Category Archives: PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT

Teknologi Pembuatan Mie Berbahan Dasar Pisang

Masyarakat Indonesia sudah banyak mengolah buah pisang menjadi kripik pisang, sale pisang, pisang molen. Mengingat bahwa pengolahan pisang menjadi mie masih belum dikenal luas oleh masyarakat dan terbilang baru, maka perlu kiranya diperkenalkan pula.

punti6 Gambar 1. Percobaan Pembuatan Mie Pisang

Penelitian dan percobaan pengolahan pisang ini dilakukan untuk memanfaatkan buah pisang menjadi mie yang bercita rasa sehingga dapat menyumbangkan perbendaharaan pangan yang bermanfaat bagi masyarakat. Penelitian dilakukan untuk menambah pengetahuan pengolahan sehingga menjadi lebih berguna bagi masyarakat dan dapat juga menambah perekonomian bila hasilnya dapat diperdagangkan.

Pisang merupakan tanaman yang dikenal oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Di dunia internasional pun telah menjadi komoditas ekspor dalam bentuk buah-buah segar, keripik pisang maupun tepung pisang. Selain mengandung karbohidrat pisang juga banyak mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh kita, seperti vitamin A dan B serta mengandung nilai energi yang tinggi. Pisang adalah tanaman yang peyebarannya sangat luas di dunia. Penyebaran pisang meluas dari dataran rendah sampai dataran tinggi, baik yang di budidayakan maupun yang di tanam sembarang di kebun atau di halaman. Komering Ulu Palembang hingga daerah Lampung merupakan penghasil pisang cukup banyak diwilayah Sumatera bagian Selatan.

Di daerah dengan hujan merata setiap tahun, produksi pisang dapat berlangsung tanpa mengenal musim.Indonesia, Kepulauan Pasifik, negara-negara Amerika Tengah dan Brasil dikenal sebagai negara utama pengekspor pisang. Masyarakat di negara-negara Afrika dan Amerika Latin dikenal sangat tinggi mengonsumsi pisang setiap tahunnya. Pisang juga menjadi komoditas ekspor terutama untuk golongan Cavendish dalam bentuk buah-buah segar, keripik pisang atau juga tepung pisang. Golongan plantain group yang beberapa jenisnya terdapat di Indonesia juga di jadikan komoditas ekspor tetapi bukan dalam bentuk olahan tepung pisang. Untuk menjadi bahan komoditas ekspor, selain jumlah hasil cukup besar, juga harus memenuhi standar yang di tentukan.

punti1

Gambar 2. Pisang Kepok

Berdasarkan cara konsumsi buahnya, pisang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu pisang meja (Dessert Banana) dan pisang olah (plantain, Cooking Banana). Pisang meja dikomsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang, sepeti pisang ambon, susu, raja, seribu dan sunripe. Pisang olahan dikomsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar atau dikolak, seperti pisang kepok, siam, kapas, tanduk dan uli. Buah pisang diolah menjadi berbagai produk, seperti sale, kue. Selain memberikan kontrribusi gizi lebih tinggi tinggi dari pada apel, pisang juga dapat menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Termasuk ketika otak mengalami keletihan.

Nilai energi pisang sekitar 136 kalori untuk setiap 100 gram, yang secara keseluruhan berasal dari karbohidrat. Nilai energi pisang dua kali lipat lebih tinggi dari pada apel. Apel dengan sama (100 gram) hanya mengandung 54 kalor. Karbohidrat pisang merupakan energi sedikit lebih lambat dibandingkan dengan gula pasir dan sirup, tetapi lebih cepat dari nasi, biscuit dan sejenis roti.

Kandungan energi pisang merupakan energi instan, yang mudah tersedia dalam waktu singkat, sehingga bermanfaat dalam menyediakan kebutuhan kalori sesaat. Karbohidrat pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap, sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat. Karbohidrat pisang merupakan cadangan energi yang sangat baik digunakan bagi tubuh.

Gula pisang merupakan gula buah, yaitu terdiri dari fruktosa yang mempunyai indek glikemic lebih rendah dibandingkan dengan glukosa, sehingga cukup baik sebagai penyimpanan energi karena sedikit lebih lambat dimetabolisme. Sehabis bekerja keras atau berpikir, selalu timbul kantuk. Keadaan ini merupakan tanda-tanda otak kekurangan energi, sehingga aktivitas secara biologis juga menurun. Glukosa tersebut terutama diperoleh dari sirkulasi darah otak karena glikogen sebagai cadangan glukosa sangat terbatas keberadaannya. Glukosa darah terutama didapat dari asupan makanan sumber korbohidrat. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, kalsium dan besi. Bila dibandingkan dengan jenis makanan nabati lain, mineral pisangf, khususnya besi, hampir seluruhnya (100 persen) dapat diserap tubuh.

Berdasarkan berat kering, kadar besi pisang mencapai 2 miligram per 100 gram dan seng 0,8 mg. bandingkan dengan apel, yang hanya mengandung 0,2 mg besi dan 0,1 mg seng untuk berat 100 gram. Kandungan vitaminnya sangat tinggi, terutama provitamin A, yaitu betakaroten, sebesar 45 mg per 100 gram berat kering, sedangkan pada apel hanya 15 mg. pisang juga mengandung vitamin B, yaitu tiamin, riboflavin, niasin dan vitamin B6 (piridoxin). Kandungan vitamin B6 pisang cukup tinggi, yaitu 8 seesar 0,5 mg per 100 gram. Selain berfungsi sebagai koenzim untuk beberapa reaksi dalam metabolisme protein, khususnya serotonin. Serotonin diyakini berperan aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak. Vitamin B6 juga berperan dalam metabolisme energi yang berasal dari karbohidrat. Peran vitamin B6 ini mendukung ketersediaan energi bagi otak untuk aktivitas sehari-hari. Namun, kandungan protein dan lemak pisang kurang bagus dan sangat rendah, yaitu hanya 2,3 persen. Meski demikian, kandungan lemak dan pisang masih lebih tinggi dari apel, yang hanya 0,3 persen.

Dalam pembuatan panganan atau makanan dari pisang, jenis pisang perlu diperhatikan karena setiap jenis pisang memiliki rasa, aroma dan kadar air yang berbeda. Contoh pada pembuatan keripik pisang, pisang yang digunakan pisang Ambon, dan pisang jenis Plantain, seperti pisang tanduk dan kepok. Pisang jenis ini lebih dipilih untuk digunakan karena kadar air yang dikandungnya lebih sedikit yakni 66,4% per 10 gram sedangkan pisang-pisang golongan Acuminata mengandung air 75,7% per 100 gram.
Membuat mie dengan memanfaatkan pisang sebagai bahan baku. Perbandingan terigu dengan pisang yang optimal adalah 2:1. Rasa mie cukup gurih, jika pisang kepok yang digunakan cukup masak dan masa garam yang ditambahkan dalam adonan proporsional. Mie pisang yang dimasak (rebus) akan memiliki tekstur kenyal. Mie pisang dikeringkan dalam microwave sebagai mie instan. Mie yang dikeringkan dapat disimpan sampai 2 pekan. Pisang memang dapat diolah menjadi mie dan baik untuk dikomsumsi.

punti8

Gambar 3. Praktek Memasak Mie goreng

Bahan, terdiri dari :
Pisang kepok; Tepung terigu; Minyak goreng; Telur ayam; Garam dapur; Kunyit; Jahe, Serai, Ketumbar dan Air secukupnya
Alat, terdiri dari :
Blender; Penggiling mie;
Pisau; Oven/microwave; Timbangan; Panci; Wadah/ Baskom; Peralatan memasak, dll.

punti2

Gambar 4. Adonan mie pisang yang sudah kalis (homogen)

Cara kerja
Pembuatan mie pisang ini menggunakan bahan dasar tepung terigu dan pisang kepok masak dengan perbandingan 2:1. Pisang yang digunakan terlebih dahulu direbus hingga lunak dan dapat dihaluskan atau dapat pula dilakukan dengan cara menghaluskan buah pisang menjadi bubur dengan menggunakan blender. Bubur pisang dimasukkan kedalam baskom kemudian dicampur dengan terigu, telur dan kunyit. Terus diaduk hingga tercampur rata dan menjadi adonan yang kenyal dan tidak lengket, selanjutnya lakukan penggilingan secara bertahap hingga adonan berbentuk mie. Jika minyak goreng dalam komposisi tersebut tidak optimal maka adonan mie yang dihasilkan sangat lengket, permukaannya tidak licin dan sulit digiling atau dicetak. Hanya dengan minyak yang cukup akan diperoleh hasil lebih baik.
punti3

Gambar 5. Menggiling Mie basah

punti4Gambar 6. Mie pisang yang masih basah baru selesai digiling

Mie basah tersebut boleh dikeringkan dalam oven jika menginginkan untuk disimpan beberapa hari atau langsung direbus jika ingin segera dikonsumsi. Setelah direbus lalu ditiriskan dan tempatkan dalam mangkuk.
Selanjutnya sediakan bumbu-bumbu untuk menambah citarasa. Bumbu terdiri dari minyak sayur, jahe, serai, merica, ketumbar dan garam yang kesemuanya itu dihaluskan dulu.
punti5

Gambar 7. Mie Pisang (ditumis) siap disantap

Untuk membuat mie goreng maka bumbu bersama minyak sayur tersebut dipanaskan diatas wajan hingga terasa aromanya lalu masukkan mie pisang sambil diaduk beberapa lama sampai bumbu benar-benar meresap. Jika menginginkan mie kuah dapat menambahkan air secukupnya. Mie pisang nikmatnya begitu terasa.
punti9

Gambar 8. Memblender pisang untuk menyiapkan adonan

Catatan :
Untuk mengikuti Pelatihan silahkan menghubungi Hadijaya melalui HP/ WA : 08128727937

Teknologi Pembuatan Saos Durian

saus2durenGambar 1. Kegiatan Pelatihan Program Bidang Pengembangan Teknologi Ikatan Alumni UT Pusat di Cilangkap Jakarta.

Saos durian adalah saos yang dibuat dari buah durian, merupakan salah satu penyedap masakan atau bumbu pelengkap campuran sambal, bumbu pepes ikan atau bumbu gulai ikan yang memiliki cita rasa yang lezat yang disukai masyarakat. Produk saos durian belum dikenal secara luas, sehingga diharapkan hasil penelitian ini menjadikan saos durian lebih dikenal masyarakat. Rasa asam pada produk saos durian menjadi ciri khas yang dikendalikan oleh jumlah garam yang diberikan serta masa inkubasi yang optimum. Dalam percobaan ini metode yang digunakan adalah hidrolisis garam, yaitu penambahan garam pada durian dan inkubasi selama 7 hari. Garam yang digunakan adalah garam halus yang masanya bervariasi yaitu 25 gram, 30 gram, dan 35 gram untuk 1000 gram daging buah durian . Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan masa garam yang menghasilkan saos durian dengan cita rasa yang baik adalah 30 gram garam dengan inkubasi selama 5 hari.

Durian adalah nama tumbuhan tropic yang berasal dari Asia Tenggara, nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Varian namanya yang juga popular adalah duren. Orang sunda menyebutnya dengan kadu. Tanaman durian termasuk marga (genus) durio, dari species durio zibethinus. Warna buahnya berbeda-beda dari hijau kekuning-kuningan, dan mempunyai bentuk dari bujur hingga bundar. Kulit buahnya berserabut dan permukaannya dipenuhi sudut tajam (duri). Buah durian memiliki rasa yang lezat dan baunya yang khas. Buah durian memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena harganya tidak pernah terpengaruh dengan jenis buah yang lainnya. Setiap panen tiba harga buah durian selalu naik, pemasaran buah durian umumnya sudah melalui mata rantai yang agak panjang sehingga mengakibatkan harga durian ditingkat konsumen menjadi sangat tinggi.

saus4durensaus5durenGambar 2. Buah Durian lokal

Di Indonesia, tanaman durian terdapat diseluruh pelosok Jawa dan Sumatra sedangkan di Kalimantan dan di Irian Jaya umumnya hanya terdapat dihutan, disepanjang aliran sungai. Di dunia tanaman durian tersebar keseluruh Asia Tenggara dan Sri Langka, India Selatan hingga New Guenea. Khusus di Asia Tenggara, durian diusahakan dalam bentuk pohon yang dipelihara intensif oleh Negara. Jumlah produksi durian di Filipina adalah 16.700 ton (2.030 ha), di Malaysia 262.000 (42.000 ha) dan di Thailand 444.500 ton (84.700 ha) pada tahun 1987 – 1988. Di Indonesia pada tahun yang sama mengahasilkan 199.361 ton (41.284 ha) dan pada tahun 1990 menghasilkan 275.717 ton (45.327 ha).
Tanaman durian termasuk family Bombaceae sebangsa pohon kapuk – kapukan dan yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Boschia, Coelostegia. Macam Variates durian yang tersebar di Nusantara antara lain adalah : Duren Sukun (Jawa Tengah), Petruk (Jawa Tengah), Sitokong (Betawi), Simas (Bogor) Sunan (Jepara), Kani (Thailand), Sidodol (Kalimantan Selatan), Tembaga (Komering Palembang) dan Sihijau (Kalimantan Selatan).

Durian merupakan buah yang mengandung berbagai protein, zat pati atau karbohidrat, zat gula buah dan lain – lain dimana pada proses pembusukan atau penguraian menimbulkan alkohol dan saos – saos amino misalnya aminomium asetat [CH3COONH] yang kurang disukai sebagian orang karena baunya sangat menyengat. Durian mengandung sejumlah karbohidrat dan juga banyak protein. Hal ini berarti buah durian mengandung banyak enzim dan komponen tambahan yang non protein sebagai aktivitas katalis, enzim semacam ini disebut Holoenzim. Bagian protein dari enzim disebut Apoenzim dan bagian nonprotein disebut Koenzim. Adanya aktivitas enzim pada buah durian menyebabkan proses pembusukan durian menimbulkan gas, daging buah menjadi saos dan timbul bau yang menyengat, aktivitas enzim dapat dihambat dengan menambahkan garam pada arilus atau daging buah durian sekaligus memberinya citarasa asam dan asin.

Pada bagian buah yang berwarna kekuning-kuningan terdapat senyawa dengan aroma paling tajam yaitu propanthiol defuthioter serta senyawa-senyawa lain yang menentukan rasa enak daging buahnya. Buah durian yang matang pada umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar. Selain dapat diolah menjadi kue durian, es krim durian, atau di olah menjadi dodol durian, buah durian juga dapat dijadikan sebagai campuran sambal, bumbu pepes ikan ataupun bumbu gulai ikan dengan terlebih dulu mengolahnya menjadi saos durian.
Dari hasil percobaan ini diharapkan masyarakat luas dapat lebih mengenal pemanfaatan durian sebagai penyedap masakan atau saos durian sehingga menambah khasanah masakan asli Indonesia. Penelitian dan percobaan pembuatan saos durian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh garam pada daging buah agar dapat dihasilkan saos durian yang mempunyai cita rasa sedap.

Manfaat dari penelitian adalah untuk menambah pengetahuan dibidang pangan khususnya pembuatan saos durian, dengan harapan dapat ikut dinikmati dan dikembangkan oleh masyarakat luas.

Dalam percobaan ini, dihipotesakan bahwa : keasaman pada arilus (daging buah durian) dipengaruhi oleh sedikit atau banyaknya massa garam yang ditambahkan serta lamanya masa penyimpanan (inkubasi).

Pada percobaan ini pengolahan saos durian menggunakan garam yang berfungsi untuk menghambat penguraian protein menjadi senyawa amino sehingga menjadi rasa saos. Pengamatan fenomena perubahan keasaman saos durian adalah bedasarkan variabel masa garam yang ditambahkan. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran pH (derajat keasaman) dan uji organoleptik (uji cita rasa)

1.Bahan bahan
-Buah Durian : 388,12 Kg
-Garam : 30 gram
-Bawang merah : 12,14 gr
-Cabe merah : 30.3 gr
-Kunyit : 8 gr

2.Alat – alat
Pisau, Toples, Timbangan, Blender, Sendok dan Kantong plastik

3. Cara kerja
1. Buah durian dibelah dengan pisau dan diambil isinya.
2. Dipisahkan daging dari bijinya dengan sendok , bijinya dibuang dan daging buah diambil.
3. Dibuat 3 (tiga) sample penelitian dengan massa garam yang bervariasi, yaitu 25 gram; 30 gram dan 35 gram.
4. Ketiga sample tersebut kemudian dicampur dengan cabe dan kunyit yang telah dihaluskan serta dibungkus dengan plastic lalu dimasukan ke dalam toples dan ditutup rapat. Kemudian di inkubasi (simpan) sampai 1 minggu.
5. Setelah pengingkubasian selesai, kemudian dilakukan uji organoleptik.
6. Saos durian yang sudah jadi dapat dibuat sambal atau sebagai campuran masakan lainnya yang sesuai selera.

Diagram_DurianGambar 3. Diagram alir percobaan

Pada percobaan ini, daging buah durian yang telah dipisahkan dari bijinya dibagi menjadi 3 variabel dengan jumlah yang sama banyaknya. Ketiga variabel tersebut kemudian diberi bumbu masing-masing dengan cabe dan kunyit yang telah dihancurkan dengan ukuran yang sama akan tetapi dengan jumlah garam yang berbeda. Setelah ketiga variabel dibungkus dengan plastik dengan rapat kemudian diinkubasi selama 1 minggu (7 hari). Pembungkusan ini dimaksudkan agar sample tidak terkontaminasi dengan udara luar yang memungkinkan masuknya bakteri atau jamur yang akan mempengaruhi hasil inkubasi.

saus durenGambar 4. Produk akhir percobaan yaitu Saos Durian

Hasil inkubasi selama 7 hari tersebut dapat dilihat pada Tabel 1, bahwa semakin banyak garam yang diberikan maka tingkat keasaman (pH) saos durian semakin tinggi. Apabila diuji secara organoleptik (cita rasa) ternyata cita rasa dan aroma yang cukup baik ketika diberikan garam dengan massa 30 gram. Pengaruh banyak atau sedikitnya garam dapat dilhat pada Grafik 1, jika semakin banyak garam diberikan maka tingkat keasaman semakin rendah.

Tabel -1. Cita Rasa Saos Durian setelah 7 hari

MassaGaram_pH

pH_Massa_garam_KIR_IKAUT

Gambar 5. Hubungan Lama Inkubasi terhadap tingkat keasaman (pH)

Setelah diperoleh sampel saos yang cukup baik yaitu dengan massa garam 30 gram maka dilanjutkan dengan pengujian masa inkubasi terhadap cita rasa saos durian. Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa pada masa inkubasi selama 5 hari memberikan hasil yang cukup baik yang ditandai dengan aroma yang harum sekali.

Tabel-2. Pengaruh lamanya inkubasi terhadap keasaman saos durian untuk 30 gr garam dalam 388,12 gr arilus

Inkubasi_pH

 

pH_Inkubasi_KIR_IKAUT

Gambar 6. Hubungan massa (jumlah) garam yang ditambahkan terhadap perubahan keasaman (pH).

Untuk mengetahui hasil yang baik atau tidaknya dapat kita amati selama inkubasi melalui aroma tingkat keasamannya. Penambahan jumlah garam yang banyak pada arilus dapat menghambat terjadinya pembusukan akan tetapi berakibat saos durian kurang enak karena terlalu asin. Sebaliknya sedikit garam berakibat saos durian sangat asam karena aktivitas enzim tidak sepenuhnya dapat dihambat bedasarkan percobaan maka saos durian yang memiliki cita rasa terbaik adalah variabel 2 dengan masa inkubasi 5 hari.

Dalam penelitian pengolahan pengolahan saos sambal durian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa :
-Banyak sedikitnya garam memberikan pengaruh terhadap tingkat keasaman saos durian. Semakin banyak garam yang diberikan semakin tinggi tingkat keasaman saos durian. Sedangkan dilihat dari segi cita rasa, pada percobaan ini saos durian yang memiliki cita rasa yang baik/ harum sekali adalah dengan penambahan garam sebanyak 30 gram.
-Keasaman saos durian juga dipengaruhi oleh lamanya massa penyimpanan (inkubasi). Semakin lama masa inkubasi semakin rendah tingkat keasaman saos durian. Pada percobaan ini masa inkubasi yang optimal diperoleh pada hari kelima dengan cita rasa yang baik/harum sekali.
-Saos durian dapat menjadi ramuan sambal atau bumbu pepes ikan yang lezat cita rasanya sehingga menambah khazanah perbendaharaan masakan tradisional Indonesia.

saus1durenGambar 7. Kegiatan Pelatihan Di Cilangkap Jakarta

Catatan :
Untuk kegiatan Pelatihan silahkan hubungi Hadijaya via HP/ WA : 08128727937

Kunjungan Kasih untuk Ibu Ruri Wahyuni (Alumni PGSD UT)

20638261_1516271221765365_1568565437609349230_n

 

Sabtu, 5 Agustus 2017 beredar kabar di WA Group mengenai Alumni UT yang dikabarkan meninggal dunia dalam musibah kebakaran di Jati Pulo-Jakarta Pusat pada Jumat, 4 Agustus 2017.

Mendengar kabar tersebut Pengurus Pusat IKA UT melakukan pencarian informasi mengenai kebenaran berita tersebut. Berbekal alamat dari Media Online Nasional, IKA UT mendatangi TKP.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari tetangga dan anak pemilik rumah diketahui bahwa yang menjadi korban meninggal adalah pemilik rumah dan ketiga anaknya dimana Ibu Ruri (Alumni UT) mengontrak. Beliau bukanlah korban meninggal sebagaimana pemberitaan salah satu stasiun TV Nasional. Dari mereka juga diketahui bahwa Ibu Ruri adalah Guru di SDN 09 Pagi Cideng.

Selasa, 8 Agustus 2017 salah satu pengurus IKA UT berkunjung ke SD tempat Ibu Ruri mengajar untuk mengkonfirmasi informasi yang diterima. Dan akhirnya hari ini 9 Agustus 2017, IKA UT menyerahkan sejumlah donasi hasil ‘urunan’ pengurus.

Donasi diserahkan kepada Ibu Ruri oleh Bapak Purnomo selaku bidang Pengabdian Masyarakat IKA UT Pusat di dampingi Ibu Herawati dan Saudari Yohana sebagai perwakilan IKA UT Pusat. Penyerahan donasi disaksikan oleh Wakil Kepala Sekolah dan para Guru SDN 09 Pagi Cideng.

Setelah penyerahan donasi, Pengurus mengunjungi tempat tinggal baru Ibu Ruri tidak jauh dari Sekolah Beliau mengajar.

Semoga Ibu Ruri dan keluarga cepat pulih dari trauma, sehat dan dalam perlindunganNya selalu. Amin.

 

20663771_1516271481765339_4946215829501413419_n 20638912_1516272878431866_5878777079486956812_n

Bakti Sosial Untuk Korban Longsor Ponorogo

BAKTI SOSIAL

IKATAN ALUMNI UNIVERSITAS TERBUKA (IKA-UT) PUSAT & WILAYAH SURABAYA, KELUARGA BESAR UPBJJ UT SURABAYA DAN MAHASISWA

 

Untuk Korban Longsor Ponorogo

 09 April 2017

 

Oleh : Drs.H.Fatchur Rachman MS (Sekretaris IKA-UT Wilayah Surabaya)

 

Baksos IKA UT Surabaya

Baksos IKA UT Surabaya

 

Peristiwa longsornya Bukit Gede Desa Banaran, Pulung Ponorogo pada tanggal 01 April 2017 menyebabkan banyak korban tertimbun longsoran tanah. Warga Dusun Tangkil, Dusun Krajan, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo yang tertimbun hidup-hidup sebanyak 28 (dua puluh delapan) jiwa, disamping itu longsoran juga menyebabkan banyak rumah warga yang rusak. Warga yang terdampak di himbau untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

 

Peristiwa longsoran Bukit Gede ini menggerakkan hati para Pengurus Ikatan Alumni Universitas Terbuka (IKA-UT) Wilayah Surabaya untuk mengadakan Bakti Sosial. Kegiatan ini pun disambut baik oleh Bapak Teguh Prakoso S.Pd.,M.Hum. selaku Kepala UPBJJ-UT Surabaya, anggota IKA-UT Wilayah Surabaya beserta Mahasiswa, sampai hari  minggu  09 April 2017  bantuan yang terkumpul selain berupa barang juga berupa uang tunai lebih dari Rp.10 juta. Bapak Drs.H.Fatchur Rachman MS selaku Sekretaris IKA-UT Wilayah Surabaya ditunjuk sebagai Koordinator & Pelaksana penyaluran bantuan tersebut ke derah yang membutuhkan, beserta para Pengurus IKA-UT Wilayah Surabaya secepatnya menyiapkan bantuan berupa SEMBAKO seperti beras, gula, mie instan, air mineral, kopi, snack, bubur bayi dan susu untuk anak-anak. Selain itu bantuan juga berupa OBAT-OBATAN dan berupa BARANG seperti pakaian dewasa & anak-anak, perlengkapan mandi & mencuci, celana dalam dewasa & anak-anak, jarit, mukena, jilbab, handuk, baju koko, daster wanita & anak-anak, sajadah, sarung, handuk, pembalut wanita, popok bayi, selimut dan sandal jepit. Karena di pengungsian juga terdapat anak-anak, pengurus pun memberikan bingkisan,  2 Karton Susu, 2 karton Snack, buku cerita, buku mewarnai, pensil warna, krayon, tas anak-anak. Sedangkan untuk pengungsi dewasa tidak lupa dibawakan Buku Yasin & Tahlil.

 

 

Pada hari Minggu, tanggal 09 April 2017 rombongan (Ketua, Sekretaris dan Pengurus lainnya) didampingi Ibu Dra.Titik Setyowati M.Pd, selaku PW UT Kabupaten Ponorogo berangkat dari Surabaya pukul 05.00 WIB menuju Ponorogo. Dalam perjalanan rombongan berkoordinasi dengan Pejabat Diknas Kab.Ponorogo & Tutor UT Pokjar Ponorogo (Bapak Bambang dkk) yang akan memandu rombongan menuju Posko Bencana di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo yang daerahnya  tersebut memerlukan banyak bantuan. Rombongan tidak lupa  mampir di Madiun untuk menjemput Bpk.Drs.H.Agus Prasetyo M.Si selaku PW UT Kota Madiun yang juga ikut mendampingi rombongan sekaligus makan pagi pukul 11.00 WIB. Selanjutnya rombongan meneruskan perjalanan ke Ponorogo  menuju SMP Negeri 5 Ponorogo dan tiba  pukul 12.00 WIB untuk bertemu Bapak Bambang Dkk sekaligus menjalankan Sholat Dhuhur dijamak dengan Ashar.

 

Perjalanan dilanjutkan dengan dipandu  3 orang dari Kantor Diknas Ponorogo/Tutor UT Surabaya. Selama perjalanan menuju lokasi bencana terlihat bukit-bukit yang menghijau dengan tanaman perdu, kebun jagung  dan tanaman penduduk yang sangat subur namun tidak terlihat pohon-pohon besar layaknya hutan yang berfungsi menahan tanah perbukitan dari bahaya longsor. Tampak pula posko-posko yang didirikan di sepanjang jalur menuju tempat bencana, para sukarelawan beserta tentara dan Polisi yang mengarahkan rombongan yang akan menyerahkan bantuan. Sesampai di lokasi rombongan disarankan ke Posko Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo yang berada di Balai  Desa Banaran yang dekat dengan tempat Pengungsian. Para Pengungsi ini  ditempatkan di dekat balai desa Banaran, sambil menunggu relokasi permanen. Posko Dinas Sosial ini merupakan pusat penampungan bantuan terdekat dengan daerah bencana, di kanan kiri jalan juga masih terlihat sepanduk larangan memasuki area bencana.

 

Rombongan tiba di daerah bencana pukul 13.30 WIB, disana rombongan juga bertemu dengan rombongan penyumbang dari marinir surabaya, dari berbagai instansi dan LSM lainnya. Di posko yang terletak di Balai Desa Banaran tersebut, bantuan berupa sembako dan barang-barang oleh Bapak Drs.H.Fatchur Rachman MS beserta perwakilan Pengurus IKA-UT Surabaya, perwakilan keluarga besar UPBJJ UT Surabaya diserahkan kepada Pejabat dan Staf Dinas Sosial Kabupten Ponorogo Ibu Dyah Fitria selaku Koordinator Penampungan bantuan. Bantuan tersebut rencananya  akan disalurkan  langsung kepada para pengungsi yang daerahnya masih terisoler karena pemukiman nya tidak aman untuk ditempati. ”Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh Pengurus IKA-UT Pusat & Wilayah Surabaya serta keluarga besar UPBJJ UT Surabaya atas bantuan yang telah diberikan, Insya Allah amanah ini akan  langsung kami salurkan kepada warga”, demikian ungkapan terima kasih Bapak Pejabat dari  Dinas Sosial Kabupten Ponorogo.

 

Selain itu bantuan berupa 80 bingkisan untuk anak-anak berupa buku-buku, tas sekolah, pensil warna, crayon, snack dan susu siap saji diserahkan oleh Bapak Drs.H.Fatchur Rachman MS beserta perwakilan Pengurus IKA-UT Wilayah Surabaya kepada Ibu Dyah Fitria Staf Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo. ”Kami sangat bersyukur & berterima kasih sekali kepada seluruh donatur karena disaat bencana seperti ini, anak-anak masih mendapatkan perhatian, terima kasih atas bingkisan yang telah  diberikan”, tutur Ibu Dyah Fitria. Begitu juga dengan Bapak Pejabat dari Dinas Sosial “Semoga segala amal donatur di balas oleh Allah SWT”.

 

Setelah menyerahkan seluruh bantuan, pukul 15.00 WIB rombongan  turun ke Kecamatan Pulung, dengan tambahan informasi bahwa pada hari itu  jenazah korban longsor ke 4 telah diketemukan oleh Tim SAR menyusul 3 jenazah yang telah diketemukan dan dikubur di makam desa sebelumnya. Setelah dijamu makan siang oleh Bapak Bambang dkk rombongan berpamitan dan bergegas kembali ke Surabaya pukul 16.00 diiringi cuaca mendung menandakan akan turun hujan dan muncul  kejadian  yang memilukan yaitu adanya  longsor susulan yang sangat membahayakan  sehingga seluruh Tim SAR  menghentikan proses pencarian korban yang tersisa (24 orang) serta harus meninggalkan lokasi bencana dengan segenap peralatannya seperti eskavator, mobil bego, mobil penyemprot air, mobil pengangkut anjing (K9 Polda Jatim) dan sebagainya, kecuali Relawan yang bertugas di Pos Pengungsian dan dapur umum.

 

Demikian kisah perjalanan rombongan Pengurus Ikatan Alumni Universitas Terbuka  (IKA-UT) Wilayah Surabaya menuju ke Posko Longsor Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupten Ponorogo.

 

Seminar Sehari Pemanfaatan IT Bagi Pemuda Pelajar

it1c
Sabtu, 31 Desember 2016 dipenghujung tahun IKAUT Pusat menyelenggarakan seminar sehari bertajuk Pemanfaatan IT dalam menunjang kapabilitas sumber daya manusia. Seminar dilaksanakan di Bilberry Resto Jl. Mabes Hankam 101 Cilangkap Jakarta Timur.
Dra. Herawaty Sampurna selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan realisasi program kerja IKAUT Pusat yang baru sempat terlaksana dipenghujung tahun karena berbagai kesibukan pengurus. Seminar ini terlaksana dengan didukung beberapa personal pengurus dalam sebuah tim seperti Agung Suyono SE sebagai MC, dan Purnomo SE yang melayani registrasi peserta sejak pukul 09.00 Wib.
it3b
Acara dibuka oleh Sekjen IKAUTPUS Drs. Leles Sudarmanto, MM selaku yang mewakili Ketua Umum. Dalam sambutannya Leles mengatakan bahwa Seminar Pemanfaat IT ini penting untuk diikuti kalangan muda mengingat bahwa kemajuan jaman terus berkembang jika tidak disikapi dengan cermat maka akan tertinggal. Oleh sebab itu seminar semacam ini akan terus digulirkan oleh pengurus Ikatan Alumni Universitas Terbuka Pusat (IKAUTPUS) dan menjadi agenda tetap organisasi agar masyarakat dapat dibantu ditingkatkan kecerdasannya melalui kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan IKAUTPUS.
it3a
Selanjutnya Hadijaya, BSc, SPd, MPd sebagai nara sumber menerangkan bahwa di era globalisasi ini, jika generasi mudanya tidak menguasai IT maka itu identik dengan buta huruf. Padahal perkembangan di bidang IT berpengaruh terhadap kemajuan negara. Oleh karena itu, pemanfaatan IT harus diperkenalkan kepada generasi muda agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari dan juga bersaing dalam lingkup global. Sumber  Daya Manusia yang handal ditunjang dengan penggunaan teknologi informasi, maka efektivitas dapat dicapai dalam waktu yang relatif singkat.
it2ait3
Hadijaya menjelaskan lebih jauh mengenai makna Informasi Teknologi atau IT yaitu seperangkat alat yang membantu kita bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi, merupakan teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi kecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video.
Informasi Teknologi (IT) tidak hanya pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan mencakup teknologi komunikasi untuk mengirim atau menyebarluaskan informasi.
Dalam seminar tersebut Hadijaya menguraikan materi IT secara panjang lebar serta menyajikan praktik budidaya jamur kombucha untuk suplemen kesehatan pencernaan dan praktik pengolahan saus durian untuk bumbu masakan.
kommb
Pengambilan gambar kegiatan praktik serta rekaman video merupakan teknis pengumpulan materi untuk memuat informasi pada blogger peserta, hal ini dimaksudkan sebagai metode penampilan sebuah blogger yang menawarkan produk home industry yang bermanfaat jika ingin mengembangkan usaha jamur kombucha maupun usaha penjualan produk bumbu masak berbahan dasar durian.
it6it8
Hadijaya lebih lanjut mengatakan bahwa Sumber Daya Manusia yang handal ditunjang dengan penggunaan teknologi informasi, maka efektivitas dapat dicapai dalam waktu yang relatif singkat. Kemajuan teknologi komunikasi yang cepat dapat mempermudah komunikasi antara suatu tempat dan tempat yang lain. Semakin maraknya penggunaan Teknologi Informasi akan semakin membuka lapangan pekerjaan. Bisnis yang berbasis Teknologi Informasi atau yang biasa disebut e-commerce dapat mempermudah transaksi-traansaksi bisnis suatu perusahaan atau perorangan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi di bidang bisnis akan memberikan dampak positif yang besar untuk jalannya bisnis yang kita bangun. Munculnya peluang bisnis baru (E-business), dengan semakin majunya teknologi dan informasi maka akan mendorong orang untuk menciptakan beberapa peluang yang sangat menguntungkan dan sebagai modal dasar bisnis yang sangat menguntungkan.

Seminar diselingi dengan diskusi (tanya-jawab) dan berakhir pukul 14.30 Wib. Semua peserta diberikan Sertifikat yang ditandatangani oleh Ketua Umum IKAUTPUS, yaitu Linda Agum Gumelar, S.IP. (info gway)

IKAUT Pusat Berpartisipasi Sebagai Dewan Juri OPSI 2015 Disdik Bogor

Dewan juri

Pada hari Senin, 27 April 2015 hingga Rabu, 29 April 2015 telah berlangsung seleksi karya tulis peneliti remaja dalam ajang OPSI 2015 (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia) di wilayah Kabupaten Bogor. Dalam penilaian karya tulis tersebut Ketua II IKAUT Pusat, Hadijaya MPd ikut berperan sebagai Ketua Dewan Juri.

Pemanfaatan Kelapa Ijo Sebagai Minyak Urut dan Desinfectan Luka Patah Tulang

dogan


Kelapa merupakan salah satu komoditas perkebunan potensial yang telah lama dikenal dan banyak ditanam di seluruh Indonesia. Kebanyakan pemanfaatan buah kelapa hanya untuk memenuhi kebutuhan minuman es kelapa muda dan minyak goreng. Sekalipun kemana kita melangkah selalu menjumpai pepohonan kelapa, namun masih jarang masyarakat mengolah minyak kelapa tersebut menjadi minyak urut khusus patah tulang. Dari berbagai jenis buah kelapa yang banyak kita jumpai, hanya jenis kelapa ijo saja yang lazim diolah untuk minyak urut.
Kandungan minyak pada daging buah kelapa sekitar 43%, minyak kelapa merupakan ester dari gliserol dan asam lemak. Minyak kelapa digolongkan kedalam asam laurat karena kandung asam lauratnya paling besar jika dibandingkan dengan asam lemak lainnya. Sifat fisika dan kimia minyak kelapa meliputi kandungan air, asam lemak bebas, warna, bilangan iod, bilangan penyabunan dan bilangan peroksida. Asam lemak senyawa alifatik dengan gugus karboksil banyak dijumpai dalam minyak goreng. Bersama-sama dengan gliserol asam lemak merupakan salah satu bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas maupun terikat dengan gliserida. Berbagai turunan asam lemak seperti : amida asam lemak, alkohol asam lemak dan metil ester asam lemak dapat diubah kedalam berbagai turunannya melalui amidasi, klorinasi, hidrogenasi, sulfasi, sulfonasi dan reaksi lainnya. Biasanya asam lemak tidak jenuh terdapat dalam bentuk cis dan trans karena molekulnya akan bengkok pada ikatan rangkap. Asam lemak dengan atom karbon lebih dari dua belas tidak dapat larut dalam air dingin maupun air panas sedangkan untuk asam lemak dari C4, C6, C8 dan C10 dapat menguap. Ini disebabkan karena garam-garam dari asam lemak yang mempunyai berat molekul rendah dan tidak jenuh lebih mudah larut dalam alkohol daripada garam-garam dari asam lemak yang mempunyai berat molekul tingkat jenuh.
Amida asam lemak merupakan suatu senyawa kimia organik yang khas, dimana merupakan bahan padat yang memiliki aktivitas permukaan yang tinggi. Senyawa ini pada umumnya memiliki titik lebur yang tinggi, kestabilan yang baik dan paling menarik adalah memiliki kelarutan yang rendah dalam berbagai jenis pelarut. Amida asam lemak juga banyak digunakan dalam bidang pengobatan yaitu dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit infeksi antara lain disentri basiler yang akut, radang usus dan untuk mengobati infeksi yang telah resisten terhadap antibiotik. Selain itu senyawa amida dapat digunakan sebagai surfaktan dan anti mikroba.
Buah kelapa ijo dapat dimanfaatkan menjadi minyak untuk media pengobatan patah tulang maupun keseleo atau terkilir. Dalam dunia pengobatan patah tulang dikenal istilah sangkal putung atau pengobatan patah tulang tanpa menggunakan gips dan hanya dengan pemijatan menggunakan minyak urut. Penggunaan minyak kelapa sebagai minyak urut yaitu diramu dengan rempah-rempah tertentu misalnya bawang merah atau putih terutama untuk urut yang menghilangkan lelah, pegal atau masuk angin. Tapi bagi penderita patah tulang atau keseleo, minyak urut yang digunakan biasanya spesial yaitu dibuat dari minyak kelapa ijo atau kelapa hijau. Satu hal yang unik dari kelapa ijo tersebut adalah warnanya yang tidak begitu hijau bahkan cenderung bewarna agak kuning. Orang mengenal satu ciri khas kelapa ijo setelah mengiris kulit dibagian tangkai lalu melihat getah yang bewarna ungu, itulah ciri khas dari jenis kelapa ijo.
Untuk menghasilkan efek terbaik tak jarang para ahli pengobatan patah tulang mencampur minyak kelapa ijo itu dengan air tebu andong yaitu jenis tebu yang batangnya bewarna kuning.
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan minyak urut antara lain adalah kelapa ijo, air bersih serta tebu andong. Alat-alat yang diperlukan diantaranya baskom, ember, kantong plastik, alat parut, mesin peras, saringan, mangkok dll.
Cara Pembuatan Minyak Kelapa ijo :
Daging buah kelapa ijo diparut, kemudian ditambah air dan diperas sehingga mengeluarkan santan (campuran minyak dan air). Setelah itu dilakukan pemisahan air pada santan sehingga didapat santal kental. Tebu andong dikupas kulitnya lalu digiling supaya cairannya keluar. Santan dan air tebu dicampurkan dalam panci selanjutnya dilakukan pemanasan hingga mendidih. Akibat pemanasan, maka airnya menguap dan padatan akan mengerak. Gumpalan padatan ini disebut blondo. Minyak dipisahkan dari blondo dengan cara penyaringan. Blondo hasil samping pengolahan minyak murni dapat dinikmati dan enak dimakan.
Tukang urut atau paraji biasanya memasak santan tersebut sampai matang, minyak yang dihasilkan berwarna kecoklatan. Minyak urut tersebut diberi campuran air tebu. Air tebu berfungsi untuk membantu penyerapan minyak pada pori-pori kulit. Air tebu yang digunakan adalah berasal dari tebu khusus yang dinamakan tebu andong. Ciri-ciri dari tebu andong yaitu kulitnya berwarna kuning dan terdapat garis-garis kehijauan. Tebu andong termasuk golongan tanaman pekarangan.
Jika ada penderita patah tulang atau keseleo juga mengalami luka maka luka tersebut akan cepat kering dan tidak menimbulkan bekas jika diolesi dengan minyak kelapa ijo sangkal putung. Minyak kelapa ijo dipakai sebagai desinfektan karena dapat mencegah terjadinya infeksi dengan membunuh jasad renik (bakterisid), terutama pada permukaan kulit yang terluka. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas desinfektan yang digunakan untuk membunuh jasad renik adalah ukuran dan komposisi populasi jasad renik, konsentrasi zat antimikroba, lama paparan, temperatur, dan lingkungan sekitar. Bekas luka pada permukaan kulit akan memburuk jika selalu basah atau berair. Sebab ditempat yang basah tersebut bakteri mudah berkembang-biak. Sedangkan sifat minyak kelapa ijo sulit bercampur dengan air dan mengusir air sehingga perkembangan bakteri dapat dihambat dan luka akan cepat kering dan sembuh. Membran sel berguna sebagai penghalang selektif terhadap zat terlarut dan menahan zat yang tidak larut. Beberapa zat diangkut secara aktif melalui membran, sehingga konsentrasinya dalam sel tinggi.
Senyawa kation aktif seperti klorheksidin dapat berinteraksi dengan gugus-gugus yang bermuatan negatif pada dinding sel bakteri. Interaksi ini menyebabkan netralisasi muatan yang memfasilitasi adsorpsi zat aktif sehingga terjadi kerusakan dinding sel bakteri. Selain itu, klorheksidin juga menyebabkan presipitasi protein plasma sel bakteri.
Zat-zat yang terkonsentrasi pada permukaan sel akan mengubah sifat-sifat fisiknya sehingga membunuh dan menghambat sel. Perubahan permeabilitas membran sel bakteri merupakan mekanisme kerja fenol, dan senyawa amonium kuartener. Terjadinya perubahan permeabilitas membran sel menyebabkan kebocoran kostituen sel yang esensial sehingga bakteri mengalami kematian.
Minyak kelapa ijo memenuhi kriteria sebagai suatu desinfektan yang ideal karena mampu bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar, berspektrum luas, aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur, dan kelembaban, tidak toksik pada manusia, tidak bersifat korosif, bersifat biodegradable, memiliki kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap, tidak meninggalkan noda, stabil, mudah digunakan, dan ekonomis.
Paraji yang melakukan pengobatan patah tulang ilmunya berasal turun-temurun dari sesepuh atau leluhur. Namun ada juga yang bukan keturunan, ia mempelajari selama beberapa tahun karena banyak hal yang harus dipahami mengenai tulang dan persendian. Biasanya terapi penyembuhan dilakukan seminggu dua kali. Jika penderita mengalami patah tulang maka bagian yang patah harus diperban. Kalau disangkal putung menggunakan telur ayam kampung sebagai pengeras agar perbannya membeku sedangkan di rumah sakit media pengerasnya menggunakan gips. Telur dikocok dan dicampurkan dengan minyak kelapa ijo lalu dioleskan kepada penderita. Penderita patah tulang biasanya merasakan panas dibagian yang cedera maka minyak tersebut juga dapat berfungsi sebagai penyejuk agar penderita merasakan kenyamanan. Disamping itu minyak urut kelapa ijo yang dipadu dengan atsiri tertentu akan berguna mengatasi “kram kaki pada ibu dan anak”.

Harga minyak urut patah tulang per liter Rp. 500.000,-. Bagi yang berminat silahkan pesan dengan menghubungi Hadijaya di nope : 08128727937.

Asal Muasal Bubaban Dan Tarian Tigol – Sepenggal Kisah Muda Mudi Buay Tumi Yang Tercecer

dsn cmpk


Dahulu kala seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah juga pendiri Dinasti Sriwijaya, dia bernama Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Negeri dari Dinasti Sriwijaya awal ketika itu berpusat di Minanga Komering Ulu. Warahan dan Sejarah yang disusun didalam Tambo, menyatakan bahwa masyarakat Sekala Brak tersebut merupakan etnis atau suku-bangsa Tumi (Buay Tumi). Namun dari perjalanan masa yang begitu panjang, lambat laun ketenaran nama Buay Tumi makin senyap dan nyaris tak terdengar bahkan terlupakan.
Adanya pengkotak-kotakan (peta-comply) wilayah jajahan oleh Belanda di Sumatera Bagian Selatan dimasa lalu, menyebabkan nama Buay Tumi tereliminir dan tau-tau nama yang dilembagakan hingga kini adalah Komering. Konon katanya nama Komering itu mencatut nama seorang Hindi (India) pengumpul rempah-rempah yaitu mister Komring Singh yang dikenali Belanda sebagai manusia rakit yang sering dijumpai berlalu-lalang di sungai Komring hingga pedalaman, maka dinamailah sungai itu dengan nama sungai Komring atau Kumoring atau Komering. Bagian Wilayah Sumatera Selatan yang kita kenali hingga saat ini adalah Kabupaten OKU Timur dan OKU Selatan. OKU adalah singkatan dari Ogan Komering Ulu yang terletak diantara dua Provinsi yaitu Provinsi Sumatera Selatan (Palembang) dan Provinsi Lampung.

Karya sastra fiksi etnis Buay Tumi ini kami sajikan dalam rangka menyambut Dies Natalis Ke 30 UT yang mengusung tema “30 Tahun UT Melayani Bangsa” bersamaan dengan Pelantikan Pengurus IKAUT Pusat Periode 2014-2019 pada 4 September 2014 yad. Hadijaya, alumni UT mewakili komunitas Buay Tumi (Admin Grup FB OKU Komering Palembang : 5.005 anggota), kali ini menyajikan kisah adat pergaulan bujang gadis etnis Buay Tumi di Komering Palembang yang masih berlaku hingga kini. Sebuah budaya persembahan barang atau suatu benda dari seorang pemuda untuk gadis pujaannya atau yang lazim dikenal oleh bujang-gadis Komering dengan istilah “Bubaban”. Begitu pula halnya mengenai asal muasal “Tarian Tigol” yaitu suatu Tarian Perang yang digelar pada sesi pertemuan Kabayan (kedua mempelai pengantin) di Pokon Lambahan (halaman rumah) mempelai wanita.

Karya sastra fiksi tulisan Hadijaya ini, diperkenalkan kepada khalayak sebagai sebuah perbendaharaan adat budaya Buay Tumi di Komering yang belum pernah dimuat dimedia masa. Sekalipun begitu budaya “Bubaban” serta “Tarian Tigol” masih berlangsung hingga kini di bumi Komering khususnya di dusun Cempaka OKU Timur. Inilah awal mula kisahnya :
Konon dimasa Buay Tumi doeloe itoe, ada tiga orang pemuda kembar dengan wajah dan perawakan yang sangat mirip sekali. Mereka masing-masing bernama Baban, Babin dan Babun. Karakter, gaya dan penampilan anak kembar yang sangat mirip itu sehingga warga Tumi cukup sulit mengenali mana yang Baban, mana yang Babin dan mana pula yang bernama Babun.
Sejak kecil mereka selalu seiya-sekata, bermain bersama bahkan kegiatan berburu hewan Menjangan di hutan atau menangkap ikan di sungai Komering dengan menggunakan Serampang juga menjadi kegemaran yang sama. Setelah beranjak dewasa (bujang) mereka mulai menyukai wanita (gadis). Mereka mendatangi dan bertamu kerumah belasan gadis di sejumlah dusun mulai dari Minanga sampai Kayu Agung. Namun hanya ada satu gadis anggun, hidung rancut (mancung), ramah dan cantik mempesona yang membuat ketiga saudara kembar tersebut mabuk kepayang. Gadis itu bernama Mauli dia adalah seorang gadis Buay Tumi yang sedang mekar dan berdiam di dusun Cempaka.

Gadis yang putih mulus semata wayang (anak tunggal), sehat sintal dan tubuhnya terawat dengan baik, rambutnya ikal mayang terpelihara. Makan minum yang disantapnya higienis. Mauli juga rajin mandi dengan air bunga 7 rupa, sehingga badannya segar mewangi. Mauli hanya mandi dirumah, tak seperti kebanyakan teman sepermainannya yang mandi di Pangkalan Bay (area pemandian wanita) dipinggir sungai. Sehingga Mauli lebih aman dari intipan pemuda bermata liar. Oleh sebab demikian ketiga saudara kembar itu : Baban, Babin dan Babun mulai terpikat dan sama-sama ingin memiliki Mauli. Mereka berharap suatu saat dapat mempersunting Mauli sebagai isteri atau pendamping hidup cikal bakal penurun generasi.
Ketiga pemuda tersebut selalu datang bersama-sama hanya untuk bertamu kerumah Mauli saja. Hubungan Mauli dengan ketiga pemuda kembar itu makin lama makin erat dan tanpa disadari ternyata Mauli pun menyukai mereka bertiga sekaligus. Hingga suatu hari orang tua Mauli mulai mencurigai keadaan ini dan mengantisipasi kemungkinan polyandry yang bakal terjadi. Anak gadis kesayangan keluarga Cempaka itu tak diperkenankan adat jika menikah dengan 3 pria sekaligus, maka Mauli diharuskan memilih hanya satu saja dari ketiga pemuda kembar yang paling dia sukai.
Suatu malam Ibunda si Mauli dititahkan Ayahanda untuk menanyakan pilihan hati putri mereka. “Mauli anakku ! … kini saatnya dikau tentukan satu saja dari ketiga pemuda kembar itu : Baban, Babin ataukah Babun saja sebagai calon suamimu !, … pilihlah satu nak, mana yang paling kau cintai !” kata ibunya lirih.
“Mauli bingung mak !, mereka bertiga itu sama daya tariknya, sama gantengnya, sama perangai dan sopan santunnya, … ananda tak tahu mana yang terbaik dari mereka untuk mendampingi hidupku kelak mak !” jawab Mauli dengan nada sedih sambil menutupkan wajah ke bantal.
Menyadari hal itu, ayah si Mauli lalu ikut sumbang saran dan berkata : “Bagaimana jika kita lakukan saja sayembara supaya ananda dapat menentukan mana diantara mereka yang terbaik !. Carilah ilham mulai malam ini nak, apalah kiranya macam sayembara yang akan kita buka untuk mereka bertiga itu nanti !”
Beberapa hari kemudian disaat ketiga pemuda kembar tersebut kembali berkunjung, Mauli disembunyikan keluarga dikamar. Ayah dan Ibunya secara langsung menyambut kedatangan tiga pemuda ganteng itu, mempersilahkan mereka duduk, lalu menyajikan “Bingka Taboh” yaitu penganan khas Buay Tumi berupa adonan Punti Taboh (Pisang Kepok) dan tepung beras yang dikukus lalu dipanggang hingga kering. Minumannya berupa “Way Kabung” yaitu cairan manis dari bonggol pohon aren bahan dasar pembuatan gula merah. Keluarga gadis dusun Cempaka itu sudah menyiapkan sebuah sayembara sederhana guna menyeleksi pemuda pilihan untuk anak gadis mereka yang kini mencapai masa duduk di pelaminan.
Ayah si Mauli mengawali pembicaraan dengan mengkonfirmasi terlebih dahulu maksud tujuan ketiga pemuda yang selalu ingin jumpa dengan Mauli. Setelah semuanya jelas bahwa mereka sebenarnya memiliki harapan yang sama untuk mempersunting Mauli, maka isi sayembara itupun disebutkan. Mauli mendengar semua pembicaraan dan mengintip dari celah bilik papan kamarnya dengan hati berdegup tak menentu.
Ayah si Mauli melanjutkan wejangan : “Begini nak !, sebenarnya kalian bertiga juga sama-sama disukai Mauli anakku, namun tentu saja yang akan menjadi suami Mauli hanya satu saja dari antara kalian, ini aturan adat yang harus dijunjung tinggi. Oleh karenanya kami buka sebuah sayembara untuk kalian dan hasil sayembara itu nanti biar Mauli yang akan menilainya sendiri !”.
Ketiga pemuda kembar tertunduk sambil menunggu apa yang hendak diucapkan oleh sang calon mertua perihal tema sayembara itu.
“Mauli berkeinginan agar kalian menyajikan “Cara Mengatasi Gangguan Nyamuk”. Datanglah kembali ke gubuk kami pekan depan lalu tunjukkan kepada Mauli gadisku, macam upaya apa yang paling baik menurut kalian masing-masing !” lanjut ayah Mauli seraya mempersilahkan tetamunya menyantap Bingka dan Way Kabung yang telah dihidangkan.
Setelah pamit pulang, ketiga pemuda kembar mulai berpikir serius untuk dapat menyajikan cara atau metode mengatasi gangguan nyamuk yang paling menarik , efektif, aman dan disukai Mauli. Mereka merenung dirumah sampai akhirnya masing-masing menemukan ide cemerlang.
Baban menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu memakai “Kelambu”. Mauli sebaiknya masuk Kelambu saja supaya tak digigit nyamuk, demikian pikirnya. Oleh sebab itu Baban mulai menenun kain halus lalu dijahitnya dengan tangan menjadi sebuah Kelambu berbentuk kubus dengan dimensi (p x l x t) kurang lebih : 1,5 Meter x 2 Meter x 2 Meter. Keempat sudut atap masing-masing diberi tali sepanjang 1 Meter, lalu diberinya pula aksesori berupa kain sulaman pada bibir pintu Kelambu sehingga kelambu yang dia kerjakan hampir seminggu lamanya itu terlihat unik dan menarik. Setelah selesai dikerjakan lalu Kelambu itu dia lipat dengan rapih siap untuk dipersembahkan kepada sang kekasih.
Babin menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu dengan cara melakukan “pengasapan (fumigasi)”. Nyamuk disekitar bilik rumah Mauli akan kuusir dengan asap supaya nyamuk-nyamuk menjauh dan tak menggigit kekasih hatiku, begitu pikirnya. Maka mulailah Babin mengumpulkan Babal (rontokan buah nangka yang kecil) yang dipungutnya dari bawah pohon Belasa Kepampang (pohon Nangka hutan). Babal-babal itu dia jemur dibawah terik matahari selama hampir sepekan agar benar-benar kering dan mudah dibakar. Sebakul babal kering sudah Babin siapkan untuk dibawa kehadapan Mauli sang kekasih.
Adapun Babun menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu dengan secara rutin mengusapkan “ekstrak Hantawali (Brotowali)”. Jika Mauli rajin membasahi tubuhnya dengan cairan Hantawali yang pahit itu maka kulitnya menjadi pahit pula dan nyamuk-nyamuk tak akan sudi menempel dikulit kekasihku, demikian gumamnya dalam hati. Oleh sebab itu selama beberapa hari Babun menyambangi semak-semak belukar dan bahkan masuk hutan untuk mendapatkan tanaman Hantawali. Setelah terkumpul 3 Kg Hantawali, lalu semua dicincang halus dan direbus dengan seember air hujan hingga mendidih. Ekstrak Hantawali yang telah disaring dengan baik dia masukkan dalam Bumbung (ruas bambu) dan siap dipersembahkan untuk Mauli sang kekasih.Sepekan pasca pemberitahuan mengenai sayembara itu, ketiga pemuda berangkat bersama menjumpai Mauli dirumahnya sambil membawakan masing-masing produk inovasi penangkal gangguan nyamuk. Mauli beserta ayah bundanya menyambut kedatangan mereka itu dengan antusias. Setelah mempersilahkan duduk, ayah Mauli segera membuka pembicaraan.
“Ananda bertiga tentu sudah siap mengikuti sayembara ini !, silahkan kalian secara bergilir menjelaskan temuan seperti apa yang cukup baik dalam mengatasi gangguan nyamuk” kata ayah Mauli sambil melirik masing-masing bawaan tetamunya dengan penuh rasa ingin tahu.
Baban lebih dahulu mendapat giliran untuk mempresentasikan kelambu hasil inovasinya. Sambil tersenyum hormat, si Baban berkata : “Yang Mulia Ayahanda !, ijinkan saya menyerahkan benda ini kepada adinda Mauli, sebuah Kelambu yang dapat digunakan malam hari pada saat adinda Mauli akan tidur. Adinda bersembunyi saja dalam Kelambu ini supaya nyamuk terhalang untuk mendekati dan adinda Mauli akan terhindar dari gigitan nyamuk. Cara memasangnya cukup mudah, ikatkan tali-temali Kelambu ini disudut kamar agar Kelambu membentang. Masuklah kedalam melalui bagian pintunya lalu rapatkan bagian bibir Kelambu dibawah kasur”.
“Bagus !… bagus !, giliran peserta kedua : ananda Babin, silahkan tunjukkan kepada kami, kiranya macam apa barang yang akan kau persembahkan buat Mauli ?” kata ayah Mauli sambil menerima persembahan Kelambu dari si Baban.
Babin bergeser tempat duduk agar lebih dekat jaraknya dengan si calon mertua sambil menenteng bakul berisi Babal kering dia pun berkata : “Perkenankan ananda menyajikan sebakul Babal kering ini sebagai pengusir nyamuk. Babal ini saya kumpulkan dari bawah pohon Belasa Kepampang, kemudian saya keringkan dengan cara dijemur dibawah panas matahari. Cara pemakaiannya, siapkan talam dan sebuah pemantik (korek api), lalu bakar pangkal Babal kering ini sampai mengeluarkan asap. Tempatkan talam pengasapan itu disudut kamar tempat tidur menjelang malam supaya nyamuk terusir dan tak mampu mendekati adinda Mauli”, kata si Babin penuh semangat.
“Wah … hebat ya !, sekarang giliran peserta ketiga atau yang terakhir yaitu ananda Babun. Silahkan tunjukkan kepada kami, kiranya macam apa barang yang akan kau persembahkan buat anak gadisku ?” kata ayah Mauli sambil menerima persembahan Babal Belasa Kepampang dari si Babin.
Babun dengan rasa penuh harap agar berhasil menjadi pemenang sayembara segera memberikan penjelasan. “Ayahanda yang saya hormati !, terimalah produk inovasi saya ini yaitu ekstrak Hantawali. Kita semua maklum bahwa cairan Hantawali ini rasanya pahit, dan justru hal itu akan menyebabkan disetiap lubang pori-pori kulit kita terkandung partikel air atau keringat pahit yang tak disukai nyamuk. Oleh sebab itu sudilah kiranya adinda Mauli nanti mengusapkan cairan ini disekujur tubuhnya”, kata si Babun sambil menyerahkan Bumbung berisi cairan Hantawali kepada ayah Mauli.
“Ide yang bagus sekali !, baiklah semua produk inovasi yang kalian sajikan ini saya sampaikan kepada Mauli untuk diuji-cobanya sendiri”, kata si calon mertua sambil memanggil anak gadisnya agar hadir dan duduk bersama diruang tamu.
Mauli pun keluar dari kamar diiringi ibunya, kini mereka sudah berkumpul semua. Ayah Mauli memberikan penjelasan bahwa Mauli harus mencoba produk inovasi yang disayembarakan ini, setelah itu dia harus memilih satu yang terbaik. Produk yang dinyatakan terbaik oleh Mauli akan diterimanya sebagai persembahan cinta sejati lalu sebagai konsekwensinya adalah Mauli harus bersedia dinikahi oleh si Pencipta Produk Anti Gangguan Nyamuk itu. Mauli setuju dan sepakat dengan aturan tersebut, demikian pula ibunya. Pemenang sayembara akan diumumkan ayah Mauli pekan berikutnya.

Selesai serah terima produk inovasi yang disayembarakan itu, ketiga pemuda pamit pulang. Didepan pintu rumahnya Mauli membagi-bagikan sebakul Lopot yaitu penganan dari bahan ketan campur kelapa parut yang dibungkus dengan daun kelapa kemudian dikukus sampai matang. Lopot itu dibuatnya sendiri dan sengaja dipersiapkan beberapa saat sebelum pertemuan.
Keesokan harinya Mauli mulai mencoba semua produk inovasi anti gangguan nyamuk satu-persatu. Menjelang malam, Mauli dibantu ibunya memasang Kelambu lalu Mauli bersama ibunda tidur dalam kelambu buatan si Baban. Cukup memuaskan, selama tidur malam itu mereka berdua aman dari gangguan nyamuk. Mauli bangun tidur dengan senyum ceria karena berhasil tidur nyenyak semalaman tanpa terusik seekor nyamukpun.
Dihari kedua Mauli mencoba mengatasi nyamuk dengan metode pengasapan. Ayahanda membantu Mauli membakar selusin Babal kering hingga berasap, kemudian mereka taruh dikamar serta ruang tamu. Asap ngebul memenuhi kedua ruang itu membuat nyamuk-nyamuk berlarian keluar rumah. Selama beberapa jam mereka bebas dari gangguan nyamuk namun tak lama kemudian terdengar suara batuk bersahut-sahutan. Rupanya ayah dan ibu Mauli yang sudah cukup tua itu tak tahan dengan bau asap yang begitu menyesakkan dada sehingga penyakit bengek mereka kambuh. Sambil geleng-geleng kepala Mauli segera memadamkan asap dari pembakaran Babal produk si Babin.
Dimalam ketiga, Mauli pun mencoba produk anti nyamuk buatan Babun. Cairan itu dia oleskan kesekujur badan ketika menjelang tidur. Mauli memang tak digigiti nyamuk selama beberapa saat namun jari tangannya menggaruk-garuk wajah serta bagian tubuh lainnya karena alergi. Rupanya cairan hantawali tak cocok dengan kulitnya yang begitu halus dan sensitif. Akibatnya Mauli tak dapat tidur nyenyak, ibunda menyuruh mandi lagi dimalam itu untuk membilas bekas cairan Hantawali dari tubuhnya. Mauli kapok dan tak ingin menggunakan cairan Hantawali itu lagi.
Ayah Mauli akhirnya memberitahukan nama pemenang sayembara itu, dia adalah Baban yang mempersembahkan sebuah Kelambu. Baban sangat bergembira karena dengan kemenangan dalam sayembara itu berarti cintanya direstui Mauli dan seluruh keluarga. Baban mulai merencanakan hari pernikahan dengan Mauli disaat bulan purnama nanti.

Namun lain halnya dengan Babin dan Babun yang gagal dalam sayembara itu, mereka berdua tak ingin menyaksikan pesta perkawinan Baban dan Mauli. Oleh sebab itu mereka berdua sepakat untuk pergi merantau jauh dari dusun Cempaka. Babin merantau ke ilir yaitu ke daerah Kayu Agung mengembangkan usaha Tembikar sedangkan Babun merantau ke ulu yaitu ke daerah Abung mengembangkan Tanaman Damar.
Pasangan suami isteri Baban-Mauli menetap di dusun Cempaka sambil mengembangkan usaha tanaman Duku dan Durian. Namun perkawinan tersebut tak berlangsung lama, Baban meninggal dunia dalam usia perkawinan mereka yang belum mencapai setahun. Berita mengenai kematian Baban baru diketahui Babin dan Babun 3 bulan kemudian, maklum ketika itu sistim informasi belum begitu canggih sehingga penyampaian berita memerlukan waktu relatif lama.
Rasa cinta Babin kepada Mauli rupanya belum padam, oleh sebab itu Babin yang menetap di Kayu Agung ingin pulang kampung untuk mempersunting Mauli yang sudah berstatus janda. Babun pun ternyata memiliki hasrat yang sama seperti Babin yaitu ingin menikahi Mauli sang janda kembang yang konon makin bersinar kecantikannya setelah 3 bulan menjanda. Oleh sebab itu Babun mengutus rombongan yang merupakan teman dan kerabatnya dari Abung untuk meminang Mauli. Namun sesampai didusun Cempaka rombongan tersebut baru tau bahwa si janda sudah sepekan lalu diperistri oleh Babin.
Rombongan Abung itu murka dan melakukan aksi makar untuk merebut kembali Mauli dan membawanya secara paksa kepada Babun di Abung. Peristiwa itu dikenang masyarakat Buay Tumi sebagai Perang Abung-Cempaka yang menyebabkan Babin terbunuh secara kejam. Babun sungguh menyesalkan peristiwa itu karena yang menjadi korban adalah saudara kembarnya sendiri yaitu Babin yang seminggu lebih cepat memperistri Mauli sang janda kembang. Adapun pimpinan rombongan Abung juga tak mengetahui bahwa antara Babin dan Babun sebetulnya masih bersaudara kembar.

Dengan perjalanan waktu dari masa ke masa nama Buay Tumi makin senyap, namun kenangan atas peristiwa itu disikapi masyarakat Komering masa kini dengan penuh hikmah dan diambil pelajaran berharga bahwa perkawinan antar insan bersifat sakral. Adat budaya yang hingga kini masih berlaku dilingkungan muda-mudi Komering intinya adalah menyerahkan souvenir kepada seorang gadis untuk mengungkapkan kesungguhan hati bahwa kelak si bujang akan meminang si gadis. Souvenir yang diberikan wujutnya macam-macam, bisa saja sebuah Kelambu, kain sarung, bahan pakaian, kelapa, beras ketan, gula, atau sembako dan sejenisnya. Benda-benda yang hendak diberikan bujang kepada gadis ini dinamakan dengan istilah “Baban”. Aktifitas yang dilakukan namanya “Bubaban”. Biasanya para gadis Komering membalas pemberian itu dengan penganan misalnya kue bolu atau jenis penganan lainnya hasil karya si gadis.
Aksi makar atau peperangan yang terjadi dalam memperebutkan mempelai wanita, kini di-ejawantahkan dalam bentuk tarian dengan nama “Tari Tigol”. Konon Tigol mengambil kata dasar “tigolgol” ataupun “tibagol” yaitu suatu perbuatan makar atau penganiyayaan. Namun karena etika moral dalam seni budaya mengutamakan dan menjunjung tinggi norma kebaikan maka nama tarian agak diplesetkan dikit dari tigolgol menjadi tigol saja. Tari Tigol biasanya dilakonkan oleh dua kelompok ahli pencak silat yang masing-masing menghunus parang panjang. Mereka bersilat dalam gaya tarian seakan-akan berperang untuk memperebutkan mempelai wanita.
Budaya Baban maupun Tari Tigol kini menjadi khasanah budaya lokal yang masih berlaku di wilayah Komering khususnya di dusun Cempaka dan perlu disosialisasikan kepada khalayak bukan hanya masyarakat Buay Tumi yang bermukim di Komering namun juga untuk para perantau Buay Tumi di seluruh penjuru tanah air. Biarlah sejarah masa lalu bergulir sedemikian adanya, namun perlu dilakukan sinkronisasi supaya cara pandang masyarakat menjadi pas : “Komering adalah nomenklatur Wilayah” sedangkan “Tumi adalah nomenklatur Suku”. Dalam catatan sejarah yang proporsional bahwa “Suku Tumi” sebenarnya tidak punah sebagaimana yang disinyalir orang selama ini, mereka masih ada hingga kini, mereka adalah “Wong Komring” atau “Jolma Kumoring” yang masih eksis dalam berbagai aspek kehidupan dibumi pertiwi.
Suku Tumi generasi terkini tentu saja sudah jauh lebih maju dalam hal peradaban, pendidikan maupun ketauhidannya. Masyarakat suku Tumi menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengenyam pendidikan tinggi bahkan peningkatan ketakwaan melalui ilmu tasauf. [Hadijaya Prabu Galihway]

Mahasiswi UT Juara 1 Lomba Karya Tulis 2014 Cikal Harapan

des5

Dessy Hardiyanti adalah seorang mahasiswi UT yang kini memasuki semester 7 pada Jurusan PG-Paud dari UPBJJ Jakarta. Dessy bergabung dalam tutorial di SMPN 11 BSD Tangerang Selatan yang dilaksanakan setiap hari sabtu.
Dessy sudah lama saya kenal karena dia berteman dengan Irhamullah anak saya yang pernah beberapa kali menjadi juara karya ilmiah se Jabodetabek yang diselenggarakan oleh sebuah Universitas Swasta di Jakarta Selatan. Setelah kuliah di UT, Dessy ternyata juga menjadi juara 1 lomba karya tulis. Berikut ini bincang-bincang yang kami lakukan melalui media Face Book.

Hadijaya : Lomba karyatulis itu siapa penyelenggaranya des ?

Dessy : Dari Yayasan penyelenggara sekolah Islam Cikal Harapan tempat Dessy kerja. Lomba karya tulis itu menjadi suatu acara rutin yang diadakan setiap tahun oleh Yayasan Permata Sari,

Hadijaya : Pesertanya dari mana saja ?

Dessy : Pesertanya adalah seluruh guru dan karyawan Sekolah Cikal Harapan dari TK – SMA dan dari semua Cabang Sekolah Cikal Harapan yaitu dari BSD, Jonggol, Percetakan Negara dan Depok.

Hadijaya : Ohh gitu … sudah berapa tahun Dessy bekerja di Cikal dan sebagai apa ?

Dessy : Bulan Juli nanti tepat 4 tahun om, Dessy di Cikal sebagai guru Taman Kanak-kanak.

Hadijaya : Apa tema lomba karya tulis ini des ?
Dessy : Tahun ini tema karya tulisnya “sekolah yang wow”. Lomba karya tulis ini merupakan salah satu kegiatan dalam acara pemilihan teacher of the year.

Hadijaya : Hadiah yang diterima Dessy apa saja ?
Dessy : Dapat sertifikat dan uang tunai 3 juta om !

Hadijaya : Wow…. rejeki nomplok ya des, bagaimana perasaanmu ketika mendengar pengumuman bahwa Dessy adalah Juara 1 ?
Dessy : Iya om alhamdulillah. Dessy juga gak nyangka akan menang karena sekian banyak guru mulai dari TK s/d SMA menurut perkiraan Dessy sebetulnya mereka itu berpengalaman dalam membuat karya tulis yang baik.

Hadijaya : Kapan, dimana dan siapa yang membagikan hadiah tersebut ?.
Dessy : Penerimaan hadiahnya kemarin tanggal 27 Mei 2014 di Bali, berhubung itu acara rutin tahunan “dari kita untuk kita” maka pengumumannya dilakukan pada saat studi wisata ke Bali dalam event teacher of the year 2014. Pembagian hadiah disampaikan oleh ibu Ida Ismail Nasution selaku yang mewakili Pimpinan Yayasan Permata Sari.
Hadijaya : Apa judul karya tulismu des ?
Dessy : Judulnya strategi pengembangan sekolah unggulan.

Hadijaya : Apa saja strategi yang Dessy kemukakan agar suatu satuan pendidikan bisa menjadi sekolah wow atau sekolah unggulan ?
Dessy : Dessy membahas tentang strategi manajemen sekolah yang baik, meliputi layanan siswa, dukungan terhadap bakat dan minat siswa, adanya dukungan terhadap suasana lingkungan belajar serta sarana prasarana agar tercapai suasana yang kondusif.

Hadijaya : Ok des, bincang-bincangnya cukup sekian dulu ya, kami dari Pengurus Ikatan Alumni UT ikut bangga dan gembira atas kemenangan Dessy meraih peringkat juara 1 dalam lomba karya tulis ini. Kami ucapkan selamat dan terimakasih atas semua informasinya, Oom akan memuat obrolan ini ke website alumni UT.
Dessy : Iya om.. sama-sama, nanti Dessy boleh baca ya om ?

Hadijaya : iya dong, tentu saja boleh des…. hehehe

Bakti Sosial IKA-UT Surabaya Untuk Bencana Alam Gunung Kelud

pageO

Laporan Drs. Fatchur Rachman MS
Sekretaris IKA-UT Wilayah Surabaya

Peristiwa meletusnya Gunung Kelud pada tanggal 14 Februari 2014, menyebabkan begitu banyak kerusakan di daerah sekitar. Daerah Kediri, Malang, Blitar dan sekitarnya merasakan dampak yang luar biasa bahkan sampai daerah Jawa Barat. Hujan abu beserta pasir dan kerikil menyebabkan banyak rumah warga yang rusak. Kawasan pemukiman yang berjarak 10 Km dari puncak gunung Kelud dinyatakan awas atau tertutup, para penduduk pun dihimbau untuk mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman.

Peristiwa meletusnya gunung Kelud ini menggerakkan hati para pengurus Ikatan Alumni Universitas Terbuka (IKA-UT) Pusat dan Wilayah Surabaya untuk mengadakan bakti sosial. Kegiatan ini pun disambut baik oleh anggota IKA-UT Wilayah Surabaya beserta mahasiswa, sampai dengan hari minggu tanggal 23 Februari 2014 bantuan yang terkumpul selain berupa barang juga berupa uang lebih dari Rp. 10 juta.

Bapak Drs. Fatchur Rachman MS selaku Sekretaris IKA-UT Wilayah Surabaya ditunjuk sebagai koordinator dan pelaksana penyaluran bantuan tersebut ke daerah yang membutuhkan. Beserta para pengurus IKA-UT wilayah Surabaya, Beliau menyiapkan bantuan berupa sembako seperti beras, gula, mie instan, air mineral, kopi dan susu untuk anak-anak. Selain itu bantuan juga berupa obat-obatan, pakaian dewasa dan anak-anak, perlengkapan mandi dan mencuci, celana dalam dewasa dan anak-anak, jarit, mukenah, jilbab, handuk, pembalut wanita, popok bayi dan sandal japit. Menyadari bahwa di pengungsian juga banyak anak-anak, maka pengurus berinisiatif memberikan 100 bingkisan untuk anak-anak yang masing-masing terdiri dari buku mewarna, buku cerita, pensil warna, mainan, susu dan snack (gambar 1 dan 2).

Pada hari minggu tanggal 23 Februari 2014 rombongan berangkat dari Surabaya pukul 08.00 WIB menuju Kediri (gambar 3). Dalam perjalanan rombongan berkoordinasi dengan Posko Bencana Kelud di Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri, dari petugas posko tersebut di dapatkan informasi bahwa para pengungsi di sekitar Kediri sudah kembali ke rumah masing-masing karena sudah dinyatakan aman & bantuan juga sudah banyak diterima.

Kemudian rombongan disarankan ke Posko Kelud di Pasar Ngantang-Pujon daerah Kabupaten Malang karena daerah tersebut masih memerlukan banyak bantuan maka rombongan IKAUT pun menuju ke daerah tersebut.
Selama perjalanan banyak terlihat rumah-rumah yang atapnya roboh dan sepanjang jalan terdapat gundukan-gundukan pasir (gambar 4).
Tampak terlihat pula banyak sukarelawan beserta tentara dan polisi membersihkan jalan-jalan supaya mudah dilalui oleh kendaraan. Sesampai di Posko tersebut rombongan disarankan ke posko yang terdekat dengan tempat pengungsian yaitu di area wisata Bendungan Selorejo. Para pengungsi sementara ini berada di cottage atau hotel di dalam area wisata tersebut. Posko ini merupakan posko terdekat dengan daerah yang terkena bencana, sehingga masih tampak larangan memasuki area tersebut (gambar 5).

Rombongan sampai di daerah wisata Bendungan Selorejo pukul 12.30 WIB, sesampainya disana rombongan juga bertemu dengan artis Dorce Gamala beserta rombogannya dari Jakarta. Di posko tersebut bantuan berupa sembako oleh Bapak Drs. Fatchur Rachman MS beserta dengan perwakilan pengurus IKA-UT wilayah Surabaya diserahkan kepada Bapak H.Umar Said selaku koordinator posko penampungan bantuan (gambar 6-12).

Bantuan tersebut akan di salurkan langsung kepada para pengungsi yang daerahnya masih terisolasi karena akses jalan seperti jembatan telah putus terkena aliran lahar dingin. “Terima kasih Kami ucapkan kepada seluruh pengurus IKA-UT Pusat dan wilayah Surabaya atas bantuan yang telah diberikan, insyaAllah amanah ini akan langsung kami salurkan kepada warga”, demikian ungkapan terima kasih Bapak H.Umar Said.
Selain itu bantuan berupa 100 bingkisan untuk anak-anak dan susu diserahkan oleh Bapak Drs. Fatchur Rachman MS beserta dengan perwakilan pengurus IKA-UT wilayah Surabaya kepada Ibu Hj. Umi Kulsum selaku kepala sekolah PAUD dan TK di desa Pandansari serta Bapak H.Drs Nanang selaku kepala sekolah SDN di desa Pandansari. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih sekali kepada seluruh donatur karena di saat bencana seperti anak-anak masih mendapatkan perhatian, terima kasih atas bingkisan yang telah diberikan”, tutur Ibu Hj. Umi Kulsum. Begitu juga dengan Bapak H.Drs Nanang “semoga segala amal donatur di balas oleh Allah SWT” (gambar 13-15).
Setelah menyerahkan seluruh bantuan, pukul 15.00 WIB rombongan berpamitan dan bergegas kembali ke Surabaya diiringi cuaca mendung menandakan akan turun hujan. Demikian kisah perjalanan rombongan perwakilan pengurus Ikatan Alumni Universitas Terbuka (IKA-UT) Wilayah Surabaya menuju ke posko bencana gunung kelud.