata rekan alumni ada yang berminat melihat produksi Lince, secara terbuka beliau persilahkan menghubungi nomor hp 0816869321. Sebagai ungkapan terima kasihnya kepada Universitas Terbuka, Lince menyertakan beberapa foto hasil karya itu. [Gway]