Category Archives: PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT

Linda Agum Gumelar membuka Pelatihan Hydroponic IKA-UT

Dalam rangka memperingati HUT RI Ke-73, Pengurus Pusat IKA UT bekerjasama dengan Pengurus Wilayah IKA UT Bogor menyelenggarakan Pelatihan Hydroponic.

Pelatihan yang dihadiri 48 peserta dari Jakarta, Bogor, Cirebon, Tangerang ini dibuka oleh Ketua Umum IKA UT, Linda Agum Gumelar.

Pelatihan ini merupakan bukti nyata keaktifan alumni dalam mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Diharapkan dengan adanya pelatihan ini dapat meningkatkan kemandirian perekonomian keluarga.

 

 

IKA UT Peduli Gempa Lombok

 

 

 

 

 

 

Penyaluran donasi IKA UT untuk korban Gempa di Lombok via IKA UT Mataram (Lombok) bekerjasama dengan UPBJJ UT Mataram.

Bantuan yang diberikan berupa sembako, air mineral, selimut, baju anak dan wanita, pembalut, obat2an.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur dari Pengurus Pusat IKA UT, Pengurus Wilayah IKA UT, UPBJJ UT Mataram, alumni dan mahasiswa yang telah berpartisipasi.

Tidak lupa kami sampaikan terima kasih untuk UPBJJ UT Mataram dan TNI AL yang telah memfasilitasi transportasi menuju lokasi pengungsian.

Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat & meringankan beban saudara/i kita yang tertimpa musibah Gempa di Lombok. (YV/Hms)

Karakterisasi Arc Furnace

IMG_3841qw
Hadijaya, Alumni Prodi Pendidikan Kimia FKIP UT UPBJJ Jakarta

Abstrak
Telah dilakukan karakterisasi Arc Furnace melalui percobaan peleburan beberapa spesimen logam seperti SS-304, AlMg2, Mo serta menentukan besaran arus busur listrik yang diperlukan oleh masing-masing spesimen logam. Arc Furnace adalah salah satu sarana peleburan logam paduan untuk mencairkan logam dalam waktu singkat. Percobaan karakterisasi yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa untuk melelehkan logam SS-304 dibutuhkan arus busur listrik sebesar 85 Amper, AlMg2 50 Amper dan Mo 100 Amper. Aplikasinya dalam kegiatan litbang cukup handal karena dengan arus listrik kurang dari 100 Amper Arc Furnace dapat mencairkan logam bertitik lebur tinggi hanya dalam waktu singkat kurang dari 100 detik.

Latar belakang
Proses mengubah logam padat menjadi logam cair yang umum dilakukan pada industri pengecoran adalah dengan memberikan panas pembakaran dari bahan bakar terhadap logam dalam suatu tungku sampai titik lebur logam tercapai. Penggolongan tungku peleburan untuk berbagai bahan struktur dikelompokkan berdasarkan ukuran, bahan konstruksi, bentuk/ model, mobilitas, laju peleburan, metode penuangan dan sebagainya. Tungku peleburan bahan struktur menurut sumber panasnya dibagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu kelompok tungku peleburan dengan pembakaran api dan kelompok tungku peleburan dengan pembakaran listrik. Tungku peleburan dengan pembakaran listrik terbagi 3 (tiga) jenis yaitu Tungku Induksi, Tungku Resistance dan Tungku Busur listrik (Arc Furnace). Pada Tungku Induksi perolehan panas adalah karena adanya arus berputar yang mengalir melalui konduktor sehingga timbul suatu medan magnet. Arus medan magnet menembus logam, makin besar arus yang dialirkan makin besar pula panas yang dibangkitkan. Pada tungku Resistance, crusible sebagai cawan lebur dililit elemen pemanas yang dikenai arus listrik. Adanya pasokan arus yang tinggi menyebabkan kawat elemen panas membara dan logam yang berada didalam cawan menjadi leleh. Sedangkan pada Arc Furnace, peleburan logam terjadi akibat adanya arus pendek dari elektroda yang terpasang ditepi cawan lebur. Arc Furnace dalam hal ini adalah termasuk jenis Tungku Busur Listrik.
Arc Furnace biasanya digunakan untuk melelehkan logam-Iogam bahan struktur bertitik lebur tinggi. Besarnya arus busur Iistrik yang dibutuhkan setiap spesimen logam sangat bervariasi tergantung pada tinggi rendahnya derajat titik lebur masing-masing logam. Agar peleburan logam dengan arus busur Iistrik terlaksana secara efisien (hemat listrik), maka pada percobaan karakterisasi tersebut dilakukan metode trial and error yaitu masing-masing spesimen logam diberi pasokan arus rendah sampai tinggi sehingga dari setiap spesimen logam yang dilelehkan dapat ditetapkan kebutuhan arus Iistrik dalam batas optimum (tegangan Iistrik tidak berlebihan namun spesimen logam dapat meleleh dalam tempo relatif singkat).

Tujuan
Karakterisasi Arc Furnace dilakukan dengan tujuan untuk mengefisienkan pemakaian arus Iistrik, memahami karakteristik Arc Furnace yang berkaitan dengan kinerjanya.

Tata Kerja
1. Bahan percobaan
Bahan struktur yang digunakan untuk trial and error pencairan diantaranya adalah paduan Aluminium Magnesium (AlMg2), Molibdenum (Mo) dan Stainless Steel (SS-304).

2. Data Teknis Tungku
Model : 5SA Single Arc
Spesitikasi : Daya Iistrik 300 Amphere, 32 Volt (Welding current)
Air 1 g.p.m, Gas innert (Argon) 30 psig
Suhu busur Iistrik 3500 C.

3. Komponen tungku :
1. Power supply, terdapat pada Weld Machine
2. Selang air pendingin
3. Tabung dan saluran gas innert
4. Selang gas buang
5. Glass tube Weld chamber
6. Pompa vacum

4. Persiapan awal
Sebelum tungku dioperasikan, kondisi awal yang harus dipersiapkan terlebih dulu antara lain mencakup suplay media air pendingin bertekanan 40 sampai 50 psi (3,5 bar); gas argon dalam tabung yang memiliki kemurnian 99,99 % lengkap dengan regulatornya serta catudaya listrik dengan tegangan 380 V / 50 Hz 3 phase 40 A.

5. Instalasi
Langkah berikutnya adalah melakukan penyambungan (instal) bagian-bagian dari komonen utama tungku tersebut yang meliputi :
1. Menghubungkan kabel elektrode (bewama merah) dari output power supply ke terminal pada stringer (katoda) dan ke terminal pada chamber (anoda), kabel yang bertanda sama masing-masing disatukan (misal kabel sama-sama bertanda A).
2. Selang pompa vakum ditempatkan pada vacuum port pada chamber.
3. Regulator gas argon dihubungkan dengan inlet gas pada chamber.
4. Memastikan apakah semua kabel telah terhubung dengan benar.
5. Pastikan bahwa catudaya listrik dalam posisi OFF dan REMOTE.
6. Pastikan bahwa tombol pengatur pasokan daya Iistrik pada posisi MIN.
7. Pastikan bahwa katup tabung gas argon dan regulatomya pada posisi tertutup.
8. Sampel yang akan dilebur dimasukkan pada hearth lalu klem bagian bawah chamber dijepitkan dengan baik.
9. Katup vakum pada posisi ON dan hidupkan.

Arc0Gambar 1. Penampang ruang chamber tempat peleburan spesimen logam

6. Cara Kerja
Percobaan peleburan berbagai jenis material reaktor suhu tinggi, pelaksanaannya dimulai dengan menempatkan sampel pada ruang peleburan (electrode chamber), mengalirkan air pendingin, menghidupkan pompa vacum untuk mengosongkan udara diruang peleburan, mengalirkan gas argon ke ruang peleburan, menghidupkan catu daya listrik pada centorr furnace, mengatur besar arus yang diperlukan untuk masing-masing sampel, menyetir tungkai elektrode agar menyentuh sampel hingga sampel logam meleleh. Pada percobaan tersebut dilakukan pendataan besaran arus Iistrik (ampere) dan pengukuran durasi (lamanya) waktu pelaksanaan peleburan dalam satuan detik. Suhu peleburan tidak dapat diukur langsung mengingat chamber tertutup dan konstruksi Arc Furnace tidak memungkinkan masuknya probe termokopel. Sedangkan output air pendingin dari bejana peleburan diukur dalam setiap Iangkah peleburan.

Hasil dan Pembahasan
Percobaan peleburan yang dilakukan terhadap sampel logam paduan yaitu paduan AlMg2, Mo dan SS304 yang masing-masing memiliki perbedaan titik leleh, dengan memberikan variasi besaran arus listrik sebesar 50 Amper; 75 Amper, 85 Amper dan 100 Amper maka telah didapatkan data-data seperti pada tabel-1 sampai tabel-4 pada lampiran.

Arc1Gambar 2. Hubungan antara arus busur listrik terhadap durasi peleburan logam

Berdasarkan Gambar-2, yaitu hubungan antara arus busur listrik terhadap lamanya durasi peleburan, tampak bahwa dengan pasokan arus busur listrik yang tinggi menyebabkan terjadinya peningkatan rambat panas yang cepat dan titik cair logam cepat tercapai dalam waktu singkat. Oleh sebab itu makin tinggi pasokan arus listrik maka durasi peleburan makin singkat, begitupun sebaliknya.

Arc2Gambar 3. Hubungan antara arus busur listrik terhadap suhu output air pendingin

Berdasarkan Gambar-3, tampak bahwa makin tinggi pasokan arus listrik, makin tinggi pula suhu output air pendingin begitu pula sebaliknya. Pasokan arus listrik yang tinggi menyebabkan terjadi peningkatan temperatur di ruang chamber. Fungsi air pendingin adalah menyerap kelebihan panas pada dinding chamber agar chamber berbahan dasar Tembaga tersebut tidak ikut meleleh ketika terjadi kontak panas dengan sampel logam yang dilebur. Pasokan air pendingin dan laju aliran perlu diperhatikan agar keselamatan chamber lebih terjamin.

Arc3Gambar 4. Pengaruh massa spesimen logam terhadap durasi peleburan

Berdasarkan Gambar-4 untuk specimen logam SS304 dengan masa yang sama yaitu 8,5 gram, tampak bahwa pemberian arus berpengaruh sekali terhadap kecepatan waktu lebur. Pada pemberian arus rendah (75 Ampere) membutuhkan waktu lebur 60 detik dan makin tinggi arus (100 Ampere) peleburan hanya membutuhkan waktu 40 detik.
Konduktivitas Iistrik merupakan karakteristik khas logam karena logam memiliki elektron yang dapat bergerak oIeh adanya potensial Iistrik. Konduktivitas terjadi akibat pergerakan elektron-eiektron melalui kisi. Ketika potensial listrik tinggi elektron pada logam akan bergerak cepat, amplitudo getaran meningkat sehingga ikatan logam terlepas dalam hal ini logam mencair dengan cepat. Pergerakan ini meningkatkan energi sistem oleh karena perbedaan potensial listrik mempengaruhi kecepatan pergerakan elektron, dengan demikian dapat dipahami bahwa dengan pasokan arus tinggi maka durasi peleburan logam akan terjadi lebih cepat.

Kesimpulan
Perbedaan jumlah arus busur Iistrik dan waktu yang diperlukan Arc Furnace untuk melelehkan berbagai spesimen logam tergantung pada tinggi rendahnya titik lebur, besar kecilnya dimensi spesimen logam serta keterampilan teknisi pelaksana peleburan. Berdasarkan percobaan karakterisasi yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa untuk melelehkan logam SS-304 dibutuhkan arus busur listrik sebesar 85 Amper, AlMg2 50 Amper dan Mo 100 Amper. Aplikasinya dalam kegiatan litbang cukup handal karena dengan arus listrik kurang dari 100 Amper Arc Furnace dapat mencairkan logam bertitik lebur tinggi hanya dalam waktu singkat kurang dari 100 detik.

Pustaka
1.SINDON SUSANTO BE, “Peleburan Besi Tuang”, Proyek Pusat Pengembangan Industri Pengerjaan Logam, MIDC, Bandung, 1977
2.KW. VOHDIN Prof. DR. BASIR LATIEF, S. ZAIROEDDIN, “Mengolah Logam”, PT. Pradnya Paramita. Jakarta, 1978
3.KENJI OHJIWA Prof. DR, TATA SURDIA MS.Met.E.Ir, “Teknik Pengecoran Logam”. PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1980
4.DE ROSE, ALAN B, “Aluminum Casting Techologi”, American Found-rymen’s Society, Inc. Des Plaines, Illionis.

Lampiran

Tabel 1. Data hasil peleburan logam AlMg2; 660 C

ArcTabel1

Tabel 2. Data hasil peleburan logam SS304; 1535 C

ArcTabel2

Tabel 3. Data hasil peleburan logam Mo; 2620 C

ArcTabel3

Tabel 4. Data hasil peleburan SS304; 1535 C berdasarkan variasi arus dan massa spesimen

ArcTabel4

Disain Vacuum Furnace

vacfurHadijaya, Alumni Prodi Pendidikan Kimia FKIP UT UPBJJ Jakarta;  HP/WA : 08128727937

Pendahuluan
Penelitian material logam pada umumnya membahas mengenai perubahan strukturmikro, komposisi, kekuatan tarik, kekerasan, ketahanan korosi dan sebagainya yang banyak berhubungan dengan proses perlakuan panas (Anealing). Perubahan strukturmikro dan komposisi kimia logam setelah mengalami perlakuan panas akan mempengaruhi sifat mekanik. Penelitian tentang material yang mengalami proses anealing biasanya menghasilkan data karakteristik material yang hendak diketahui[1]. Anealing adalah suatu metode karakterisasi perlakuan panas material pada suhu, waktu dan kondisi tertentu. Suhu pemanasan biasanya hampir mendekati titik leleh material. Waktu pemanasan dapat berlangsung hingga 3 x 24 jam dalam kondisi gas inert (2,5 psig argon) maupun kondisi vacum ( 3 x 10-3 psig).
Dalam hal pelaksanaan percobaan proses anealing dengan kondisi gas inert maupun dalam suasana vacum diperlukan chamber sampel yang hampir sama. Pada proses anealing dengan kondisi gas inert, maka kedalam chamber sampel dimasukkan gas argon dengan debet tertentu sesuai kebutuhan dengan tujuan agar gas argon dapat mengusir oksigen yang berada di chamber sampel sehingga peristiwa oksidasi selama anealing dapat diatasi. Lain halnya pada proses anealing dengan kondisi vacum, udara didalam chamber sampel disedot dan dibuang keluar dan setiap saat gas yang terjadi akibat pemanasan itu diisap menggunakan pompa vacuum pada tekanan mendekati nol atmosflr sehingga peristiwa oksidasi selama anealing dapat dicegah. Dalam mendapatkan keadaan vacum yang sangat rendah, perlu dirancang suatu sistem/ rangkaian pengukur kevakuman dan teknik mengatasi perubahan tekanan vacum karena pengaruh perubahan suhu pemanasan chamber. Vacuum furnace tersebut dirancang untuk dapat beroperasi melalui sistim controller serta memiliki jangkauan suhu sekitar 1000 °C.
Perancangan vacum furnace dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan model vacum yang layak pakai dan bila diperlukan dapat dibuat sendiri guna menunjang percobaan perlakuan panas (anealing) berbagai material logam paduan.

Tehnik Konstruksi
Sejumlah bahan utama, bahan dukung dan komponen elektrikal yang dibutuhkan untuk menciptakan satu unit tungku vacuum dapat dilihat pada Tabel-1 dan 2. Sedangkan peralatan kerja yang diperlukan seperti pada Tabel-3.
Tahap awal yang akan dilakukan yaitu membuat badan furnace menggunakan bahan pelat logam setebal 3 mm. Pelat dipotong-potong, dibor pada bagian-bagian tertentu misalnya lubang lintasan kabel, lubang lintasan heating element dan lubang lintasan thermokopel. Selanjutnya tiap sisi sambungan di-las sehingga diperoleh kabinet berbentuk kubus (Gambar 1, 2 dan 3) yang terdiri dari 3 bagian, yaitu unit tube chamber berikut vacum; unit thermal (heater) dan unit electrical.

vacum1

vacum2-3-4

Unit Tube Chamber dan Vacum Mc Leod
Unit tube chamber adalah ruang yang disediakan untuk tempat pemanasan sample, berupa tabung SS-304 yang dirancang khusus. Memiliki lubang saluran gas masuk (melalui sisi bawah) dan lubang saluran gas keluar (melalui sisi atas tabung) seperti pada Gambar-1 dan 3. Tutup tabung dan sebagian dari panjang tabung dibuat berongga untuk menyalurkan air pendingin bertekanan, sehingga tutup tabung tak panas ketika furnace beroperasi. Tabung dilengkapi dengan termokopel tipe K sebagai alat ukur suhu anealing. Ketika tungku beroperasi, tabung anealing divacumkan lebih dahulu menggunakan pompa vacum mekanik dan diikuti pemakuman dengan pompa vacum difusi tipe Hg. Pada tahapan tersebut dapat dianggap bahwa kevacuman bagian dalam tabung mencapai 3×10-3 psig. Sedangkan disaat pelaksanaan pengukuran, udara dibiarkan masuk keruang D dengan katup simpang dua T berisi air raksa (Hg) yang mendapat tekanan keatas melalui pipa S (Gambar-4). Tabung anil memperoleh panas dari unit thermal dengan suhu dan waktu anil yang direncanakan sebelumnya[2]. Pompa vacuum atau aliran inert gas dimatikan dulu ketika akan membuka pintu tabung.

Unit Thermal (Heater)
Unit thermal (heater) adalah ruang sumber panas. Tempat lilitan heating element Khantal dan tempat head thermokopel. Bagian thermal ini dibuat secara konstruktif, kokoh dan tahan getaran. Selain itu juga dapat menahan panas sampai suhu 1000°C. Konstruksi bagian thermal terdiri dari 3 lapisan penahan panas, lapis paling dalam (lapis 1) adalah bata tahan api, lapis 2 adalah Unifiber Rock wool tipe R850 (Kao wool) dan lapis 3 (dinding luar) yaitu kabinet furnace. Untuk membuat lubang saluran gas keluar, yaitu lubang lintasan heating element serta lubang lintasan thermokopel maka bata tahan api dibor dulu kemudian masukkan keramic tube dilubang tersebut. Kawat heating element dan head thermokopel dipasang setelah pekerjaan pelapisan dinding penahan panas diselesaikan. Bata tahan api, unit fiber rockwool tipe R850 dipasang secara berurutan. Antara bata tahan api satu sama lainnya diperkuat dengan pasak dari ceramic tube agar bata tahan api tidak berjatuhan dan celah-celahnya yang renggang diisi dengan Refractories Durax supaya rapat dan faktor kehilangan panas dapat diperkecil[3]. Cup kabinet dipasang setelah pekerjaan lantai dan dinding termasuk heating element dan head thermokopel diselesaikan.

Unit Electrical
Bagian elektrikal adalah ruang yang disediakan untuk menempatkan beberapa komponen elektrikal seperti power supply, power regulator, temperature controller, ampheremeter, serta voltmeter. Tahap pekerjaan instalasi diawali setelah heating element dan head thermokopel terpasang di ruang thermal selanjutnya semua komponen elektrikal ditempatkan pada lubang kabinet yang tersedia disisi muka kabinet sedangkan power regulator ditempatkan didalam ruang kabinet. Keseluruhan komponen dihubungkan dengan power regulator. Dalam kaitan tersebut, power regulator berfungsi sebagai penerus arus listrik AC ke heating element dan arus DC ke temperatur controller. Thermokopel dihubungkan langsung ke temperatur controller (tidak melalui power regulator). Setelah semua komponen elektrikal terpasang selanjutnya kabel power supply dihubungkan dengan power regulator.

Perhitungan Heating Element
Perhitungan kawat heating element untuk jangkauan suhu 1000°C mengacu pada tabel Kanthal. Mengenai berapa panjang dan diameter lilitan kawat dihitung sebagai berikut :
Jika mengacu pada kondisi power supply yang tersedia, Tegangan; E = 220 Volt; Arus. i = 25 Amphere, maka Tahanan maksimum mengikuti Hukum Ohm[4] bahwa kuat arus (i) sebanding dengan tekanan (E) dan sebanding pula dengan kebalikan tahanan (R).

vacumaDari Tabel “Khantal-AF” kita dapatkan tahanan kawat elemen permeter (diameter kawat 2,2 mm) yaitu sebesar 0.366 Ω/M. Angka tersebut memberikan pengertian bahwa bila 1 meter kawat yang terbuat dari Pt-PtRh 13% dan penampangnya 2,2 mm maka tahanan kawat (f) adalah 0,366 Ohm. Konstanta Ct untuk pemakaian temperatur 1.000°C sebesar 1,06 diperoleh dari tabel yang sama. Konstanta Ct merupakan faktor pengali untuk mendapatkan tahanan kawat terkoreksi.

f’ = Ct.(f)
= 1,06 (0,366 Ω/M)
f’ = 0,388 Ω/M.

Selanjutnya kebutuhan panjang kawat (L) dihitung dengan cara Tahanan maksimum power supply yang tersedia (R) dibagi Tahanan kawat terkoreksi (f’) :

vacumbMengingat bahwa kawat heating element 22,68 meter akan dipasang disepanjang lubang unit themal dalam bentuk spiral berdiameter 0,30 meter maka, untuk mengetahui berapa jumlah lingkaran adalah dengan membagi panjang kawat terhadap (π diameter).

Jumlah lingkaran = (22,68 meter)/[3,14 (0,3 meter)] = 24 lingkaran
Sehingga diperoleh hasil = 24 lingkaran. Berdasarkan perhitungan tersebut lalu ditetapkan panjang sisi ruang Chamber menjadi 35 cm + toleransi 1 cm = 36 cm. Satu hal yang cukup prinsif bahwa dimensi ruang chamber yang relatif kecil akan menghasilkan kalor yang maksimal. Unit element tersebut merupakan rangkaian seri. Jika heating element menunjukkan arus listrik bekerja 25 Amphere dan tegangan 220 Volt (dapat dibaca dari voltmeter dan ampheremeter pada furnace) maka Jumlah kalor yang dilepaskan heating element ditentukan oleh jumlah daya listrik yang bekerja disepanjang kawat element, dalam hal ini heating element merupakan sumber panas[5].
Daya listrik; Watt = Volt x Amphere
= 220 x 25
= 5500 Watt = 5,5 kilo Watt.
Pada tabel konversi diketahui :
1 kilo Watt = 0,9476 Btu/sec
atau    1 kilo Watt = 3.411 Btu/hr
Daya 5,5 kilo Watt = q = 5,5 (3.411) Btu/hr
q = 18.762 Btu/hr

Hal ini berarti jumlah panas yang dihasilkan heating element (sumber panas) setiap jam sebesar 18,762 BTU. Tungku perlakuan panas biasanya digunakan berdasarkan kebutuhan temperatur antara 400°C – 700°C untuk pemakaian yang terus-menerus atau temperatur antara 700°C – 1000 °C untuk pemakaian berkala.

Kesimpulan
Disain Vacum Furnace yang memiliki jangkauan suhu sampai 1000°C telah diselesaikan. Perencanaan disusun berdasarkan fungsi dan kapasitas furnace yang diinginkan. Pemilihan komponen yang compatible serta mudah ditemukan dipasar lokal meliputi komponen inti seperti power regulator, temperature controller dan heating element. Pra rancangan ini berkaitan dengan model/ bentuk furnace, perhitungan kebutuhan kawat heating element, perhitungan kebutuhan pelapis penahan panas (batu tahan api, dan ceramic wool) serta perhitungan kalor ruang chamber. Vacum furnace dapat digunakan untuk keperluan anealing.

Pustaka
1. Books, Charlie R, Heat Treatment, Structure and Properties of Non-ferrous Alloys, ASM, Metal Park OHIO 44073, 1982.
2. Drs. Peter Soedojo, BSc, Pengantar Teknik Vakum, Universitas Gajahmada, 1977.
3. Brosur (Product Data Sheet); Unifiber Rockwool; Controller Temperature; Power Regulator; The series C of High  Quality Insulating Bricks; Kanthal; dll. Via PT.Putrawinong, 1997.
4. RM. Francis.D.Yury, Pokok-pokok Ilmu Elektronika untuk Keterampilan, M2S Bandung, 1984.
5. Holman, J.P., Heat Transfer 5th Edition, Mc.Graw-Hill International Book Co, 1981.

LAMPIRAN

Tabel 1. Daftar Peralatan kerja.

tabel 1 vacum

Tabel 2. Suku Cadang untuk pembuat Body Furnace

tabel 2 vacum

Tabel 3. Daftar Suku Cadang untuk Bagian Elektrikal

tabel 3 vacum

Teknologi Pangan Pada Pembuatan Permen Terong

Terong ialah tumbuhan pangan yang ditanam untuk buahnya. Ukuran buah terong berbeda-beda antara kecil hingga besar, bergantung kepada hasil budidaya. Buah terong mempunyai berbagai warna : ungu, hijau, dan putih. Buahnya biasa digunakan sebagai sayur untuk masakan.
Manfaat dari percobaan ini adalah untuk menyumbangkan informasi ilmu pengetahuan tentang teknologi pengolahan permen terong menjadi suatu pangan yang bernilai tambah serta disukai khalayak.
1. Alat yang digunakan :
– Pisau
– Baskom
– Kompor dan peralatan dapur
– Plastik tipis untuk pembungkus produk

2. Bahan
– Terong ungu 1 kg (pilih yang kecil kecil)
– Gula pasir 0,5 kg
– Vanila 1 bungkus
– Air bersih

terong1Bahan Baku Permen Terong

3.Cara pengolahan
– Siapkan 1 kg terong yang cukup muda lalu dipotong dan dibelah dadu
– Cuci dan rendam dalam air bersih
– Didihkan 4 liter air lalu larutkan 0,5 kg gula pasir, 1 bungkus vanili, dan masukkan terong yang telah disiapkan
– Proses perebusan dilakukan selama 45 menit atau sampai volume cairan gula mengering
– Selama perebusan tersebut diaduk terus secara merata
– Terong manis didinginkan dan siap dihidangkan atau dikemas dengan plastik tipis sebagai permen.

terong3 Diagram Alir Pengolahan Permen Terong

Dalam pembuatan permen terong, pemilihan buah terong yang segar merupakan faktor yang tak kalah pentingnya. Terong yang dipilih harus relatif muda berwarna ungu dan hal ini dapat diketahui dari warnanya yang belum begitu gelap. Terong yang warna ungunya agak pekat menandakan usianya sudah tua. Terong tua memiliki biji-biji yang cukup besar dan dapat mempengaruhi cita rasa saat dikunyah terlalu liat beda dengan terong muda.
Pemakaian gula pasir, hendaknya menggunakan gula produksi dalam negeri tipe SHS-1 (Super Head Sugar) yang memiliki butir relatif besar. Gula dalam negeri memiliki perbedaan dengan gula impor. Kelebihan gula dalam negeri adalah memiliki warna agak kekuningan dibanding gula impor. Warna kekuningan tersebut ikut mempengaruhi pembentukan karamel terutama pada saat berikatan dengan zat warna yang dikeluarkan oleh kulit terong. Hal ini sengaja dilakukan agar kesan warna coklat kehitaman pada produk terong benar-benar menyerupai tekstur warna korma tua yang telah banyak dikenal khalayak.

terong2Permen Terong siap dikemas/ dibungkus setelah dikeringkan

Pada proses pemasakan, terjadi peristiwa difusi dimana larutan glukosa dan vanili masuk kedalam daging terong sehingga mempengaruhi rasa serta kekenyalan yang mantap. Makin berkurang kadar airnya maka akan menghasilkan rasa manis yang tinggi pula sehingga menyerupai manisnya buah korma. Hal yang unik dari proses pengolahan permen terong yaitu pada proses pemasakan, dimana terjadi perisitiwa difusi larutan glukosa dan vanili masuk kedalam daging terong sehingga mempengaruhi rasa serta kekenyalan yang mantap
Disarankan agar penelitian dilanjutkan pada uji kadar gula, nilai gizi, kadar zat warna karoten serta antisipasi kemungkingan pertumbuhan mikroba.[Gway]

troongterrung

teerongteronng

Teknologi Pembuatan Mie Berbahan Dasar Pisang

Masyarakat Indonesia sudah banyak mengolah buah pisang menjadi kripik pisang, sale pisang, pisang molen. Mengingat bahwa pengolahan pisang menjadi mie masih belum dikenal luas oleh masyarakat dan terbilang baru, maka perlu kiranya diperkenalkan pula.

punti6 Gambar 1. Percobaan Pembuatan Mie Pisang

Penelitian dan percobaan pengolahan pisang ini dilakukan untuk memanfaatkan buah pisang menjadi mie yang bercita rasa sehingga dapat menyumbangkan perbendaharaan pangan yang bermanfaat bagi masyarakat. Penelitian dilakukan untuk menambah pengetahuan pengolahan sehingga menjadi lebih berguna bagi masyarakat dan dapat juga menambah perekonomian bila hasilnya dapat diperdagangkan.

Pisang merupakan tanaman yang dikenal oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Di dunia internasional pun telah menjadi komoditas ekspor dalam bentuk buah-buah segar, keripik pisang maupun tepung pisang. Selain mengandung karbohidrat pisang juga banyak mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh kita, seperti vitamin A dan B serta mengandung nilai energi yang tinggi. Pisang adalah tanaman yang peyebarannya sangat luas di dunia. Penyebaran pisang meluas dari dataran rendah sampai dataran tinggi, baik yang di budidayakan maupun yang di tanam sembarang di kebun atau di halaman. Komering Ulu Palembang hingga daerah Lampung merupakan penghasil pisang cukup banyak diwilayah Sumatera bagian Selatan.

Di daerah dengan hujan merata setiap tahun, produksi pisang dapat berlangsung tanpa mengenal musim.Indonesia, Kepulauan Pasifik, negara-negara Amerika Tengah dan Brasil dikenal sebagai negara utama pengekspor pisang. Masyarakat di negara-negara Afrika dan Amerika Latin dikenal sangat tinggi mengonsumsi pisang setiap tahunnya. Pisang juga menjadi komoditas ekspor terutama untuk golongan Cavendish dalam bentuk buah-buah segar, keripik pisang atau juga tepung pisang. Golongan plantain group yang beberapa jenisnya terdapat di Indonesia juga di jadikan komoditas ekspor tetapi bukan dalam bentuk olahan tepung pisang. Untuk menjadi bahan komoditas ekspor, selain jumlah hasil cukup besar, juga harus memenuhi standar yang di tentukan.

punti1

Gambar 2. Pisang Kepok

Berdasarkan cara konsumsi buahnya, pisang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu pisang meja (Dessert Banana) dan pisang olah (plantain, Cooking Banana). Pisang meja dikomsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang, sepeti pisang ambon, susu, raja, seribu dan sunripe. Pisang olahan dikomsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar atau dikolak, seperti pisang kepok, siam, kapas, tanduk dan uli. Buah pisang diolah menjadi berbagai produk, seperti sale, kue. Selain memberikan kontrribusi gizi lebih tinggi tinggi dari pada apel, pisang juga dapat menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Termasuk ketika otak mengalami keletihan.

Nilai energi pisang sekitar 136 kalori untuk setiap 100 gram, yang secara keseluruhan berasal dari karbohidrat. Nilai energi pisang dua kali lipat lebih tinggi dari pada apel. Apel dengan sama (100 gram) hanya mengandung 54 kalor. Karbohidrat pisang merupakan energi sedikit lebih lambat dibandingkan dengan gula pasir dan sirup, tetapi lebih cepat dari nasi, biscuit dan sejenis roti.

Kandungan energi pisang merupakan energi instan, yang mudah tersedia dalam waktu singkat, sehingga bermanfaat dalam menyediakan kebutuhan kalori sesaat. Karbohidrat pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap, sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat. Karbohidrat pisang merupakan cadangan energi yang sangat baik digunakan bagi tubuh.

Gula pisang merupakan gula buah, yaitu terdiri dari fruktosa yang mempunyai indek glikemic lebih rendah dibandingkan dengan glukosa, sehingga cukup baik sebagai penyimpanan energi karena sedikit lebih lambat dimetabolisme. Sehabis bekerja keras atau berpikir, selalu timbul kantuk. Keadaan ini merupakan tanda-tanda otak kekurangan energi, sehingga aktivitas secara biologis juga menurun. Glukosa tersebut terutama diperoleh dari sirkulasi darah otak karena glikogen sebagai cadangan glukosa sangat terbatas keberadaannya. Glukosa darah terutama didapat dari asupan makanan sumber korbohidrat. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, kalsium dan besi. Bila dibandingkan dengan jenis makanan nabati lain, mineral pisangf, khususnya besi, hampir seluruhnya (100 persen) dapat diserap tubuh.

Berdasarkan berat kering, kadar besi pisang mencapai 2 miligram per 100 gram dan seng 0,8 mg. bandingkan dengan apel, yang hanya mengandung 0,2 mg besi dan 0,1 mg seng untuk berat 100 gram. Kandungan vitaminnya sangat tinggi, terutama provitamin A, yaitu betakaroten, sebesar 45 mg per 100 gram berat kering, sedangkan pada apel hanya 15 mg. pisang juga mengandung vitamin B, yaitu tiamin, riboflavin, niasin dan vitamin B6 (piridoxin). Kandungan vitamin B6 pisang cukup tinggi, yaitu 8 seesar 0,5 mg per 100 gram. Selain berfungsi sebagai koenzim untuk beberapa reaksi dalam metabolisme protein, khususnya serotonin. Serotonin diyakini berperan aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak. Vitamin B6 juga berperan dalam metabolisme energi yang berasal dari karbohidrat. Peran vitamin B6 ini mendukung ketersediaan energi bagi otak untuk aktivitas sehari-hari. Namun, kandungan protein dan lemak pisang kurang bagus dan sangat rendah, yaitu hanya 2,3 persen. Meski demikian, kandungan lemak dan pisang masih lebih tinggi dari apel, yang hanya 0,3 persen.

Dalam pembuatan panganan atau makanan dari pisang, jenis pisang perlu diperhatikan karena setiap jenis pisang memiliki rasa, aroma dan kadar air yang berbeda. Contoh pada pembuatan keripik pisang, pisang yang digunakan pisang Ambon, dan pisang jenis Plantain, seperti pisang tanduk dan kepok. Pisang jenis ini lebih dipilih untuk digunakan karena kadar air yang dikandungnya lebih sedikit yakni 66,4% per 10 gram sedangkan pisang-pisang golongan Acuminata mengandung air 75,7% per 100 gram.
Membuat mie dengan memanfaatkan pisang sebagai bahan baku. Perbandingan terigu dengan pisang yang optimal adalah 2:1. Rasa mie cukup gurih, jika pisang kepok yang digunakan cukup masak dan masa garam yang ditambahkan dalam adonan proporsional. Mie pisang yang dimasak (rebus) akan memiliki tekstur kenyal. Mie pisang dikeringkan dalam microwave sebagai mie instan. Mie yang dikeringkan dapat disimpan sampai 2 pekan. Pisang memang dapat diolah menjadi mie dan baik untuk dikomsumsi.

punti8

Gambar 3. Praktek Memasak Mie goreng

Bahan, terdiri dari :
Pisang kepok; Tepung terigu; Minyak goreng; Telur ayam; Garam dapur; Kunyit; Jahe, Serai, Ketumbar dan Air secukupnya
Alat, terdiri dari :
Blender; Penggiling mie;
Pisau; Oven/microwave; Timbangan; Panci; Wadah/ Baskom; Peralatan memasak, dll.

punti2

Gambar 4. Adonan mie pisang yang sudah kalis (homogen)

Cara kerja
Pembuatan mie pisang ini menggunakan bahan dasar tepung terigu dan pisang kepok masak dengan perbandingan 2:1. Pisang yang digunakan terlebih dahulu direbus hingga lunak dan dapat dihaluskan atau dapat pula dilakukan dengan cara menghaluskan buah pisang menjadi bubur dengan menggunakan blender. Bubur pisang dimasukkan kedalam baskom kemudian dicampur dengan terigu, telur dan kunyit. Terus diaduk hingga tercampur rata dan menjadi adonan yang kenyal dan tidak lengket, selanjutnya lakukan penggilingan secara bertahap hingga adonan berbentuk mie. Jika minyak goreng dalam komposisi tersebut tidak optimal maka adonan mie yang dihasilkan sangat lengket, permukaannya tidak licin dan sulit digiling atau dicetak. Hanya dengan minyak yang cukup akan diperoleh hasil lebih baik.
punti3

Gambar 5. Menggiling Mie basah

punti4Gambar 6. Mie pisang yang masih basah baru selesai digiling

Mie basah tersebut boleh dikeringkan dalam oven jika menginginkan untuk disimpan beberapa hari atau langsung direbus jika ingin segera dikonsumsi. Setelah direbus lalu ditiriskan dan tempatkan dalam mangkuk.
Selanjutnya sediakan bumbu-bumbu untuk menambah citarasa. Bumbu terdiri dari minyak sayur, jahe, serai, merica, ketumbar dan garam yang kesemuanya itu dihaluskan dulu.
punti5

Gambar 7. Mie Pisang (ditumis) siap disantap

Untuk membuat mie goreng maka bumbu bersama minyak sayur tersebut dipanaskan diatas wajan hingga terasa aromanya lalu masukkan mie pisang sambil diaduk beberapa lama sampai bumbu benar-benar meresap. Jika menginginkan mie kuah dapat menambahkan air secukupnya. Mie pisang nikmatnya begitu terasa.
punti9

Gambar 8. Memblender pisang untuk menyiapkan adonan

Catatan :
Untuk mengikuti Pelatihan silahkan menghubungi Hadijaya melalui HP/ WA : 08128727937

Teknologi Pembuatan Saos Durian

saus2durenGambar 1. Kegiatan Pelatihan Program Bidang Pengembangan Teknologi Ikatan Alumni UT Pusat di Cilangkap Jakarta.

Saos durian adalah saos yang dibuat dari buah durian, merupakan salah satu penyedap masakan atau bumbu pelengkap campuran sambal, bumbu pepes ikan atau bumbu gulai ikan yang memiliki cita rasa yang lezat yang disukai masyarakat. Produk saos durian belum dikenal secara luas, sehingga diharapkan hasil penelitian ini menjadikan saos durian lebih dikenal masyarakat. Rasa asam pada produk saos durian menjadi ciri khas yang dikendalikan oleh jumlah garam yang diberikan serta masa inkubasi yang optimum. Dalam percobaan ini metode yang digunakan adalah hidrolisis garam, yaitu penambahan garam pada durian dan inkubasi selama 7 hari. Garam yang digunakan adalah garam halus yang masanya bervariasi yaitu 25 gram, 30 gram, dan 35 gram untuk 1000 gram daging buah durian . Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan masa garam yang menghasilkan saos durian dengan cita rasa yang baik adalah 30 gram garam dengan inkubasi selama 5 hari.

Durian adalah nama tumbuhan tropic yang berasal dari Asia Tenggara, nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Varian namanya yang juga popular adalah duren. Orang sunda menyebutnya dengan kadu. Tanaman durian termasuk marga (genus) durio, dari species durio zibethinus. Warna buahnya berbeda-beda dari hijau kekuning-kuningan, dan mempunyai bentuk dari bujur hingga bundar. Kulit buahnya berserabut dan permukaannya dipenuhi sudut tajam (duri). Buah durian memiliki rasa yang lezat dan baunya yang khas. Buah durian memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena harganya tidak pernah terpengaruh dengan jenis buah yang lainnya. Setiap panen tiba harga buah durian selalu naik, pemasaran buah durian umumnya sudah melalui mata rantai yang agak panjang sehingga mengakibatkan harga durian ditingkat konsumen menjadi sangat tinggi.

saus4durensaus5durenGambar 2. Buah Durian lokal

Di Indonesia, tanaman durian terdapat diseluruh pelosok Jawa dan Sumatra sedangkan di Kalimantan dan di Irian Jaya umumnya hanya terdapat dihutan, disepanjang aliran sungai. Di dunia tanaman durian tersebar keseluruh Asia Tenggara dan Sri Langka, India Selatan hingga New Guenea. Khusus di Asia Tenggara, durian diusahakan dalam bentuk pohon yang dipelihara intensif oleh Negara. Jumlah produksi durian di Filipina adalah 16.700 ton (2.030 ha), di Malaysia 262.000 (42.000 ha) dan di Thailand 444.500 ton (84.700 ha) pada tahun 1987 – 1988. Di Indonesia pada tahun yang sama mengahasilkan 199.361 ton (41.284 ha) dan pada tahun 1990 menghasilkan 275.717 ton (45.327 ha).
Tanaman durian termasuk family Bombaceae sebangsa pohon kapuk – kapukan dan yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Boschia, Coelostegia. Macam Variates durian yang tersebar di Nusantara antara lain adalah : Duren Sukun (Jawa Tengah), Petruk (Jawa Tengah), Sitokong (Betawi), Simas (Bogor) Sunan (Jepara), Kani (Thailand), Sidodol (Kalimantan Selatan), Tembaga (Komering Palembang) dan Sihijau (Kalimantan Selatan).

Durian merupakan buah yang mengandung berbagai protein, zat pati atau karbohidrat, zat gula buah dan lain – lain dimana pada proses pembusukan atau penguraian menimbulkan alkohol dan saos – saos amino misalnya aminomium asetat [CH3COONH] yang kurang disukai sebagian orang karena baunya sangat menyengat. Durian mengandung sejumlah karbohidrat dan juga banyak protein. Hal ini berarti buah durian mengandung banyak enzim dan komponen tambahan yang non protein sebagai aktivitas katalis, enzim semacam ini disebut Holoenzim. Bagian protein dari enzim disebut Apoenzim dan bagian nonprotein disebut Koenzim. Adanya aktivitas enzim pada buah durian menyebabkan proses pembusukan durian menimbulkan gas, daging buah menjadi saos dan timbul bau yang menyengat, aktivitas enzim dapat dihambat dengan menambahkan garam pada arilus atau daging buah durian sekaligus memberinya citarasa asam dan asin.

Pada bagian buah yang berwarna kekuning-kuningan terdapat senyawa dengan aroma paling tajam yaitu propanthiol defuthioter serta senyawa-senyawa lain yang menentukan rasa enak daging buahnya. Buah durian yang matang pada umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar. Selain dapat diolah menjadi kue durian, es krim durian, atau di olah menjadi dodol durian, buah durian juga dapat dijadikan sebagai campuran sambal, bumbu pepes ikan ataupun bumbu gulai ikan dengan terlebih dulu mengolahnya menjadi saos durian.
Dari hasil percobaan ini diharapkan masyarakat luas dapat lebih mengenal pemanfaatan durian sebagai penyedap masakan atau saos durian sehingga menambah khasanah masakan asli Indonesia. Penelitian dan percobaan pembuatan saos durian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh garam pada daging buah agar dapat dihasilkan saos durian yang mempunyai cita rasa sedap.

Manfaat dari penelitian adalah untuk menambah pengetahuan dibidang pangan khususnya pembuatan saos durian, dengan harapan dapat ikut dinikmati dan dikembangkan oleh masyarakat luas.

Dalam percobaan ini, dihipotesakan bahwa : keasaman pada arilus (daging buah durian) dipengaruhi oleh sedikit atau banyaknya massa garam yang ditambahkan serta lamanya masa penyimpanan (inkubasi).

Pada percobaan ini pengolahan saos durian menggunakan garam yang berfungsi untuk menghambat penguraian protein menjadi senyawa amino sehingga menjadi rasa saos. Pengamatan fenomena perubahan keasaman saos durian adalah bedasarkan variabel masa garam yang ditambahkan. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran pH (derajat keasaman) dan uji organoleptik (uji cita rasa)

1.Bahan bahan
-Buah Durian : 388,12 Kg
-Garam : 30 gram
-Bawang merah : 12,14 gr
-Cabe merah : 30.3 gr
-Kunyit : 8 gr

2.Alat – alat
Pisau, Toples, Timbangan, Blender, Sendok dan Kantong plastik

3. Cara kerja
1. Buah durian dibelah dengan pisau dan diambil isinya.
2. Dipisahkan daging dari bijinya dengan sendok , bijinya dibuang dan daging buah diambil.
3. Dibuat 3 (tiga) sample penelitian dengan massa garam yang bervariasi, yaitu 25 gram; 30 gram dan 35 gram.
4. Ketiga sample tersebut kemudian dicampur dengan cabe dan kunyit yang telah dihaluskan serta dibungkus dengan plastic lalu dimasukan ke dalam toples dan ditutup rapat. Kemudian di inkubasi (simpan) sampai 1 minggu.
5. Setelah pengingkubasian selesai, kemudian dilakukan uji organoleptik.
6. Saos durian yang sudah jadi dapat dibuat sambal atau sebagai campuran masakan lainnya yang sesuai selera.

Diagram_DurianGambar 3. Diagram alir percobaan

Pada percobaan ini, daging buah durian yang telah dipisahkan dari bijinya dibagi menjadi 3 variabel dengan jumlah yang sama banyaknya. Ketiga variabel tersebut kemudian diberi bumbu masing-masing dengan cabe dan kunyit yang telah dihancurkan dengan ukuran yang sama akan tetapi dengan jumlah garam yang berbeda. Setelah ketiga variabel dibungkus dengan plastik dengan rapat kemudian diinkubasi selama 1 minggu (7 hari). Pembungkusan ini dimaksudkan agar sample tidak terkontaminasi dengan udara luar yang memungkinkan masuknya bakteri atau jamur yang akan mempengaruhi hasil inkubasi.

saus durenGambar 4. Produk akhir percobaan yaitu Saos Durian

Hasil inkubasi selama 7 hari tersebut dapat dilihat pada Tabel 1, bahwa semakin banyak garam yang diberikan maka tingkat keasaman (pH) saos durian semakin tinggi. Apabila diuji secara organoleptik (cita rasa) ternyata cita rasa dan aroma yang cukup baik ketika diberikan garam dengan massa 30 gram. Pengaruh banyak atau sedikitnya garam dapat dilhat pada Grafik 1, jika semakin banyak garam diberikan maka tingkat keasaman semakin rendah.

Tabel -1. Cita Rasa Saos Durian setelah 7 hari

MassaGaram_pH

pH_Massa_garam_KIR_IKAUT

Gambar 5. Hubungan Lama Inkubasi terhadap tingkat keasaman (pH)

Setelah diperoleh sampel saos yang cukup baik yaitu dengan massa garam 30 gram maka dilanjutkan dengan pengujian masa inkubasi terhadap cita rasa saos durian. Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa pada masa inkubasi selama 5 hari memberikan hasil yang cukup baik yang ditandai dengan aroma yang harum sekali.

Tabel-2. Pengaruh lamanya inkubasi terhadap keasaman saos durian untuk 30 gr garam dalam 388,12 gr arilus

Inkubasi_pH

 

pH_Inkubasi_KIR_IKAUT

Gambar 6. Hubungan massa (jumlah) garam yang ditambahkan terhadap perubahan keasaman (pH).

Untuk mengetahui hasil yang baik atau tidaknya dapat kita amati selama inkubasi melalui aroma tingkat keasamannya. Penambahan jumlah garam yang banyak pada arilus dapat menghambat terjadinya pembusukan akan tetapi berakibat saos durian kurang enak karena terlalu asin. Sebaliknya sedikit garam berakibat saos durian sangat asam karena aktivitas enzim tidak sepenuhnya dapat dihambat bedasarkan percobaan maka saos durian yang memiliki cita rasa terbaik adalah variabel 2 dengan masa inkubasi 5 hari.

Dalam penelitian pengolahan pengolahan saos sambal durian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa :
-Banyak sedikitnya garam memberikan pengaruh terhadap tingkat keasaman saos durian. Semakin banyak garam yang diberikan semakin tinggi tingkat keasaman saos durian. Sedangkan dilihat dari segi cita rasa, pada percobaan ini saos durian yang memiliki cita rasa yang baik/ harum sekali adalah dengan penambahan garam sebanyak 30 gram.
-Keasaman saos durian juga dipengaruhi oleh lamanya massa penyimpanan (inkubasi). Semakin lama masa inkubasi semakin rendah tingkat keasaman saos durian. Pada percobaan ini masa inkubasi yang optimal diperoleh pada hari kelima dengan cita rasa yang baik/harum sekali.
-Saos durian dapat menjadi ramuan sambal atau bumbu pepes ikan yang lezat cita rasanya sehingga menambah khazanah perbendaharaan masakan tradisional Indonesia.

saus1durenGambar 7. Kegiatan Pelatihan Di Cilangkap Jakarta

Catatan :
Untuk kegiatan Pelatihan silahkan hubungi Hadijaya via HP/ WA : 08128727937

Kunjungan Kasih untuk Ibu Ruri Wahyuni (Alumni PGSD UT)

20638261_1516271221765365_1568565437609349230_n

 

Sabtu, 5 Agustus 2017 beredar kabar di WA Group mengenai Alumni UT yang dikabarkan meninggal dunia dalam musibah kebakaran di Jati Pulo-Jakarta Pusat pada Jumat, 4 Agustus 2017.

Mendengar kabar tersebut Pengurus Pusat IKA UT melakukan pencarian informasi mengenai kebenaran berita tersebut. Berbekal alamat dari Media Online Nasional, IKA UT mendatangi TKP.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari tetangga dan anak pemilik rumah diketahui bahwa yang menjadi korban meninggal adalah pemilik rumah dan ketiga anaknya dimana Ibu Ruri (Alumni UT) mengontrak. Beliau bukanlah korban meninggal sebagaimana pemberitaan salah satu stasiun TV Nasional. Dari mereka juga diketahui bahwa Ibu Ruri adalah Guru di SDN 09 Pagi Cideng.

Selasa, 8 Agustus 2017 salah satu pengurus IKA UT berkunjung ke SD tempat Ibu Ruri mengajar untuk mengkonfirmasi informasi yang diterima. Dan akhirnya hari ini 9 Agustus 2017, IKA UT menyerahkan sejumlah donasi hasil ‘urunan’ pengurus.

Donasi diserahkan kepada Ibu Ruri oleh Bapak Purnomo selaku bidang Pengabdian Masyarakat IKA UT Pusat di dampingi Ibu Herawati dan Saudari Yohana sebagai perwakilan IKA UT Pusat. Penyerahan donasi disaksikan oleh Wakil Kepala Sekolah dan para Guru SDN 09 Pagi Cideng.

Setelah penyerahan donasi, Pengurus mengunjungi tempat tinggal baru Ibu Ruri tidak jauh dari Sekolah Beliau mengajar.

Semoga Ibu Ruri dan keluarga cepat pulih dari trauma, sehat dan dalam perlindunganNya selalu. Amin.

 

20663771_1516271481765339_4946215829501413419_n 20638912_1516272878431866_5878777079486956812_n

Bakti Sosial Untuk Korban Longsor Ponorogo

BAKTI SOSIAL

IKATAN ALUMNI UNIVERSITAS TERBUKA (IKA-UT) PUSAT & WILAYAH SURABAYA, KELUARGA BESAR UPBJJ UT SURABAYA DAN MAHASISWA

 

Untuk Korban Longsor Ponorogo

 09 April 2017

 

Oleh : Drs.H.Fatchur Rachman MS (Sekretaris IKA-UT Wilayah Surabaya)

 

Baksos IKA UT Surabaya

Baksos IKA UT Surabaya

 

Peristiwa longsornya Bukit Gede Desa Banaran, Pulung Ponorogo pada tanggal 01 April 2017 menyebabkan banyak korban tertimbun longsoran tanah. Warga Dusun Tangkil, Dusun Krajan, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo yang tertimbun hidup-hidup sebanyak 28 (dua puluh delapan) jiwa, disamping itu longsoran juga menyebabkan banyak rumah warga yang rusak. Warga yang terdampak di himbau untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

 

Peristiwa longsoran Bukit Gede ini menggerakkan hati para Pengurus Ikatan Alumni Universitas Terbuka (IKA-UT) Wilayah Surabaya untuk mengadakan Bakti Sosial. Kegiatan ini pun disambut baik oleh Bapak Teguh Prakoso S.Pd.,M.Hum. selaku Kepala UPBJJ-UT Surabaya, anggota IKA-UT Wilayah Surabaya beserta Mahasiswa, sampai hari  minggu  09 April 2017  bantuan yang terkumpul selain berupa barang juga berupa uang tunai lebih dari Rp.10 juta. Bapak Drs.H.Fatchur Rachman MS selaku Sekretaris IKA-UT Wilayah Surabaya ditunjuk sebagai Koordinator & Pelaksana penyaluran bantuan tersebut ke derah yang membutuhkan, beserta para Pengurus IKA-UT Wilayah Surabaya secepatnya menyiapkan bantuan berupa SEMBAKO seperti beras, gula, mie instan, air mineral, kopi, snack, bubur bayi dan susu untuk anak-anak. Selain itu bantuan juga berupa OBAT-OBATAN dan berupa BARANG seperti pakaian dewasa & anak-anak, perlengkapan mandi & mencuci, celana dalam dewasa & anak-anak, jarit, mukena, jilbab, handuk, baju koko, daster wanita & anak-anak, sajadah, sarung, handuk, pembalut wanita, popok bayi, selimut dan sandal jepit. Karena di pengungsian juga terdapat anak-anak, pengurus pun memberikan bingkisan,  2 Karton Susu, 2 karton Snack, buku cerita, buku mewarnai, pensil warna, krayon, tas anak-anak. Sedangkan untuk pengungsi dewasa tidak lupa dibawakan Buku Yasin & Tahlil.

 

 

Pada hari Minggu, tanggal 09 April 2017 rombongan (Ketua, Sekretaris dan Pengurus lainnya) didampingi Ibu Dra.Titik Setyowati M.Pd, selaku PW UT Kabupaten Ponorogo berangkat dari Surabaya pukul 05.00 WIB menuju Ponorogo. Dalam perjalanan rombongan berkoordinasi dengan Pejabat Diknas Kab.Ponorogo & Tutor UT Pokjar Ponorogo (Bapak Bambang dkk) yang akan memandu rombongan menuju Posko Bencana di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo yang daerahnya  tersebut memerlukan banyak bantuan. Rombongan tidak lupa  mampir di Madiun untuk menjemput Bpk.Drs.H.Agus Prasetyo M.Si selaku PW UT Kota Madiun yang juga ikut mendampingi rombongan sekaligus makan pagi pukul 11.00 WIB. Selanjutnya rombongan meneruskan perjalanan ke Ponorogo  menuju SMP Negeri 5 Ponorogo dan tiba  pukul 12.00 WIB untuk bertemu Bapak Bambang Dkk sekaligus menjalankan Sholat Dhuhur dijamak dengan Ashar.

 

Perjalanan dilanjutkan dengan dipandu  3 orang dari Kantor Diknas Ponorogo/Tutor UT Surabaya. Selama perjalanan menuju lokasi bencana terlihat bukit-bukit yang menghijau dengan tanaman perdu, kebun jagung  dan tanaman penduduk yang sangat subur namun tidak terlihat pohon-pohon besar layaknya hutan yang berfungsi menahan tanah perbukitan dari bahaya longsor. Tampak pula posko-posko yang didirikan di sepanjang jalur menuju tempat bencana, para sukarelawan beserta tentara dan Polisi yang mengarahkan rombongan yang akan menyerahkan bantuan. Sesampai di lokasi rombongan disarankan ke Posko Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo yang berada di Balai  Desa Banaran yang dekat dengan tempat Pengungsian. Para Pengungsi ini  ditempatkan di dekat balai desa Banaran, sambil menunggu relokasi permanen. Posko Dinas Sosial ini merupakan pusat penampungan bantuan terdekat dengan daerah bencana, di kanan kiri jalan juga masih terlihat sepanduk larangan memasuki area bencana.

 

Rombongan tiba di daerah bencana pukul 13.30 WIB, disana rombongan juga bertemu dengan rombongan penyumbang dari marinir surabaya, dari berbagai instansi dan LSM lainnya. Di posko yang terletak di Balai Desa Banaran tersebut, bantuan berupa sembako dan barang-barang oleh Bapak Drs.H.Fatchur Rachman MS beserta perwakilan Pengurus IKA-UT Surabaya, perwakilan keluarga besar UPBJJ UT Surabaya diserahkan kepada Pejabat dan Staf Dinas Sosial Kabupten Ponorogo Ibu Dyah Fitria selaku Koordinator Penampungan bantuan. Bantuan tersebut rencananya  akan disalurkan  langsung kepada para pengungsi yang daerahnya masih terisoler karena pemukiman nya tidak aman untuk ditempati. ”Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh Pengurus IKA-UT Pusat & Wilayah Surabaya serta keluarga besar UPBJJ UT Surabaya atas bantuan yang telah diberikan, Insya Allah amanah ini akan  langsung kami salurkan kepada warga”, demikian ungkapan terima kasih Bapak Pejabat dari  Dinas Sosial Kabupten Ponorogo.

 

Selain itu bantuan berupa 80 bingkisan untuk anak-anak berupa buku-buku, tas sekolah, pensil warna, crayon, snack dan susu siap saji diserahkan oleh Bapak Drs.H.Fatchur Rachman MS beserta perwakilan Pengurus IKA-UT Wilayah Surabaya kepada Ibu Dyah Fitria Staf Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo. ”Kami sangat bersyukur & berterima kasih sekali kepada seluruh donatur karena disaat bencana seperti ini, anak-anak masih mendapatkan perhatian, terima kasih atas bingkisan yang telah  diberikan”, tutur Ibu Dyah Fitria. Begitu juga dengan Bapak Pejabat dari Dinas Sosial “Semoga segala amal donatur di balas oleh Allah SWT”.

 

Setelah menyerahkan seluruh bantuan, pukul 15.00 WIB rombongan  turun ke Kecamatan Pulung, dengan tambahan informasi bahwa pada hari itu  jenazah korban longsor ke 4 telah diketemukan oleh Tim SAR menyusul 3 jenazah yang telah diketemukan dan dikubur di makam desa sebelumnya. Setelah dijamu makan siang oleh Bapak Bambang dkk rombongan berpamitan dan bergegas kembali ke Surabaya pukul 16.00 diiringi cuaca mendung menandakan akan turun hujan dan muncul  kejadian  yang memilukan yaitu adanya  longsor susulan yang sangat membahayakan  sehingga seluruh Tim SAR  menghentikan proses pencarian korban yang tersisa (24 orang) serta harus meninggalkan lokasi bencana dengan segenap peralatannya seperti eskavator, mobil bego, mobil penyemprot air, mobil pengangkut anjing (K9 Polda Jatim) dan sebagainya, kecuali Relawan yang bertugas di Pos Pengungsian dan dapur umum.

 

Demikian kisah perjalanan rombongan Pengurus Ikatan Alumni Universitas Terbuka  (IKA-UT) Wilayah Surabaya menuju ke Posko Longsor Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupten Ponorogo.

 

Seminar Sehari Pemanfaatan IT Bagi Pemuda Pelajar

it1c
Sabtu, 31 Desember 2016 dipenghujung tahun IKAUT Pusat menyelenggarakan seminar sehari bertajuk Pemanfaatan IT dalam menunjang kapabilitas sumber daya manusia. Seminar dilaksanakan di Bilberry Resto Jl. Mabes Hankam 101 Cilangkap Jakarta Timur.
Dra. Herawaty Sampurna selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan realisasi program kerja IKAUT Pusat yang baru sempat terlaksana dipenghujung tahun karena berbagai kesibukan pengurus. Seminar ini terlaksana dengan didukung beberapa personal pengurus dalam sebuah tim seperti Agung Suyono SE sebagai MC, dan Purnomo SE yang melayani registrasi peserta sejak pukul 09.00 Wib.
it3b
Acara dibuka oleh Sekjen IKAUTPUS Drs. Leles Sudarmanto, MM selaku yang mewakili Ketua Umum. Dalam sambutannya Leles mengatakan bahwa Seminar Pemanfaat IT ini penting untuk diikuti kalangan muda mengingat bahwa kemajuan jaman terus berkembang jika tidak disikapi dengan cermat maka akan tertinggal. Oleh sebab itu seminar semacam ini akan terus digulirkan oleh pengurus Ikatan Alumni Universitas Terbuka Pusat (IKAUTPUS) dan menjadi agenda tetap organisasi agar masyarakat dapat dibantu ditingkatkan kecerdasannya melalui kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan IKAUTPUS.
it3a
Selanjutnya Hadijaya, BSc, SPd, MPd sebagai nara sumber menerangkan bahwa di era globalisasi ini, jika generasi mudanya tidak menguasai IT maka itu identik dengan buta huruf. Padahal perkembangan di bidang IT berpengaruh terhadap kemajuan negara. Oleh karena itu, pemanfaatan IT harus diperkenalkan kepada generasi muda agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari dan juga bersaing dalam lingkup global. Sumber  Daya Manusia yang handal ditunjang dengan penggunaan teknologi informasi, maka efektivitas dapat dicapai dalam waktu yang relatif singkat.
it2ait3
Hadijaya menjelaskan lebih jauh mengenai makna Informasi Teknologi atau IT yaitu seperangkat alat yang membantu kita bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi, merupakan teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi kecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video.
Informasi Teknologi (IT) tidak hanya pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan mencakup teknologi komunikasi untuk mengirim atau menyebarluaskan informasi.
Dalam seminar tersebut Hadijaya menguraikan materi IT secara panjang lebar serta menyajikan praktik budidaya jamur kombucha untuk suplemen kesehatan pencernaan dan praktik pengolahan saus durian untuk bumbu masakan.
kommb
Pengambilan gambar kegiatan praktik serta rekaman video merupakan teknis pengumpulan materi untuk memuat informasi pada blogger peserta, hal ini dimaksudkan sebagai metode penampilan sebuah blogger yang menawarkan produk home industry yang bermanfaat jika ingin mengembangkan usaha jamur kombucha maupun usaha penjualan produk bumbu masak berbahan dasar durian.
it6it8
Hadijaya lebih lanjut mengatakan bahwa Sumber Daya Manusia yang handal ditunjang dengan penggunaan teknologi informasi, maka efektivitas dapat dicapai dalam waktu yang relatif singkat. Kemajuan teknologi komunikasi yang cepat dapat mempermudah komunikasi antara suatu tempat dan tempat yang lain. Semakin maraknya penggunaan Teknologi Informasi akan semakin membuka lapangan pekerjaan. Bisnis yang berbasis Teknologi Informasi atau yang biasa disebut e-commerce dapat mempermudah transaksi-traansaksi bisnis suatu perusahaan atau perorangan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi di bidang bisnis akan memberikan dampak positif yang besar untuk jalannya bisnis yang kita bangun. Munculnya peluang bisnis baru (E-business), dengan semakin majunya teknologi dan informasi maka akan mendorong orang untuk menciptakan beberapa peluang yang sangat menguntungkan dan sebagai modal dasar bisnis yang sangat menguntungkan.

Seminar diselingi dengan diskusi (tanya-jawab) dan berakhir pukul 14.30 Wib. Semua peserta diberikan Sertifikat yang ditandatangani oleh Ketua Umum IKAUTPUS, yaitu Linda Agum Gumelar, S.IP. (info gway)