Category Archives: SENI DAN BUDAYA

Halo Sahabat Hutan Indonesia

Pada mulanya, saya mendapat kiriman email dari pencinta hutan Indonesia yang bercerita tentang pengalaman mereka saat masuk rimba. Semua yang dikisahkan itu sangat menarik sehingga saya pikir alangkah baiknya jika pengalaman masuk rimba Indonesia dapat dibaca oleh berbagai kalangan terutama anak dan remaja baik di desa maupun perkotaan. Tujuannya tentu saja agar kita semua memiliki kepedulian akan pelestarian hutan Indonesia termasuk ekosistim yang terkait dengannya.
Website ini cukup efektif karena merupakan media pemberitaan kegiatan alumni Universitas Terbuka (UT) yang notabene alumni UT tersebar dimana-mana mulai dari perkotaan hingga daerah terpencil di seantero Indonesia bahkan hingga manca negara. Saya yakin sepenuhnya bahwa rekan rekan alumni UT akan terpanggil untuk turut menjadi sahabat hutan Indonesia.
hutan_gwyEmail pertama via Change.org yang saya terima isinya begini :
“Hadijaya, terus terang ya, waktu aku diajak masuk hutan Maret kemarin, aku takut! Bisa dibilang aku anak kota seutuhnya. Lahir, besar di Surabaya, berkarir di Jakarta. Tapi apapun rasa takut yang ada, menghilang saat aku dan suamiku Arlan, berada di dalam hutan. Perjalanan ke Sungai Buluh, Sumatera Barat yang panjang, sulit, dan melelahkan, akhirnya terbayar. Kesegaran udara yang kuhirup, Kejernihan air sungai yang mengalir, dan juga keramahan masyarakat sekitar hutan. Aku betul-betul terpesona! Pengalaman habiskan beberapa hari di hutan membuka mataku betapa pentingnya hutan untuk kita….dst”.
Pada respon tanggal 21 April 2017 tersebut Astrid Sartiasari minta kesediaan saya mengisi sebuah angket survey mengenai hutan dan pelestariannya.
hutan_astridRupanya ada lagi kiriman cerita dari sahabat hutan Indonesia pada tanggal 5 Mei 2017, dia adalah Glenn Fredly, begini sapanya : “Hadijaya, kemarin kamu diajak Astrid ikutan isi survey ya? Makasih banyak, hampir 25 ribu orang yang ikutan! Ini luar biasa. Semoga dengan masukan darimu, kita bisa ajak lebih banyak orang lindungi hutan. Kalau kamu belum ikutan surveinya, Hadijaya bisa isi di sini : change.org/10menituntukhutan.
Seperti Astrid, belum lama ini aku juga masuk hutan; Hutan Manusela di Maluku. Meski perjalanan kesana cukup melelahkan, aku rasakan pengalaman yang sangat berharga. Saat haus tinggal tarik akar pohon, dan minum air yang seger banget! ….dst”.
hutan_glennSaya memutar kembali memori masa lalu saat ikut kerja bakti membangun irigasi sepanjang 400 meter yang melintas di perkebunan salak Desa Turi Sleman Jateng, ketika itu Menwa bersama TNI bergabung dalam kegiatan AMD Manunggal III (1980). Irigasi ini sangat penting untuk mengairi areal hutan yang merupakan lahan perkebunan rakyat. Pernah pula kerja bakti menanam bakau di pantai Probolinggo Jatim (1981) yang merupakan bagian acara dari Latihan Peningkatan Mutu Kepemimpinan Menwa (LATPENMUPIN- MENWA). Hutan bakau ternyata penting untuk menahan erosi air laut serta memberi ruang bagi perkembang-biakan biota laut seperti udang, ikan dan sebagainya.

Kemudian Glenn berkata pula : “Perjalanan ke hutan itu akhirnya aku tuangkan dalam lagu bersama Astrid, Alam Urbach, dan Achi Hardjakusumah, kami buat MUSIKA FORESTA. Sebuah acara musik sekaligus aksi nyata lindungi hutan. Acaranya di Balai Sarbini, Sabtu 13 Mei 2017, jam 19.30. Hadijaya beli tiketnya dengan harga mulai 100 ribu. Semua hasil penjualan tiket akan digunakan untuk adopsi pohon di hutan. Jadi, semoga kita ketemu di sana ya! Sampai jumpa, salam hutan”.
hutan_gway5Email dia saya balas : “terimakasih Glenn, saya jadi terharu karena masa kecilku dulu pernah bertualang masuk hutan dengan teman-teman di Hutan Talang Kelapo Palembang”.
Jika Astrid dan Glenn punya pengalaman masuk hutan ketika sudah dewasa, saya bahkan mau cerita pengalaman masuk hutan ketika masih kelas 3 SD, begini ceritanya :
Saat libur sekolah, anak-anak kampung selalu bikin acara, entah main layangan, main klereng (ekar), adu biji karet, pantak-lele, main sludur di lapangan badminton, mancing dan sebagainya. Namun kali itu tak seperti biasa, teman-teman yang usianya relatif jauh lebih tua antara lain : Krisna, Wiwit, Kikit, Totok, mengajak saya, Gatot, Encap dan beberapa teman lain dalam suatu petualangan mencari tau lingkungan diluar kampung Sukabangun Palembang (Km 6), yaitu masuk hutan Talang Kelapo.
hutan_gway9hutangwayKami sepakat berangkat berjalan kaki dari Sukabangun mulai jam 7 pagi menuju Hutan Talang Kelapo (Km 9), suatu perjalanan yang cukup jauh dan beresiko untuk ukuran anak usia kelas 3-6 SD. Lepas dari kontrol orang tua dan berhadapan dengan alam rimba Talang Kelapo yang kala itu masih banyak babi hutan, bermacam ular (sanca, cobra dll).
Sesampai di areal Talang Kelapo, kami belok kiri menapaki jalan tikus terus menuju arah barat. Jalan kecil itu rupanya membelah kebun luas tak terawat dan penuh semak belukar yang merupakan bagian tepi hutan berbatasan dengan jalan raya. Tanaman tumbuh tak tertata baik, ada pepohonan karet, rambutan hutan, manggis dan yang paling banyak adalah pepohonan cempedak dengan diameter batang seukuran derum. Suara riang-riang mendenging merdu seolah menyambut gembira kehadiran kami, petualang cilik.
Tidak diketahui secara pasti apakah hutan itu milik Ulayat Marga Talang Kelapo ataukah milik perorangan. Setelah dua jam menyusuri hutan, hidungku dan juga teman teman mulai tergoda bau aroma cempedak yang jatuh dari pohon karena sudah matang dan mengundang selera untuk segera disantap.
cmpdk

Sambil uluk salam kami meminta kerelaan kepada “mbau rekso” (mahluk ghoib) disitu dengan maksud agar menyantap cempedaknya tidak ragu-ragu dan tidak takut kuwalat : … “wak ! kami minta cempedaknya ya wak !”, kata seorang teman yang paling dewasa memecah keheningan hutan. Lalu teman yang lain spontan menyahut : “silahkan nak…. silahkan diambil yang banyak !” Kami semua lalu tertawa terbahak-bahak sambil membelah itu buah cempedak yang besarnya seperti nangka.
Satu buah cempedak jadi rebutan sepuluh anak, semua kebagian walau belum mengenyangkan. Kami malah jadi ketagihan dan terus menyeruak masuk hutan lebih dalam lagi untuk mencari cempedak atau buah manggis yang jatuh dari pohon. Hingga akhirnya kami semua merasa kenyang bahkan mulai merasakan mabuk cempedak.

cmpedk
Kami terus berjalan dan tanpa sadar sudah menerobos hutan Talang Kelapo itu cukup jauh hingga sampai dipadang ilalang yang tanpa pepohonan. Tak lama kemudian kami berjumpa dengan 3 orang bapak-bapak pemburu hewan lengkap dengan bedil masing-masing, mereka berpenampilan mirip cowboy . Mereka berdiri ditepi sebuah sungai kecil, agaknya sedang menanti saat yang tepat untuk menyergap hewan buruan. Raut wajah mereka terlihat cukup tegang. Mereka agak terkesiap saat melihat kehadiran kami 11 orang yang secara tiba-tiba.
Kehadiran kami disitu tentu saja tidak disukai karena mengganggu aktifitas perburuan mereka. Seseorang dari mereka yang berkumis tebal dan wajahnya agak beringas, menghardik kami : “ngapo kamu maen kesini heh !!… disini banyak babi hutan, banyak ulo sawo, ado harimau …. ayo balek !!!” sergahnya sambil mengokang bedil.
Melihat gelagat yang kurang bersahabat itu kami buru-buru berbalik arah dan berniat pulang kerumah. Matahari sudah condong kearah barat, kira-kira saat itu sudah jam 2 siang. Kami mulai kembali balik arah melewati jalan-jalan tikus yang semula kami lalui.
hutan_gway7hutan_gway8Namun tiba-tiba terjadi kegelisahan dan stress berat karena kami baru saja kehilangan arah balik, … kami nyasar dan saat itu rasanya ingin sekali menangis. Untung teman-teman yang usianya relatif lebih dewasa berlagak tenang menghadapi situasi yang mulai gelap karena cahaya matahari tertutup pohon-pohon besar.
Kemudian kami sepakat untuk secara bersama melakukan shalat sunnat isticharoh 2 rakaat memohon diberi Allah petunjuk arah jalan pulang. Selesai shalat, kami masing-masing berdo’a, pikiran kembali jernih dan kami segera berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan.
Alhamdulillah…. berkat petunjuk Allah Swt, tiba-tiba seorang teman berteriak kegirangan sambil berkata : “hei… jingok tuh ! itu khan kulit-kulit cempedak bekas kito makan tadi, berarti kito ni tadi lewat situ !” katanya sambil menunjuk arah timur. Kami mulai agak sedikit lega dan terus melangkah sehingga berhasil keluar dari hutan rimba Talang Kelapo. Kami akhirnya sampai dirumah masing-masing Desa Sukabangun menjelang maghrib, dalam keadaan selamat semuanya… alhamdulillah ! Demikian secuplik pengalamanku bersama teman-teman sepermainan masuk hutan Talang Kelapo.
hutan_gway4Masih tersimpan dalam ingatan saya bahwa pada tahun 1960-an mulai dari batas kota Palembang (Km.5 = Pasar Palimo) sampai lapangan terbang Talang Betutu (jalan Kolonel H. Berlian) terdapat Hutan Pinus (Taman Saelendra), Talang Kelapo, Talang Betutu, Talang Buruk dan Alang-alang Lebar. 4 kampung ditepi hutan yang kala itu masih sepi penghuni masuk dalam wilayah Kabupaten Muba (Musi Banyuasin) yang berbatasan dengan wilayah kota Palembang.
Di Talang Betutu ketika itu terdapat lapangan terbang yaitu Lanuma Talang Betutu, kini namanya menjadi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sebagian wilayah hutan yang luas dan penuh pepohonan serta semak belukar itu secara lambat laun makin mengecil dan menyempit karena pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Untunglah pemerintah kota madya Palembang masih dapat mempertahankan sebagian hutan Taman Saelendra dan sebagian hutan Talang Kelapo menjadi paru-paru kota yaitu dengan dibangunnya Taman Punti Kayu.
hutan_gway1Punti Kayu artinya pepaya atau kates, berasal dari bahasa daerah Komering Ulu. Sebuah nama yang agak sedikit nyeleneh, kenapa hutan yang banyak ditumbuhi pinus, karet, cempedak serta pepohonan kayu tembesu itu malah mengambil nama punti kayu ?, tentu ada asal-muasalnya.
Di tepi hutan Taman Saelendra Km 8 pada era 60-an berdiri pos pemeliharaan hutan. Nampaknya ketika itu mulai dibudidayakan tanaman pepaya (punti kayu). Tanah sekitar hutan Saelendra yang penuh dengan humus itu sangat baik untuk mengembangkan berbagai jenis tanaman yang dapat dikonsumsi masyarakat terutama untuk mensuplay kebutuhan Pasar Palimo. Sebelumnya pepaya, buah-buahan dan sayur-mayur disuplay oleh warga yang bermukim di Soak Bato berbatasan dengan Kenten Laut yang jaraknya relatif jauh dengan Pasar Palimo.
hutan_grbkKendaraan pengangkut hasil pertanian ketika itu adalah gerobak sapi atau pedati yang berjalan sangat lamban terutama jika melalui daerah tanjakan Pal 7. Sekalipun sudah ada mobil oplet namun oplet lebih mengutamakan mengangkut orang bukan sayur mayur. Sebuah pilihan yang cukup baik dan relatif dekat Pasar Palimo jika sayur mayur ditanam dihutan Saelendra saja. Tanaman yang paling banyak ditanam memang punti kayu (papaya), namun ada pula cabe, kacang panjang, ubi dan sebagainya. Areal bekas kebun pepaya ditepi hutan itu kini telah disulap menjadi bagian depan atau pintu masuk kawasan wisata yang diberi nama Taman Punti Kayu.
Semoga sekelumit cerita ini dapat membangkitkan gairah bertualang dalam rimba khususnya bagi alumni UT dan mereka yang menjadi sahabat hutan Indonesia. Salam untuk semua.

Sekjen IKAUT Pusat Melaksanakan Upacara Siraman

sirmn


Sabtu, 20 September 2014,
Dilaksanakan Upacara Siraman putra Bapak Leles Sudarmanto Sekjen IKAUT Pusat di Balekambang Condet Jakarta Selatan. Upacara Siraman merupakan suatu tradisi adat budaya Jawa, biasa dilakukan oleh keluarga calon pengantin putri dan putra menjelang hari pernikahan.

Siraman mempunyai makna, memohon ijin dari kedua orangtua kemudian orang tuanya memberi restu. Sebelum melepaskan putra/putri tercinta untuk berumahtangga secara mandiri maka dilakukan prosesi terakhir kalinya terhadap sang putra/putri yaitu membersihkan diri, menggendong, dan menyuapinya. Sebagaimana kita maklumi bahwa Bapak Leles Sudarmanto adalah putra Wonogiri Jawa Tengah yang melanggengkan adat tradisi Jawa secara konsekwen. Kali ini adalah saatnya keluarga Bapak Leles Sudarmanto melaksanakan Siraman untuk ananda Nova Tri Endarto dengan mengundang seluruh kerabat dan handaitolan termasuk juga semua Pengurus IKAUT Pusat. Semoga seluruh keluarga selalu berbahagia dan dalam perlindungan Allah swt. [Indra Tjahyani]

Asal Muasal Bubaban Dan Tarian Tigol – Sepenggal Kisah Muda Mudi Buay Tumi Yang Tercecer

dsn cmpk


Dahulu kala seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah juga pendiri Dinasti Sriwijaya, dia bernama Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Negeri dari Dinasti Sriwijaya awal ketika itu berpusat di Minanga Komering Ulu. Warahan dan Sejarah yang disusun didalam Tambo, menyatakan bahwa masyarakat Sekala Brak tersebut merupakan etnis atau suku-bangsa Tumi (Buay Tumi). Namun dari perjalanan masa yang begitu panjang, lambat laun ketenaran nama Buay Tumi makin senyap dan nyaris tak terdengar bahkan terlupakan.
Adanya pengkotak-kotakan (peta-comply) wilayah jajahan oleh Belanda di Sumatera Bagian Selatan dimasa lalu, menyebabkan nama Buay Tumi tereliminir dan tau-tau nama yang dilembagakan hingga kini adalah Komering. Konon katanya nama Komering itu mencatut nama seorang Hindi (India) pengumpul rempah-rempah yaitu mister Komring Singh yang dikenali Belanda sebagai manusia rakit yang sering dijumpai berlalu-lalang di sungai Komring hingga pedalaman, maka dinamailah sungai itu dengan nama sungai Komring atau Kumoring atau Komering. Bagian Wilayah Sumatera Selatan yang kita kenali hingga saat ini adalah Kabupaten OKU Timur dan OKU Selatan. OKU adalah singkatan dari Ogan Komering Ulu yang terletak diantara dua Provinsi yaitu Provinsi Sumatera Selatan (Palembang) dan Provinsi Lampung.

Karya sastra fiksi etnis Buay Tumi ini kami sajikan dalam rangka menyambut Dies Natalis Ke 30 UT yang mengusung tema “30 Tahun UT Melayani Bangsa” bersamaan dengan Pelantikan Pengurus IKAUT Pusat Periode 2014-2019 pada 4 September 2014 yad. Hadijaya, alumni UT mewakili komunitas Buay Tumi (Admin Grup FB OKU Komering Palembang : 5.005 anggota), kali ini menyajikan kisah adat pergaulan bujang gadis etnis Buay Tumi di Komering Palembang yang masih berlaku hingga kini. Sebuah budaya persembahan barang atau suatu benda dari seorang pemuda untuk gadis pujaannya atau yang lazim dikenal oleh bujang-gadis Komering dengan istilah “Bubaban”. Begitu pula halnya mengenai asal muasal “Tarian Tigol” yaitu suatu Tarian Perang yang digelar pada sesi pertemuan Kabayan (kedua mempelai pengantin) di Pokon Lambahan (halaman rumah) mempelai wanita.

Karya sastra fiksi tulisan Hadijaya ini, diperkenalkan kepada khalayak sebagai sebuah perbendaharaan adat budaya Buay Tumi di Komering yang belum pernah dimuat dimedia masa. Sekalipun begitu budaya “Bubaban” serta “Tarian Tigol” masih berlangsung hingga kini di bumi Komering khususnya di dusun Cempaka OKU Timur. Inilah awal mula kisahnya :
Konon dimasa Buay Tumi doeloe itoe, ada tiga orang pemuda kembar dengan wajah dan perawakan yang sangat mirip sekali. Mereka masing-masing bernama Baban, Babin dan Babun. Karakter, gaya dan penampilan anak kembar yang sangat mirip itu sehingga warga Tumi cukup sulit mengenali mana yang Baban, mana yang Babin dan mana pula yang bernama Babun.
Sejak kecil mereka selalu seiya-sekata, bermain bersama bahkan kegiatan berburu hewan Menjangan di hutan atau menangkap ikan di sungai Komering dengan menggunakan Serampang juga menjadi kegemaran yang sama. Setelah beranjak dewasa (bujang) mereka mulai menyukai wanita (gadis). Mereka mendatangi dan bertamu kerumah belasan gadis di sejumlah dusun mulai dari Minanga sampai Kayu Agung. Namun hanya ada satu gadis anggun, hidung rancut (mancung), ramah dan cantik mempesona yang membuat ketiga saudara kembar tersebut mabuk kepayang. Gadis itu bernama Mauli dia adalah seorang gadis Buay Tumi yang sedang mekar dan berdiam di dusun Cempaka.

Gadis yang putih mulus semata wayang (anak tunggal), sehat sintal dan tubuhnya terawat dengan baik, rambutnya ikal mayang terpelihara. Makan minum yang disantapnya higienis. Mauli juga rajin mandi dengan air bunga 7 rupa, sehingga badannya segar mewangi. Mauli hanya mandi dirumah, tak seperti kebanyakan teman sepermainannya yang mandi di Pangkalan Bay (area pemandian wanita) dipinggir sungai. Sehingga Mauli lebih aman dari intipan pemuda bermata liar. Oleh sebab demikian ketiga saudara kembar itu : Baban, Babin dan Babun mulai terpikat dan sama-sama ingin memiliki Mauli. Mereka berharap suatu saat dapat mempersunting Mauli sebagai isteri atau pendamping hidup cikal bakal penurun generasi.
Ketiga pemuda tersebut selalu datang bersama-sama hanya untuk bertamu kerumah Mauli saja. Hubungan Mauli dengan ketiga pemuda kembar itu makin lama makin erat dan tanpa disadari ternyata Mauli pun menyukai mereka bertiga sekaligus. Hingga suatu hari orang tua Mauli mulai mencurigai keadaan ini dan mengantisipasi kemungkinan polyandry yang bakal terjadi. Anak gadis kesayangan keluarga Cempaka itu tak diperkenankan adat jika menikah dengan 3 pria sekaligus, maka Mauli diharuskan memilih hanya satu saja dari ketiga pemuda kembar yang paling dia sukai.
Suatu malam Ibunda si Mauli dititahkan Ayahanda untuk menanyakan pilihan hati putri mereka. “Mauli anakku ! … kini saatnya dikau tentukan satu saja dari ketiga pemuda kembar itu : Baban, Babin ataukah Babun saja sebagai calon suamimu !, … pilihlah satu nak, mana yang paling kau cintai !” kata ibunya lirih.
“Mauli bingung mak !, mereka bertiga itu sama daya tariknya, sama gantengnya, sama perangai dan sopan santunnya, … ananda tak tahu mana yang terbaik dari mereka untuk mendampingi hidupku kelak mak !” jawab Mauli dengan nada sedih sambil menutupkan wajah ke bantal.
Menyadari hal itu, ayah si Mauli lalu ikut sumbang saran dan berkata : “Bagaimana jika kita lakukan saja sayembara supaya ananda dapat menentukan mana diantara mereka yang terbaik !. Carilah ilham mulai malam ini nak, apalah kiranya macam sayembara yang akan kita buka untuk mereka bertiga itu nanti !”
Beberapa hari kemudian disaat ketiga pemuda kembar tersebut kembali berkunjung, Mauli disembunyikan keluarga dikamar. Ayah dan Ibunya secara langsung menyambut kedatangan tiga pemuda ganteng itu, mempersilahkan mereka duduk, lalu menyajikan “Bingka Taboh” yaitu penganan khas Buay Tumi berupa adonan Punti Taboh (Pisang Kepok) dan tepung beras yang dikukus lalu dipanggang hingga kering. Minumannya berupa “Way Kabung” yaitu cairan manis dari bonggol pohon aren bahan dasar pembuatan gula merah. Keluarga gadis dusun Cempaka itu sudah menyiapkan sebuah sayembara sederhana guna menyeleksi pemuda pilihan untuk anak gadis mereka yang kini mencapai masa duduk di pelaminan.
Ayah si Mauli mengawali pembicaraan dengan mengkonfirmasi terlebih dahulu maksud tujuan ketiga pemuda yang selalu ingin jumpa dengan Mauli. Setelah semuanya jelas bahwa mereka sebenarnya memiliki harapan yang sama untuk mempersunting Mauli, maka isi sayembara itupun disebutkan. Mauli mendengar semua pembicaraan dan mengintip dari celah bilik papan kamarnya dengan hati berdegup tak menentu.
Ayah si Mauli melanjutkan wejangan : “Begini nak !, sebenarnya kalian bertiga juga sama-sama disukai Mauli anakku, namun tentu saja yang akan menjadi suami Mauli hanya satu saja dari antara kalian, ini aturan adat yang harus dijunjung tinggi. Oleh karenanya kami buka sebuah sayembara untuk kalian dan hasil sayembara itu nanti biar Mauli yang akan menilainya sendiri !”.
Ketiga pemuda kembar tertunduk sambil menunggu apa yang hendak diucapkan oleh sang calon mertua perihal tema sayembara itu.
“Mauli berkeinginan agar kalian menyajikan “Cara Mengatasi Gangguan Nyamuk”. Datanglah kembali ke gubuk kami pekan depan lalu tunjukkan kepada Mauli gadisku, macam upaya apa yang paling baik menurut kalian masing-masing !” lanjut ayah Mauli seraya mempersilahkan tetamunya menyantap Bingka dan Way Kabung yang telah dihidangkan.
Setelah pamit pulang, ketiga pemuda kembar mulai berpikir serius untuk dapat menyajikan cara atau metode mengatasi gangguan nyamuk yang paling menarik , efektif, aman dan disukai Mauli. Mereka merenung dirumah sampai akhirnya masing-masing menemukan ide cemerlang.
Baban menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu memakai “Kelambu”. Mauli sebaiknya masuk Kelambu saja supaya tak digigit nyamuk, demikian pikirnya. Oleh sebab itu Baban mulai menenun kain halus lalu dijahitnya dengan tangan menjadi sebuah Kelambu berbentuk kubus dengan dimensi (p x l x t) kurang lebih : 1,5 Meter x 2 Meter x 2 Meter. Keempat sudut atap masing-masing diberi tali sepanjang 1 Meter, lalu diberinya pula aksesori berupa kain sulaman pada bibir pintu Kelambu sehingga kelambu yang dia kerjakan hampir seminggu lamanya itu terlihat unik dan menarik. Setelah selesai dikerjakan lalu Kelambu itu dia lipat dengan rapih siap untuk dipersembahkan kepada sang kekasih.
Babin menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu dengan cara melakukan “pengasapan (fumigasi)”. Nyamuk disekitar bilik rumah Mauli akan kuusir dengan asap supaya nyamuk-nyamuk menjauh dan tak menggigit kekasih hatiku, begitu pikirnya. Maka mulailah Babin mengumpulkan Babal (rontokan buah nangka yang kecil) yang dipungutnya dari bawah pohon Belasa Kepampang (pohon Nangka hutan). Babal-babal itu dia jemur dibawah terik matahari selama hampir sepekan agar benar-benar kering dan mudah dibakar. Sebakul babal kering sudah Babin siapkan untuk dibawa kehadapan Mauli sang kekasih.
Adapun Babun menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu dengan secara rutin mengusapkan “ekstrak Hantawali (Brotowali)”. Jika Mauli rajin membasahi tubuhnya dengan cairan Hantawali yang pahit itu maka kulitnya menjadi pahit pula dan nyamuk-nyamuk tak akan sudi menempel dikulit kekasihku, demikian gumamnya dalam hati. Oleh sebab itu selama beberapa hari Babun menyambangi semak-semak belukar dan bahkan masuk hutan untuk mendapatkan tanaman Hantawali. Setelah terkumpul 3 Kg Hantawali, lalu semua dicincang halus dan direbus dengan seember air hujan hingga mendidih. Ekstrak Hantawali yang telah disaring dengan baik dia masukkan dalam Bumbung (ruas bambu) dan siap dipersembahkan untuk Mauli sang kekasih.Sepekan pasca pemberitahuan mengenai sayembara itu, ketiga pemuda berangkat bersama menjumpai Mauli dirumahnya sambil membawakan masing-masing produk inovasi penangkal gangguan nyamuk. Mauli beserta ayah bundanya menyambut kedatangan mereka itu dengan antusias. Setelah mempersilahkan duduk, ayah Mauli segera membuka pembicaraan.
“Ananda bertiga tentu sudah siap mengikuti sayembara ini !, silahkan kalian secara bergilir menjelaskan temuan seperti apa yang cukup baik dalam mengatasi gangguan nyamuk” kata ayah Mauli sambil melirik masing-masing bawaan tetamunya dengan penuh rasa ingin tahu.
Baban lebih dahulu mendapat giliran untuk mempresentasikan kelambu hasil inovasinya. Sambil tersenyum hormat, si Baban berkata : “Yang Mulia Ayahanda !, ijinkan saya menyerahkan benda ini kepada adinda Mauli, sebuah Kelambu yang dapat digunakan malam hari pada saat adinda Mauli akan tidur. Adinda bersembunyi saja dalam Kelambu ini supaya nyamuk terhalang untuk mendekati dan adinda Mauli akan terhindar dari gigitan nyamuk. Cara memasangnya cukup mudah, ikatkan tali-temali Kelambu ini disudut kamar agar Kelambu membentang. Masuklah kedalam melalui bagian pintunya lalu rapatkan bagian bibir Kelambu dibawah kasur”.
“Bagus !… bagus !, giliran peserta kedua : ananda Babin, silahkan tunjukkan kepada kami, kiranya macam apa barang yang akan kau persembahkan buat Mauli ?” kata ayah Mauli sambil menerima persembahan Kelambu dari si Baban.
Babin bergeser tempat duduk agar lebih dekat jaraknya dengan si calon mertua sambil menenteng bakul berisi Babal kering dia pun berkata : “Perkenankan ananda menyajikan sebakul Babal kering ini sebagai pengusir nyamuk. Babal ini saya kumpulkan dari bawah pohon Belasa Kepampang, kemudian saya keringkan dengan cara dijemur dibawah panas matahari. Cara pemakaiannya, siapkan talam dan sebuah pemantik (korek api), lalu bakar pangkal Babal kering ini sampai mengeluarkan asap. Tempatkan talam pengasapan itu disudut kamar tempat tidur menjelang malam supaya nyamuk terusir dan tak mampu mendekati adinda Mauli”, kata si Babin penuh semangat.
“Wah … hebat ya !, sekarang giliran peserta ketiga atau yang terakhir yaitu ananda Babun. Silahkan tunjukkan kepada kami, kiranya macam apa barang yang akan kau persembahkan buat anak gadisku ?” kata ayah Mauli sambil menerima persembahan Babal Belasa Kepampang dari si Babin.
Babun dengan rasa penuh harap agar berhasil menjadi pemenang sayembara segera memberikan penjelasan. “Ayahanda yang saya hormati !, terimalah produk inovasi saya ini yaitu ekstrak Hantawali. Kita semua maklum bahwa cairan Hantawali ini rasanya pahit, dan justru hal itu akan menyebabkan disetiap lubang pori-pori kulit kita terkandung partikel air atau keringat pahit yang tak disukai nyamuk. Oleh sebab itu sudilah kiranya adinda Mauli nanti mengusapkan cairan ini disekujur tubuhnya”, kata si Babun sambil menyerahkan Bumbung berisi cairan Hantawali kepada ayah Mauli.
“Ide yang bagus sekali !, baiklah semua produk inovasi yang kalian sajikan ini saya sampaikan kepada Mauli untuk diuji-cobanya sendiri”, kata si calon mertua sambil memanggil anak gadisnya agar hadir dan duduk bersama diruang tamu.
Mauli pun keluar dari kamar diiringi ibunya, kini mereka sudah berkumpul semua. Ayah Mauli memberikan penjelasan bahwa Mauli harus mencoba produk inovasi yang disayembarakan ini, setelah itu dia harus memilih satu yang terbaik. Produk yang dinyatakan terbaik oleh Mauli akan diterimanya sebagai persembahan cinta sejati lalu sebagai konsekwensinya adalah Mauli harus bersedia dinikahi oleh si Pencipta Produk Anti Gangguan Nyamuk itu. Mauli setuju dan sepakat dengan aturan tersebut, demikian pula ibunya. Pemenang sayembara akan diumumkan ayah Mauli pekan berikutnya.

Selesai serah terima produk inovasi yang disayembarakan itu, ketiga pemuda pamit pulang. Didepan pintu rumahnya Mauli membagi-bagikan sebakul Lopot yaitu penganan dari bahan ketan campur kelapa parut yang dibungkus dengan daun kelapa kemudian dikukus sampai matang. Lopot itu dibuatnya sendiri dan sengaja dipersiapkan beberapa saat sebelum pertemuan.
Keesokan harinya Mauli mulai mencoba semua produk inovasi anti gangguan nyamuk satu-persatu. Menjelang malam, Mauli dibantu ibunya memasang Kelambu lalu Mauli bersama ibunda tidur dalam kelambu buatan si Baban. Cukup memuaskan, selama tidur malam itu mereka berdua aman dari gangguan nyamuk. Mauli bangun tidur dengan senyum ceria karena berhasil tidur nyenyak semalaman tanpa terusik seekor nyamukpun.
Dihari kedua Mauli mencoba mengatasi nyamuk dengan metode pengasapan. Ayahanda membantu Mauli membakar selusin Babal kering hingga berasap, kemudian mereka taruh dikamar serta ruang tamu. Asap ngebul memenuhi kedua ruang itu membuat nyamuk-nyamuk berlarian keluar rumah. Selama beberapa jam mereka bebas dari gangguan nyamuk namun tak lama kemudian terdengar suara batuk bersahut-sahutan. Rupanya ayah dan ibu Mauli yang sudah cukup tua itu tak tahan dengan bau asap yang begitu menyesakkan dada sehingga penyakit bengek mereka kambuh. Sambil geleng-geleng kepala Mauli segera memadamkan asap dari pembakaran Babal produk si Babin.
Dimalam ketiga, Mauli pun mencoba produk anti nyamuk buatan Babun. Cairan itu dia oleskan kesekujur badan ketika menjelang tidur. Mauli memang tak digigiti nyamuk selama beberapa saat namun jari tangannya menggaruk-garuk wajah serta bagian tubuh lainnya karena alergi. Rupanya cairan hantawali tak cocok dengan kulitnya yang begitu halus dan sensitif. Akibatnya Mauli tak dapat tidur nyenyak, ibunda menyuruh mandi lagi dimalam itu untuk membilas bekas cairan Hantawali dari tubuhnya. Mauli kapok dan tak ingin menggunakan cairan Hantawali itu lagi.
Ayah Mauli akhirnya memberitahukan nama pemenang sayembara itu, dia adalah Baban yang mempersembahkan sebuah Kelambu. Baban sangat bergembira karena dengan kemenangan dalam sayembara itu berarti cintanya direstui Mauli dan seluruh keluarga. Baban mulai merencanakan hari pernikahan dengan Mauli disaat bulan purnama nanti.

Namun lain halnya dengan Babin dan Babun yang gagal dalam sayembara itu, mereka berdua tak ingin menyaksikan pesta perkawinan Baban dan Mauli. Oleh sebab itu mereka berdua sepakat untuk pergi merantau jauh dari dusun Cempaka. Babin merantau ke ilir yaitu ke daerah Kayu Agung mengembangkan usaha Tembikar sedangkan Babun merantau ke ulu yaitu ke daerah Abung mengembangkan Tanaman Damar.
Pasangan suami isteri Baban-Mauli menetap di dusun Cempaka sambil mengembangkan usaha tanaman Duku dan Durian. Namun perkawinan tersebut tak berlangsung lama, Baban meninggal dunia dalam usia perkawinan mereka yang belum mencapai setahun. Berita mengenai kematian Baban baru diketahui Babin dan Babun 3 bulan kemudian, maklum ketika itu sistim informasi belum begitu canggih sehingga penyampaian berita memerlukan waktu relatif lama.
Rasa cinta Babin kepada Mauli rupanya belum padam, oleh sebab itu Babin yang menetap di Kayu Agung ingin pulang kampung untuk mempersunting Mauli yang sudah berstatus janda. Babun pun ternyata memiliki hasrat yang sama seperti Babin yaitu ingin menikahi Mauli sang janda kembang yang konon makin bersinar kecantikannya setelah 3 bulan menjanda. Oleh sebab itu Babun mengutus rombongan yang merupakan teman dan kerabatnya dari Abung untuk meminang Mauli. Namun sesampai didusun Cempaka rombongan tersebut baru tau bahwa si janda sudah sepekan lalu diperistri oleh Babin.
Rombongan Abung itu murka dan melakukan aksi makar untuk merebut kembali Mauli dan membawanya secara paksa kepada Babun di Abung. Peristiwa itu dikenang masyarakat Buay Tumi sebagai Perang Abung-Cempaka yang menyebabkan Babin terbunuh secara kejam. Babun sungguh menyesalkan peristiwa itu karena yang menjadi korban adalah saudara kembarnya sendiri yaitu Babin yang seminggu lebih cepat memperistri Mauli sang janda kembang. Adapun pimpinan rombongan Abung juga tak mengetahui bahwa antara Babin dan Babun sebetulnya masih bersaudara kembar.

Dengan perjalanan waktu dari masa ke masa nama Buay Tumi makin senyap, namun kenangan atas peristiwa itu disikapi masyarakat Komering masa kini dengan penuh hikmah dan diambil pelajaran berharga bahwa perkawinan antar insan bersifat sakral. Adat budaya yang hingga kini masih berlaku dilingkungan muda-mudi Komering intinya adalah menyerahkan souvenir kepada seorang gadis untuk mengungkapkan kesungguhan hati bahwa kelak si bujang akan meminang si gadis. Souvenir yang diberikan wujutnya macam-macam, bisa saja sebuah Kelambu, kain sarung, bahan pakaian, kelapa, beras ketan, gula, atau sembako dan sejenisnya. Benda-benda yang hendak diberikan bujang kepada gadis ini dinamakan dengan istilah “Baban”. Aktifitas yang dilakukan namanya “Bubaban”. Biasanya para gadis Komering membalas pemberian itu dengan penganan misalnya kue bolu atau jenis penganan lainnya hasil karya si gadis.
Aksi makar atau peperangan yang terjadi dalam memperebutkan mempelai wanita, kini di-ejawantahkan dalam bentuk tarian dengan nama “Tari Tigol”. Konon Tigol mengambil kata dasar “tigolgol” ataupun “tibagol” yaitu suatu perbuatan makar atau penganiyayaan. Namun karena etika moral dalam seni budaya mengutamakan dan menjunjung tinggi norma kebaikan maka nama tarian agak diplesetkan dikit dari tigolgol menjadi tigol saja. Tari Tigol biasanya dilakonkan oleh dua kelompok ahli pencak silat yang masing-masing menghunus parang panjang. Mereka bersilat dalam gaya tarian seakan-akan berperang untuk memperebutkan mempelai wanita.
Budaya Baban maupun Tari Tigol kini menjadi khasanah budaya lokal yang masih berlaku di wilayah Komering khususnya di dusun Cempaka dan perlu disosialisasikan kepada khalayak bukan hanya masyarakat Buay Tumi yang bermukim di Komering namun juga untuk para perantau Buay Tumi di seluruh penjuru tanah air. Biarlah sejarah masa lalu bergulir sedemikian adanya, namun perlu dilakukan sinkronisasi supaya cara pandang masyarakat menjadi pas : “Komering adalah nomenklatur Wilayah” sedangkan “Tumi adalah nomenklatur Suku”. Dalam catatan sejarah yang proporsional bahwa “Suku Tumi” sebenarnya tidak punah sebagaimana yang disinyalir orang selama ini, mereka masih ada hingga kini, mereka adalah “Wong Komring” atau “Jolma Kumoring” yang masih eksis dalam berbagai aspek kehidupan dibumi pertiwi.
Suku Tumi generasi terkini tentu saja sudah jauh lebih maju dalam hal peradaban, pendidikan maupun ketauhidannya. Masyarakat suku Tumi menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengenyam pendidikan tinggi bahkan peningkatan ketakwaan melalui ilmu tasauf. [Hadijaya Prabu Galihway]

Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi dan Karakter Bangsa

day3-berita-detail2-25-01-2013-meneg-pp

Pada tanggal 1 Februari 2013 Yayasan Putri Indonesia Mustika Ratu mengadakan malam penganugerahan Putri Indonesia 2012-2013. Perlu diketahui Mustika Ratu adalah milik salah satu alumni UT yaitu Ibu Mooryati Soedibyo. Kita harus berbangga diri sebab wanita yang lulus dari Universitas Terbuka banyak yang memiliki peran penting untuk kemajuan bangsa . Hal ini juga diungkapkan oleh Ibu Linda Amalia Sari Gumelar , Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang juga salah satu alumni UT .

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP memberikan pembekalan kepada para finalis PPI 2012-2013 dengan topik: Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi dan Karakter Bangsa yang dimoderatori oleh .

Peran Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi dan Karakter Bangsa memiliki tiga kata kunci, yaitu peran perempuan, ekonomi, dan karakter bangsa.

Perempuan dan laki-laki mempunyai kedudukan dan hak yang sama di muka hukum serta hak dan peran yang sama untuk berekspresi dan bekerja dimanapun dia berada dan berhak mendapatkan perlindungan sebagai warga negara. Secara teoritis tiga peran utama perempuan di Indonesia adalah peran reproduktif dimana fungsi perempuan yang dapat hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat anak didalam keluarga. Kedua, peran produktif dimana perempuan melakukan karya-karya produktif dengan berbagai profesi yang menghasilkan, baik jasa maupun pendapatan. Dan yang ketiga adalah peran sosial yaitu peran sosial perempuan yang banyak dilakukan untuk membantu masyarakat setempat tanpa imbalan atau gratis.

Wanita harus semakin empowered agar memiliki bargaining position yang dapat meningkatkan jejaring pergaulan dan kepercayaan diri serta kemandirian di bidang ekonomi. Terkait dengan peran perempuan/ibu di dalam pembangunan karakter bangsa, maka perannya juga menjadi krusial mengingat dewasa ini dengan adanya borderless world dari sisi teknologi, komunikasi, dan informasi yang kemudian masuk kedalam keluarga.

Melalui ajang Pemilihan Puteri Indonesia, para finalis PPI 2012-2013 diharapkan dapat ikut mensosialisasikan kepada masyarakat tentang perlunya membangun karakter bangsa yang positif terkait dengan penyebaran nilai-nilai untuk menghargai dan melindungi perempuan dan anak, mentransformasikan nilai-nilai egaliter, keadilan dan kesetaraan gender serta mengkampanyekan tentang lima issue strategis, antara lain:

1. Pentingnya peran ayah dan ibu di dalam tumbuh kembang anak dan menjaga serta melindungi anak dari tindak pelecehan dan kekerasan:
2. Pentingnya meningkatkan keterwakilan perempuan di bidang politik pada tahun 2014 yang akan datang:
3. Pentingnya meningkatkan peran perempuan di bidang ekonomi mikro, kecil, dan menengah:
4. Pentingnya perempuan dan anak perempuan di pedesaan mendapatkan akses di bidang iptek: dan
5. Pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak perempuan maupun anak laki-laki.

Sekilas Info Kegiatan Alumni UT Dalam Pengembangan Batik Nasional

untuk UT-3


Permata Timur 2 / Blok EE – 25, Jati Cempaka, Pondok Gede – Bekasi 17411
e-mail : indratj2422@yahoo.com

Web Profile :
www.facebook.com/indra.tjahjani
www.facebook.com/mbatikyuuuk

Komunitas Mbatik Yuuuk:
Mbatik Yuuuk!!! mengadakan kegiatan tiap bulan di Museum Bank Mandiri – Kota Toea – Pasar Minggu, Jakarta.
Silakan menghubungi: : 0811 1683 98

http://mbatikyuuuk.com
Email: mbatikyuuuk@yahoo.com

Mancing Buaya Sungai Komering

M3361S-3034

Apa yang diucapkan kadang-kadang menjadi kenyataan. Dipagi itu kami, akas Aji, ombay, mama Sip, bik Munah, mang Usup, serta pak lobu Asan, serombongan keluarga tengah bersiap hendak menuju huma (persawahan).
Rencananya hendak melaksanakan panen sebab padi sudah mulai menguning dan mengantisipasi siapa tau esok atau lusa datang banjir. Jarak antara perkampungan dan persawahan cukup jauh. Sarana transfortasi yang memadai untuk digunakan berkendara menuju huma kami hanyalah biduk, sampan atau perahu.
Segala piranti sudah dinaikkan keatas perahu, juga nasi, gula, kopi, piring, rokok berikut bantal-tikar juga dibawa. Secara kebetulan gulainya cuma sayur asem plus iwak hasin saja, maka dari itu mama Sip dan mang Usup tampak rada sewot air mukanya.
“Semangat… ayo semangat !, kenapa pula nyium bau iwak hasin kok tiba-tiba sewot”, kata bik Munah pada mang Usup adik bungsunya.
Mang Usup dan mama Sip, mereka berdua itu tukang menjalankan perahu besar. Kadang mereka berdua bergantian tugas, ada yang pegang satang bambu pendorong, satunya lagi pegang pengayuh sebagai kemudi biduk.
Lantaran akan mengeluarkan tenaga ekstra itulah, mungkin lebih tepat jika mereka berdua diberi makan enak. Tapi mau bagaimana lagi… lauk yang dimiliki cuma sekedar iwak hasin.
“Sebodo amatlah… asalkan hatiku tenang !”, kata mang Usup nyahut omongan bik Munah itu.
Pak Lobu Asan menghibur kedua anak muda itu : “mudah-mudahan nanti kita nemu gulai sedap yang nongol dari dalam sungai … hahaha !”, katanya sambil terbahak-bahak.
Selesai berkemas dan berdo’a sebentar, akas Aji memerintahkan rombongan untuk segera bertolak meninggalkan pangkalan (tempat menambatkan perahu). Air sungai saat itu rada melimpah hingga bibir tebing. Satang bambu panjang sudah tercelup cukup dalam di air, ruasnya yang tak basah kena air hanya tinggal sehasta saja.
Namun karena sudah terbiasa menjalankan perahu, mang Usup dan mama Sip menghadapi keadaan itu hanya slow saja. “Hayooo kebut … om !” kata mama Sip pada mang Usup sambil berseloroh.
Perahu itu meluncur cepat, baru setengah jam saja rombongan sudah mulai jauh meninggalkan pangkalan yang berada ditengah perkampungan penduduk.
Bibik mulai membuangi air yang tampias masuk biduk. Akas tengah asyik klepas-klepus ngudut bersama Pak lobu Asan.
Tak lama kemudian ombai nyapa bik Munah… “aey nah… nah !, … lihatlah dulu apa itu yang nongol dari dalam air ?”
“mana sih… apa sih mak ?” sahut bik Munah sambil melihat kearah haluan biduk.
Mendengar ombai dan bik Munah demikian serius saudara yang lain lalu ikut mengarahkan pandangan kehaluan biduk.
“aey… rusaaa, … rusaaa !!, … tuh dia berenang kesana nyelinap dibalik akar pohon !” kata pak Lobu Asan sambil jongkok.
Mang Usup dan mama Sip mengarahkan biduk ketebing. Tiba-tiba… “clentuuumb !”, mama Sip nyebur duluan lalu disusul pak Lobu Asan sambil memegangi ujung tali perahu.
Rupanya seekor rusa hampir tenggelam. Kemungkinan rusa itu ingin nyeberang dari hutan ke arah perkampungan penduduk, namun dia tak kuasa naik tebing karena tepi tebing yang curam dan licin. Sehingga akibat kecapean, rusa itupun nyaris tenggelam.
Istilahnya “mubazir” kalau dibiarkan saja. Rusa yang sebesar kambing itu rejeki, lumayan buat lauk makan di huma (persawahan).
Leher rusa itu segera dicekal mama Sip, pak Lobu Asan lalu menambatkan tali perahu ke tepi sungai. Setelah itu mereka berdua memeganginya. Serta-merta akas menjulurkan parang panjang yang barusan diasah tadi pagi. “Segeralah sembelih !” perintah Akas pada pak Lobu Asan.
Ombai dan bik Munah demikian suka hatinya. “…. hehehe Sup !, sebentar lagi kalian akan kumasakkan gulai enak !”, kata bik Munah pada mang Usup yang sedang membasuh tangan.
Selesai menyembelih, rusa itu lalu diikatkan dibelakang perahu dan perjalanan kami lanjutkan. Rusa yang telah disembelih itu diseret dibelakang perahu. Warna air sungai menjadi merah oleh darah rusa. Dalam hatiku mudah-mudahan biduk kami ini nantinya tak dibuntuti buaya.
Tak seberapa lama perahu sudah sampai di huma. Kami semua naik ke pangkalan, semua barang bawaan dipindahkan ke saung (gubuk). Akas lebih dulu naik ke saung, gembok yang menggelantung dipintu baru saja dibukanya.
Awak rombongan pemanen semuanya seolah sudah mafhum bahwa pagi itu bakal repot dengan pekerjaan masing-masing.
Bik Munah segera menyalakan diang perapian dan mulai menjerang air. Ombay, nenek kami yang tua renta segera menata garam dan segala macam bumbu dapur.
Mama Sip dan pak Lobu Asan sibuk menggotong rusa, diusung mereka ke kolong saung yang relatif tinggi.
Mang Usup sibuk mengumpulkan kayu suluh. Diusungnya satu batang balok yang rada besar untuk menggantung rusa agar dapat dikuliti dengan mudah.
Walhasil bik Munah dan ombay bagian tukang masak. Mang Usup, mama Sip dan pak lobu Asan bagian nguliti rusa. Akas si kakek yang mirip “popeye” melihat-lihat sebentar rusa yang sedang dikuliti, lalu beliau mengajak saya berjalan dipematang sawah memperhatikan padi yang siap dipanen.
“Berapa banyak semuanya kas ?” tanyaku tentang padi yang akan dituai.
“Lumayan… lumayan, kira-kira kita bakal mendapat seratus kaleng blek beras dan dua puluh kaleng blek ketan !” kata akas seraya menyulutkan korek api pada sebatang rokok yang terselip dibibirnya.
Kami berdua berkitar mengelilingi huma sebentar, lalu balik menuju saung kembali.
Daging rusa sudah beres dicincang mama Sip, hanya tinggal dicuci saja. Mang Usup masih sibuk membuangi kotoran dalam usus. Pak Lobu Asan tengah berupaya mengeluarkan otak dari tempurung kepala rusa itu.
Ombay memanggil dari atas saung : “oyy … kalau kalian pengen ngopi nih sudah tersedia !”
Pak Lobu Asan mengusung usus rusa itu menuju pangkalan, lalu direndamnya dalam sungai memakai keranjang. Maksudnya supaya sisa-sisa kotoran menjadi benar-benar bersih. Setelah membasuh tangan, iapun ikut bergabung minum kopi bersama.
Walhasil pada sekitar jam 10 pagi, urusan memanen baru saja akan dimulai. Pekerjaan memanen padi menjadi bagian tugas lelaki. Lama tak ikut memanen padi, tanganku terasa pegal. Pacet dan lintah demikian banyak, ada dua/ tiga ekor yang nyelinap dilipat pahaku. Tapi karena sambil ngobrol, menuai padi bisa jalan terus. Banyak padi yang diperoleh,tumpukannya mulai menggunung.
Ombai dan bik Munah sibuk memasak daging rusa, mereka tak  ikut nolongi menuai padi sebab daging rusa harus segera dimasak,  kalau tidak maka akan membusuk.
Paha dan bagian kepala rusa itu sudah dicantelkan diatas perapian, diasapi supaya kering.
Pada hari itu ombay dan bik Munah membuat opor dan rendang sebagai lauk makan.
Mang Usup dan saya sibuk menggotong karung-karung padi, ditaruh dibawah saung. Ngos-ngosan napas mang Usup lagi pula dia sedang kehausan. Iapun menuju dapur minta diberi air minum.
“aeh Sup… cicipkan dulu kuah opor ini, apakah sudah pas belum citarasanya ?” kata ombay sambil menyodorkan sesendok kuah.
“hmmm… sedap mak !, pas sekali…. enak, … enak !” kata mang Usup sambil minta lagi sesendok.
“aeh… sudah benar-benar lapar kamu ya ?!, segeralah ajak yang lain naik ke saung untuk makan bersama karena masakan sudah siap !”
Saya menyusul akas dan pak lobu Asan, kuberitau bahwa acara makan siang sudah dapat dimulai, “ombai bilang segera ke saung untuk makan siang !”.
“Baiklah, selesai makan nanti pekerjaan kita lanjutkan lagi !” kata akas kepada pak lobu Asan.
Tengah hari itu kami makan bersama. Agaknya itu merupakan pengalaman makan terindah yang pernah kualami.
Makan nasi dari beras pulen, gulainya opor dan rendang daging rusa yang dapat nemu. Tukang masaknya pun ahli betapa sedapnya masakan ombay dan bik Munah… memang patut diacungi jempol.
Saya teringat perkataan pak lobu Asan tadi pagi : mudah-mudahan nanti kita nemu gulai enak yang nongol dari sungai, rupanya itu menjadi kenyataan.
Rusa yang nemu dari sungai sudah dimasak menjadi gulai lauk makan di huma…. kami akhirnya bisa makan besar.
“Pucuk dicinta, ulam tiba !” kata mang Usup sambil nambahkan nasi kepiringnya. Bukan main enaknya makan di huma, perutku terasa begitu kenyang.
Selesai makan lalu merokok, ngobrol soal perolehan padi. Di hari itu perolehan padi sekitar 10 karung.
Selesai makan kena angin sepoi-sepoi di saung, tak lama sayapun terlelap tidur.
Begitu terbangun, sayup-sayup terdengar suara beduk lohor dari kampung. Mereka turun menuju pangkalan untuk berwudhu.
Saya masih duduk disaung, … tiba-tiba terdengar suara akas memanggil :
“san…. asan !, lihatlah kemari, usus dalam kranjang kamu itu ada yang mencurinya”.
Sayapun ikut mendekati pangkalan, ternyata ada dua buaya tengah berebut usus rusa yang direndamkan pak lobu Asan pagi tadi. Kranjang itu ditarik-tarik buaya, isinya terbuyar keluar dan dilahap habis buaya itu.
“Aey… buaya ini pengen dikail rupanya !” kata pak lobu Asan berang.

Di huma ada sungai kecil yang lebarnya cuma dua meter, namun disitu banyak lubuk pusaran air tempat ikan berkumpul. Dimana tempat yang banyak ikan, biasanya sering didatangi buaya.
“Punya kail besar nggak kanda ?” tanya mang Usup pada pak lobu Asan.
“Tak ada ! kita bikin saja makai besi behel, dibawah saung ada sepotong behel !” kata pak lobu Asan.
Behel setengah meter dipotong tiga. Ujungnya diasah dengan kikir agar tajam. Pangkalnya ditekuk supaya tali nilon besar dapat dikaitkan. Tali nilon itu panjangnya sekitar sepuluh meter.
Menjelang sore persiapan mancing dimulai. Umpan kailnya adalah kulit Rusa. Mata kail dibalutkan dalam umpan lalu diletakkan ditepi sungai. Ujung tali diikatkan ke batang kelapa yang tumbuh di tepi kali. Dibiarkan mengambang diatas permukaan air, tanpa ditunggu.

Tengah malam saat keenakan ngobrol, tiba-tiba terdengar suara gemericik air sungai. Namun karena suasana gelapnya malam maka kami sepakat untuk membiarkan saja. Mama Sip menyalakan senter kearah sungai, “mungkin buaya itu sudah terkait pancing !” katanya sambil tersenyum. “Biarkan saja sip !, besok pagi barulah kita angkat !” kata akas. Kami menginap di huma yang kondisinya benar-benar alami, terdengar suara nyanyian jangkrik dan belalang disana-sini diselingi suara burung pungguk.

Pagi-pagi selesai cuci muka, kami sarapan bersama, nasi goreng dengan lauk hati rusa.
Eiiy… sedap nian masakan ombai kami. Nasi goreng tersebut diberinya ketumbar dan sedikit terasi.

Selesai sarapan, kami para pria segera turun dari saung menuju pangkalan, saya sudah menyiapkan parang. Pak lobu Asan membawa serampang. Mama Sip dan mang Usup baru saja melepas kain sarung dan hanya memakai celana pendek. Akas masih klepas-klepus ngudut, beliau sebagai komandan operasi sedangkan yang lainnya siap diberi perintah.
Mang Usup baru akan melepaskan tali kail yang diikatkan dibatang kelapa, namun ia ditegur akas… : “Tahan sebentar sup !, kita ngatur strategi dulu, jangan tergesa-gesa begitu !” kata akas mengingatkan.
Saya dan mang Usup ditugasi akas memegang tali kail dan menarik buaya itu agar terseret naik ditepi tebing. Mama Sip tukang gebuknya. Pak lobu Asan tukang tikam pakai serampang.

Selesai dari pengarahan sebentar itu, lalu kamipun mulai beraksi. Tali kail sudah dilepas mang Usup dari batang kelapa. Mungkin karena buaya itu merasakan adanya getaran pada tali kail, maka buaya itupun meronta. Saya ikut memegangi tali kail.
“Ayoo… satu … dua !…. tariiik !” kata akas memberi instruksi.
“Klantuuumb !!”, buaya itu beraksi sambil membalik badan. Kepalanya mulai nongol kepermukaan air. Kami menariknya terus, maka buaya itu kemudian terseret ke tebing. Ekornya dilibaskan ke kiri dan kanan. Panci dan kuali yang lupa disingkirkan dari pangkalan karena belum dibasuh, akhirnya pada terlempar kena libas ekor buaya yang hitam itu.
Sekejap kemudian … caakk !, tengkuk buaya itu ditusuk pak lobu Asan. Buaya meronta hebat, namun ia lalu digebuk pula oleh mama Sip pakai kayu gelam…. “caloguuubb !….. caloguuubb !”.

Eksekusi selesai, buaya itu akhirnya terkapar tak berkutik.
Besar sekali badan buaya tersebut, hampir mencapai dua meter. Dari bawah perutnya terdapat tanda bahwa itu adalah buaya jantan.
Sejak penangkapan seekor buaya di lubuk itu, saya jadi takut mandi dipangkalan. Tentu disungai masih ada seekor sebagai pasangannya, yaitu buaya betina. Hmmm…. takut aghh !

Sumber :

http://cempaka-oku.blogspot.com/2010/12/ngawil-buha.html

Terjemahan cerpen berbahasa Komering (OKU SUMSEL) yang berjudul :

“NGAWIL BUHA”  (oleh : Hadijaya glr Prabu Galihway).

 

Pantun Anak Negeri

IMG_8279

Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum diungkapkan. Suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain. Pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat oleh sebab itu disukai dan digunakan hingga kini. Dengan berpantun seseorang akan berfikir dan bermain-main dengan kata… yuk kita berpantun untuk menjalin ikatan batin sesama alumni UT.

Bila tak punya buah ketimun.
Baiklah merujak mangga muda.
Dari pada duduk melamun.
Marilah kita berpantun ria

Ayang-ayang buah kepayang
Dimakan mabuk dibuang sayang
Bila bepantun menjelang petang
Semoga pikiran menjadi terang

Anak perawan berlaku santun.
Menjadi idaman para pemuda.
Bila enggan membalas pantun.
Komenlah saja apa adanya.

Kentang dipanggang dalam situn,
Dihidangkan panas diatas meja,
Bila dikau tlah pandai berpantun,
Ajaklah teman meramaikan pula

Anak perawan disarang penyamun
Sedang di-incar para pendekar
Apalah sulitnya dalam berpantun
Asal ceplos saja krn msh belajar

Lamalah sudah tidak ke kebun.
Tanaman habis dimakan rusa.
Bukan adik tak bisa berpantun.
Hanyalah karena belum biasa.

Rasa tak sanggup mendaki bukit.
Lebih baik naik dipunggung kuda.
Belajar berpantun tidaklah sulit.
Lebih sulit belajar naik sepeda.

Hiburan menonton layar tancap.
Baru pulang kerumah dipagi buta.
Nyatakan cinta tak mesti diucap.
Cukuplah dengan kerlingan mata.

Jangan sering-sering merujak mangga
Sekali-sekali makan lah pisang tembatu
Gara-gara mengerling ke janda muda
Pulang kerumah dihadiahi palang pintu

Suara beduk dialun-alun
Bawalah obor mulai berjaga
Masuk fesbuk hampir 3 tahun
Tp bang mandor blom laku juga

Bang mandor pergi sejak pagi
Hendak menghalau kereta api
Sarapan dg semangkuk bakmi
Ibunya senyum haru dihati

Manis rasa si buah duku
Banyak dijual di tengah kota
Bang mandor bukan tak laku
Banyak syarat buat wanita

Duku Oku beli di Bogor
Sepuluh ribu dapat sebokor
Bang mandor tak mau tekor
Inginkan calon yg blom kendor

Bila suka di jalan terjal
Pake kerudung bewarna merah
Bila ingin cepat terjual
Tawarkan saja harga yg murah

Jalan-jalan ke pasar anyar
Beli es kopyor minum berdua
Silahkan saja dinda menawar
Bang mandor tentu menerima

Naik bajay keliling kota
Singgah dulu diwarung padang
Walau bang mandor sudah duda
Tapi perawan banyak yg senang

Makan rendang diwarung padang
Terasa pedas sambal balado
Walau perawan banyak yg senang
Tapi bang mandor milih yg jando

Minum es kopyor hanya berdua
Duduk disawah sambil ketawa
Kalau saja bang mandor suka
Jandanya itu beranak lima

Es kopyor manis diberi gula
Dihidangkan dg roti mentega
Bila si janda beranak lima
Bang mandor jd garuk2 kepala

Dodol garut berasa duren
Dibungkus rapi seperti permen
Dia cemberut dari kemaren
Berharap kamu kembali online

Tempoyak dibuat dari buah duren
Baju dia sobek dari kemaren
Tahukah teman istilahnya “duren”
Duren artinya adalah Duda Keren

Ikan belanak berenang-renang
Burung merpati membuat sarang
Makan tak enak tidur tak tenang
Teringat pada dinda seorang

Ikan belanak berenang-renang
Burung merpati terbang melayang
Makannya enak tidur tak tenang
Banyak makan perutku kenyang

Burung merpati nelor di kandang
Gadis nan elok makai selendang
Makan soremu terasa kenyang
Modal fb-an sampai subuh datang

Burung merpati nelor di kandang
Gadis nan elok makai selendang
Kalau memang siap menantang
Ayolah berpantun sampai petang

Pergi memancing ikan seluang
Umpannya blatung di daun pisang
Kalau bepantun sampai besok siang
Badan ‘kan loyo dan sakit pinggang

Berkurun lama pergi menjauh
Wajah ku lihat di dalam mimpi,
Kalau dah kasih sesama sungguh
Kering lautan tetap ku nanti,

Surat ku layang untuk berkata
Penyampai hasrat kata di hati,
Kalaulah sungguh kasihkan saya
jangan dibuang sampai ke mati.

Burung merbah bewarna putih
Bertengger diatas pohon duku
Kalau sudah sama berkasih
Cepatlah pula temui penghulu.

Hujan lebat di kampung hulu
Basah kuyup gadis berkebaya
Maksud hati ke rumah penghulu
Penghulunya pergi ke Surabaya

Beli rotan di potong lima
Untuk memagar mawar nan biru
Menyemat janji penuh setia
Di depan penghulu mereka bertemu

Hujan lebat di kampung panjalu
Banjirpun datang dihalaman istana
Hatiku pilu menunggu penghulu
Akad nikah kutunggu masih lama

Semangka non biji ada dipasar
Warnanya merah begitu segar
Aku ucapkan halo apa kabar ?
Dia diam seolah tak dengar.

Dari Bandung ke Majalengka
Naik saja bis Po. Merdeka
Kalau dinda pengen semangka
Datang saja ke Sekretariat kita

Jalan-jalan ke talang semut
Bawalah bambu dengan grobak
Jika pikiranmu sedang kusut
Cobalah dulu makan martabak

Jemput nenek di Stasiun Senen
Bawa karung berisi duren
Bila ada salah yg kemaren
Maafkanlah aku wahai my friend.

Pergi mancing ikan seluang
Umpannya blatung di daun pisang
Kalau adik balas pantun abang
Bang galih tentu bertambah sayang

Ikan seluang ramai berenang
Mencari makan disore hari
Hati adik tentulah senang
Ada bang galih yg pandai berperi

Ikan seluang dapat serantang
Beroleh mancing di batang ari
Adik gembira CekFendi pun senang
Menyambut maghrib sebentar lagi

Duduk mancing tak bersuara
Sambil meneguk air kelapa
Hati senang selalu gembira
Banyak dulur suka menyapa

Minum dogan si kelapa muda
Diteguk siang kantukpun datang
Kak galih tak segan menyapa yg muda
Bepantun senang tak ingat utang

Rasa asam buah mengkudu
Buat bahan pembuat jamu
Semakin lama hatiku rindu
Bilakah kita dapat bertemu

Buah mengkudu di buat jamu
Batang jati di buat kursi
Kalau rindu ingin bertemu
Ayolah datang ke grup alumni

Bau masak buah mengkudu
Dicampur gula serta es batu
Bila saatnya bermalam minggu
Abang Leles ga’ mau diganggu

Terdengar nyaring suara gendang
Diiring irama gambus melayu
Jangan bersedih wahai mbak Endang
Kang Leles tersayang tetap milikmu

Paling enak sambal terasi
Sama enaknya rasa kuwaci
Besok kita pergi ke Bekasi
Nantikan aku di Karawaci

Kutaruh kuwaci didalam laci
Buat sangu apel ke Bekasi
Nanti kutunggu di Karawaci
’Kan kusiapkan sebuah taksi

Berpacaran sambil makan kuwaci
Jalan terjalpun akan kudaki
Sebelum diriku tiba di Karawaci
Janganlah engkau mendahului

Naik pesawat dari talang betutu
Sampai di Suta setengah satu
Tentu kutunggu tepat waktu
Tapi bawakanlah aku cerutu

Kalau tuan pergi ke kota
Naiklah delman ataupun ojek
Kalau nanti tuan ke jakarta
Jangan lupa bawa mpek-mpek

Kuda hebat ada di pulau sumbawa
Indramayu menghasilkan mangga
Bukan hanya empek2 ’kan kubawa
Tekwan dan model tentulah juga

Hendak kupetik si asam kandis
Tak ada kawan, naik sendiri
Pantun disusun buat sang gadis
Supaya bisa menjaga diri

Duduk bersila para bangsawan
Kopiah tapis, berlipat tajung
Disapa abang tampan rupawan
Adik manis langsung tersanjung

Satu purnama kasih terajut
Si abang belum tampak belangnya
Tak perlu sembah tak perlu sujud
Si gadis sudah lengket hatinya

Riuh rendah budak tertawa
Beradu gasing ditengah laman
Kemana mana slalu berdua
Bagaikan benang dengan sulaman

Pisang batu si-pisang kelat
Makanan monyet ditengah hutan
Hati sang gadis sudah terpikat
Rasa nak mati ditangan tuan

Harum semerbak wangi kenanga
Taruh sekuntum didalam kamar
Hati sang gadis berbunga-bunga
Si abang tampan datang melamar

Angkat gelas Raja bersulang
Minum anggur berwarna merah
Pengantin senang bukan kepalang
Hajad sepekan meriah sudah

Kayuh sampan hingga kehulu
Hendak menuju ke Indragiri
Sembilan pekan sudah berlalu
Tahunya abang sudah ber-istri

Tebang buluh di pulau panggung
Buluh ulung sudahlah tua
Minta cerai kepalang tanggung
Si gadis sudah berbadan dua

Rebana – gendang, indah dipukul
Tari sembah lalu tampilkan
Alangkah berat beban di pikul
Sudahlah nasip dikandung badan

Aduhai kasihan si gadis manis
Dulu dipuja, kini di hina
Siang malam hati menangis
Sesali badan tiada berguna

Dari medan menuju jawa
Singgah sejenak di raja basa
Pesan untuk adik semua
Jaga diri, sebelum binasa

Si mata empat mencabut pedang
Karna serunting tantang berlaga
Harta dan rupa boleh dipandang
Akhlak dan budi, teliti juga

Sungguhlah nikmat labu perigi
Di campur gula santan kelapa
Kemana badan dibawa pergi
Nasihat bunda, jangan dilupa

Basahlah badan karena peluh
Sapu tangan, tolong ambilkan
Tersusun rapi jari sepuluh
Ada salah mohon maafkan.

Macan Komering

macan

Serial Cerita Rakyat Komring Ulu Sumsel
Oleh : Hadijaya (Kabid Pengembangan IT-IKAUT)

======================================================

 (BAGIAN-1)

Ketika waktu subuh itu, kakek Usin pergi sendirian menuju talang untuk menyadap getah karet. Pekerjaan demikian itu sudah menjadi kegiatan rutinnya sehari-hari selain bersawah.

Si Mat, temannya yang sama-sama sebagai penyadap kebetulan agak malas pergi masuk talang (hutan tanaman karet) karena anak muda itu baru beberapa hari lalu jadi pengantin (masih berbulan madu), … sehingga masih ingin bermalas-malasan ditempat tidur. Oleh sebab itu ketika kakek Usin memanggilnya dari halaman rumah, dia pura-pura tak mendengar.

Malah isterinya yang menyahut :
“Duluan saja kek !, … kanda nyusul sekitar jam sembilan !” katanya sambil mencubit pipi si Mat. Si Mat jadi nyengir senang, … karena cubitan tangan isteri dirasakannya halus dan lembut sebab wanita ini jarang bekerja berat.

“Baiklah … kalau begitu katakan saja pada Si Mat… saya jalan duluan !” kata kakek Usin sambil melangkah dengan mengusung parang.

Isteri Si Mat, lumayan cantik… kira-kira parasnya tak jauh beda dengan “Julia Perez” selebritis yang kerap main sinetron.

Sedangkan Si Mat, … dia termasuk tipe pemuda harapan pemudi. Badan besar tinggi, body building… sebab dia terbiasa menggendong keruntung. Dia kira-kira selevel dengan “Ade Ray”… sang binaragawan itu. Didesa mereka berdua itu termasuk kategori pasangan ideal.

Pasangan suami isteri ini baru saja keluar dari dalam kelambu, … lalu kata Si Mat : “Tolong dinda siapkan handuk, odol dan sabun, buat kanda mandi disungai !”.

Sambil merasa malu-malu dengan tetangga yang sama-sama hendak menuju tempat pemandian, Si Mat terus saja melangkah kearah sungai yang tak jauh dari rumahnya.

Dekat tangga ditebing sungai, mereka berjumpa dengan emak-emak yang masih famili, ada kemenakannya pula yang baru selesai mencuci. Si Mat kemudian diledekin mereka :

“aeh Mat tumben dikau bangun kesiangan, biasanya subuh dikau sudah ada disini”.
Adik misan-nya ikut menimpali : “yah.. yang namanya penganten baru, wajar saja bik kalau dia ini kesiangan”.

Si Mat seolah tak mendengar, dia hanya tersenyum sambil katanya : “hayo kalian buruan pulang sono, gantian dong makai tempat mandi ini… hehehe”.

Teringat dengan janjinya tadi akan berangkat ke talang nyusul kakek Usin, … maka Si Mat mempercepat mandinya. Selesai mandi junub, dia mengelap tubuh dengan handuk dan mengenakan baju … siap pulang.

Baru saja akan meninggalkan tempat pemandian, berjumpa pula dengan pamannya.
Sang paman mengabarkan bahwa talang karet dipekan terakhir ini kurang aman, karena ada sepasang macan (harimau) yang berkeliaran dan sudah menangkap seekor domba milik warga yang berdiam ditepi talang.

“Jadi jika kamu sekarang mau tak mau akan masuk talang, sebaiknya berhati-hatilah Mat !”
“Baik paman, terimakasih sudah mengingatkan”… kata Si Mat sambil pamit pulang.

Jalan-jalan ke talang,
Ketemu kebun karit,
Daunnya pada terbang,
Getahnya jadi duit.

Kakek Usin bersenandung sambil menumpahkan getah kedalam ember. Wajah dibalutnya dengan sorban sehingga hanya mata yang terlihat… sorban sebagai masker ini untuk mengatasi bau uap amoniak yang busuknya minta ampun. Getah tersebut bila tak diberi Amoniak akan lekas membeku, harganya tentu jatuh. Tetapi jika dapat menjual getah karet dalam keadaan cair, harganya tentu menguntungkan.

Kakek Usin belajar dari Dul Gitoh ilmu kimia kolloid tentang pengolahan karet sebab Si Dul adalah remaja dusun yang berpendidikan. Kakek Usin masih ingat dengan pembelajaran itu di talang, bukan didalam kelas. Si Dul menuliskan corat-coret di tanah pelajaran kimia.

“Kek… inilah rumus kimia larutan Amoniak :… NH4OH, yang gunanya untuk mencegah supaya getah tak lekas membeku, asam karboksilat harus stabil, supaya encer gunakanlah pada konsentrasi 25%, tuangkan kedalam botol plastik yang menggantung dibatang karet itu !” kata Si Dul membagi ilmu.

“Cara membekukannya nanti, bahan apakah yang harus ditambahkan ?… kudengar dari mereka pakai cuka para, apakah itu sama atau tidak dengan cuka dapur ?!” bertanya kakek Usin dengan harapan agar mengetahui pula ilmu yang ada dikepala anak pintar itu.

“Begini kek : … cuka dapur namanya asam asetat, rumus kimia-nya… CH3COOH, bukan untuk membekukan getah… jika untuk nyayur asem bolehlah itu”.

Getah akan membeku jika diberi cuka para sebagai koagulant yang memiliki nama lain yaitu asam semut atau asam formiat, rumus kimia-nya… HCOOH. Gunakan dalam konsentrasi minimal 25%, akan tetapi jika ingin hasilnya sangat beku, pakai saja dengan konsentrasi 75%.

Bilamana sedang berhadapan dengan bahan kimia tersebut, kakek Usin tak lupa pada pelajaran kimia terapan yang pernah diberikan Dul Gitoh.

Selesai memindahkan ember getah ke tengah kebun karet, kakek Usin lalu membawa jerigen cuka para, dituangkan kedalam botol plastik maksudnya untuk membekukan lima ember getah… namun tiba-tiba :

“Kroossaakk….. ghhrrr haauuuummm !!!” seekor macan yang besarnya nyaris menyamai sapi sudah tegak berdiri dengan dua kaki di hadapan kakek Usin.

Sontak kakek Usin jadi gemetaran seketika, ingin lari menghindar rasanya sudah tak kuasa, tiba-tiba dengkulnya berasa kaku tak mampu digerakkan, diapun diam terpaku sambil tangannya memegangi botol cuka para.

Dia berupaya mengusir macan itu dengan lirih : “husyy… husyy !!”, sambil meraih parang…. “husssy… husyy !”. Harimau itu malah makin mendekat.

Kakek mulai menyadari bahwa ia kini dalam bahaya, ia mencoba untuk bergerak sambil memposisikan kakinya untuk main pencak-silat. Namun diluar dugaan, rupanya ada seekor macan lain yang tiba-tiba menerkamnya dari belakang.
Kakek jatuh terjengkang, botol berisi cuka para terlempar keatas dan secara tak sengaja menyirami badan macan itu.

“Grhhh… hauuum !”… dada kakek diinjak dan dicakarnya sambil membukakan mulut kemuka kakek Usin. Mulut macan itu siap menggigit leher. Baunya busuk sekali seperti bau kucing mati dalam septic tank..

“Aku tak mau mati oleh macan… Yaa Tuhanku tolonglah !”. Kakek Usin serta merta berteriak menghiba.

Entah mengapa, tau-tau terjadi suatu keajaiban. Kedua macan itu tiba-tiba lari meninggalkan kakek Usin dan melompat masuk rimba.
Jiwa kakek Usin masih selamat, namun mengalami shock hebat, kelelahan pula karena dadanya penuh luka oleh cakaran kuku macan. Dia tergeletak ditengah kebun karet.

Waktu itu Si Mat sedang mampir di gubuk Dul Gitoh, dia sedang mencaritau berita mengenai domba warga yang hilang digondol macan.

“Domba itu saat pagi hari sedang makan rumput di belakang rumah mereka,… sorenya sudah raib !” kata Dul Gitoh menjelaskan.

Si Mat mula-i menjadi berang begitu mendengar perihal ada macan liar mengusik ketenangan warga. Si Mat minta kesediaan Dul Gitoh menemaninya menjemput kakek Usin.
“Baiklah Dul, kalau begitu temanilah saya ke talang menjemput kakek Usin !”.

Mereka berdua segera berjalan menuju kebun karet, … setelah puas berupaya mencari kesana kemari akhirna kakek Usin berhasil mereka temukan dalam keadaan sedang duduk selonjor dibawah pohon karet.

“Mari kek… kugendong pulang !” kata Si Mat sambil mengangkat badan kakek Usin kepundaknya.

Si Dul membereskan perkakas piranti menyadap getah karet sambil jalan beriring dibelakang Si Mat.

“Saya tidak apa-apa Mat, hanya sedikit luka jadi tak usah digendong karena saya masih mampu berjalan !” kata kakek Usin sambil turun dari pundak Si Mat.

Si Mat dan Si Dul berjalan sambil menuntun kakek Usin.
Baru saja sekitar sepuluh menit berjalan, terdengar pula suara : “hauuum …”, seekor macan yang tadi menyerang, kini akan menghalau kembali.

“Dul !… kawal saja kakek Usin, biarkan saya nanti yang akan menebas leher macan ini !” kata Si Mat memerintahkan agar mereka segera menjauh.

Si Mat mulai bersiap ancang-ancang dengan memasang kuda-kuda sambil memegang pisau belati.
Ketika macan itu lompat menerkam, Si Mat berkelit dan menyelinap kebawah sambil menancapkan belati diperut macan itu sehingga macan itu terluka parah.
Macan itu makin ngamuk dan menyambar dengan kukunya kebagian dada Si Mat, … kaos-nya tercabik. Si Mat salto keatas dan berhasil mendekap punggung macan. Leher macan itu dijepit sekuat tenaga dengan tangan kiri sambil terus menghujamkan belati berulang kali ke dada macan. Karena sakit dan terluka, macan itu lalu berguling-guling ditanah berdua dengan Si Mat. Kadang Si Mat diatas, kadang dibawah. Macan itu akhirnya mati, sementara badan si Mat penuh dengan luka serius.

Bersambung …….
NB : sumber cerita berjudul USIN HALIMAWONG
http://www.cempaka-oku.blogspot.com/2010/12/usin-halimawong.html

===================================================

(BAGIAN-2)

Sekalipun dalam pertarungan dengan macan itu Si Mat yang menjadi pemenang, namun ia nyaris kehabisan tenaga. Dul Gitoh menolongnya sambil juga memapah kakek Usin lalu melanjutkan perjalanan pulang ke desa.
Dalam perjalanan yang melelahkan itu mereka melihat sebuah gubuk (saung) tak berpenghuni ditepi rimba. Si Mat menyarankan agar ia ditinggalkan saja di gubuk tua itu untuk sementara waktu dan supaya Dul Gitoh dapat dengan mudah melanjutkan perjalanan mengantar kakek Usin. Sebetulnya Dul Gitoh agak khawatir meninggalkan Si Mat sendirian, namun iapun akhirnya menyetujui ketika Si Mat bersikeras dengan ide tersebut. Dul Gitoh berjanji akan segera balik kembali sambil mengajak para tetangga di desa. Si Dul dan kakek Usin melanjutkan perjalanan, sementara Si Mat beristirahat dulu di saung.

Hari kian gelap, lebih dari 2 jam Si Mat tengah menanti bantuan orang-orang desa akan tetapi bantuan itu belum juga datang. Dia-pun tertidur, tubuhnya terasa demam. Badannya panas-dingin, akibat banyak darah yang keluar. Kemungkinan terinfeksi virus Rabies dari air liur macan itu. Efek rabies dapat menimbulkan halusinasi pada penderita.

Ketika sedang lelap tidur… segerombolan semut hitam mengerumuni sekujur badannya mungkin karena bau sisa-sisa darah kering yang masih menempel ditubuh.
Si Mat terbangun saat mendengar suara macan mendengus-dengus di bawah saung. Si Mat ngintip dari celah-celah lantai papan. Tak salah lagi, itu ternyata suara dengus napas pasangan macan yang dibunuhnya tadi. Macan betina ini seakan ingin membalas kematian sang pejantan.

Si Mat diam tak bergeming, ia cukup tertolong karena jejak bau darah dibadan sudah tereliminasi semut hitam sehingga macan betina itu kehilangan jejak…. macan itu tak jadi naik keatas saung.

Tak seberapa lama kemudian macan itu mulai menjauh, Si Mat merasa agak lega.

Namun demikian rasa demam semakin berat. Si Mat kondisinya antara pingsan dan siuman.
Halusinasi mula-i menyerang, penglihatannya berkunang-kunang.
Pendengaran-pun mulai aneh-aneh… dia seakan mendengar suara orang berkumpul dipekan (pasar tradisionil), terdengar suara orang ngobrol dan tertawa-tawa.

Matahari mulai terbenam dan suasana gelap begitu mencekam, pepohonan rimba tertiup angin kencang seakan mau turun hujan. Si Mat sibuk membuang semut-semut yang masih menempel di badan.

Saat tengah menepis semut-semut… dia mendengar ada seseorang menaiki tangga saung dengan langkah berat. Orang tersebut sontak tercengang sambil berdiri dimuka pintu.

Mereka berdua sama-sama saling pandang. Orang asing itu menyapa duluan.
“Mengapa … tuan ada disini ?, saung ini milik kami… tempat ini adalah pos jaga kami !”

“Maafkan saya tuan, saya numpang berteduh sebentar, karena baru saja diserang macan, saya sedang mengalami keadaan darurat… !”, kata Si Mat sambil terus menatap orang tersebut.

“Baiklah, kalau begitu ikutlah dengan saya… nanti luka-luka anda akan kami obati ! “, balas orang itu sambil mengajak Si Mat turun dari saung.

Mereka berdua segera turun dari gubuk tua itu. Si Mat antara sadar dan tidak manut saja diajak lelaki setengah baya itu berjalan… dibawanya entah kemana.
Talang tempat mereka lalui makin terang oleh kemerlap lampu-lampu sentir. Suara tambur dan genderang kian nyaring terdengar. Nampaknya mereka berdua sedang menuju ke sebuah padepokan.

Tak lama kemudian mereka berdua memasuki sebuah gapura dan mulai terlihat sejumlah pria-wanita berlalu lalang. Namun dilokasi itu hanya orang-orang dewasa semua dan tak ada anak kecil disana. Seolah komunitas itu sedang menyambut kedatangan Si Mat dan pria yang mengawalnya.

Si Mat disambut tiga gadis cantik yang langsing dan putih kulitnya, … dikalungi mereka bunga cempaka. Lalu dituntun mereka memasuki rumah khusus pendatang.

“Inilah tempat beristirahat anda… tuan !. Ketiga gadis ini disediakan untuk melayani anda !” kata pengawal itu kepada Si Mat sambil pamit meninggalkan mereka.

Salah satu dari gadis itu mempersilahkan Si Mat menuju kamar tengah. Si Mat menuruti saja perintahnya. Setelah masuk kamar berdinding papan itu,  ketiga gadis itu serta-merta melepas pakaian Si Mat. Sebuah Jimat yang menggelantung dileher Si Mat dilepaskan mereka pula sambil gadis-gadis itu bercanda-tawa seolah sudah lama mengenali Si Mat.

Bekas-bekas luka dibadan Si Mat dilap-lap mereka dengan madu sambil terus memijat dan bermanja ria. Selesai berobat dan dipijat… Si Mat merasakan badannya kembali perkasa.
Si Mat dipakaikan oleh gadis-gadis itu pakaian kebesaran yang bagus. Tak lagi memakai pakaian komprang peranti menyadap getah karet.
Disalin mereka dengan celana beludru merah, kain songket merah benang mas, kemejanya teluk belanga jingga, sabuk kusir delman warna hijau, penutup kepala model tanduk kerbau. Sepatu kulit bertali temali sebagai alas kaki. Disemprot pula dengan minyak nyong-nyong aroma melati… walhasil harum semerbak, … keren abis.

“Bagus amat pakaian ini !, akan kalian apakan saya ini ?!” bertanya Si Mat kepada gadis yang sedang mencukuri jenggotnya.

“Tuan sebentar lagi akan kami pertemukan dengan paduka Putri Balamika !”

“Putri Balamika … siapakah dia ?, nama itu baru saja saya dengar dari kalian ?! kata Si Mat sambil memasang kembali jimat itu kelehernya.

“Beliau adalah Ratu kami disini !…. kata gadis itu sambil mengedipkan mata.

Tak lama kemudian… sang pengawal tadi datang sambil berkata : “Kalau sudah siap… bawalah calon mempelai pria ini keluar !”

Si Mat sontak menyahut : “Tuan !… saya sebetulnya sudah punya isteri di desa !, … baru saja seminggu yang lalu menjadi pengantin !”.

“Itu khan didesa kamu … kalau di-istana kami, siapa saja pria yang masuk wilayah ini dianggap bujangan !. Temuilah dulu ratu kami Putri Balamika, dia wanita tercantik di wilayah ini… kalau menolak nanti kamu bakal menyesal ! ”

“Okelah kalau begitu… dia segera akan saya temui !” kata Si Mat mulai tepengaruh.

Si Mat pun dituntun mereka keluar ruang penginapan. Tambur dan genderang dibunyikan lagi…. “tak tak dung… tak tak dung !”.

Sejumlah pria dan wanita muda ikut mengiring dibelakang Si Mat…. “tak tak dung… tak tak dung !” genderang terus dibunyikan.

Tak seberapa lama kemudian, rombongan pun sampai di muka pintu pendopo singgasana Putri Balamika.
Sang Ratu spontan berdiri tegak menyambut Si Mat yang hendak dipersuaminya. Mereka berdua saling adu pandang.
Si Mat mulai terpesona… “wadouu cantik amat wanita ini !”, gumamnya dalam hati sambil menelan ludah.
“Bagaimana pendapatmu Tuan ?… sudikah anda pada paduka Ratu ?!” tanya si pengawal pada di Si Mat.

Si Mat nyengir, sambil tersipu-sipu…. dia kurang pede dan khawatir jangan-jangan Putri Balamika nantinya berubah dan melakukan pembatalan setelah mengetahui bahwa Si Mat telah memiliki isteri, … disamping itu ia tidak mempunyai persiapan apapun dalam prosesi lamaran tersebut.

“Silahkan diaturi duduk !” sapa seseorang yang lebih dulu duduk sambil menyandar dipojokan…. ternyata dia sebagai penghulu.

Si Mat duduk berhadapan dengan Putri Balamika…
Bertanya penghulu pada Si Mat : “Tuan apakah anda bersedia menjadi suami Putri Balamika ?, sekalian menjadi raja yang mengepalai istana Balamika ?!”

“Sebetulnya saya…. saya…. saya bersedia !” jawab Si Mat sambil terlihat gugup dan bicara terbata-bata.

Putri Balamika tersenyum begitu mendengar ungkapan hati Si Mat. Giginya tampak putih dan rata, mulutnya mengeluarkan aroma harum… membuat gairah muda Si Mat kembali bangkit.

“Bila anda benar-benar suka pada paduka Putri Balamika, acara ijab-kabul ini akan kita mulai. Adakah sesuatu yang kamu bawa… maksud saya mas kawin yang akan anda berikan itu wujudnya seperti apa ?!”

“Wedeh belum ada pak !… sebab saya kemari dalam keadaan hendak pulang dari menyadap getah karet, jadi hanya membawa tatal saja !” kata Si Mat merasa tak enak hati.

Tatal adalah besi penggores seperti arit untuk melukai pohon karet agar getahnya dapat keluar.
Penghulu itu berbisik-bisik sejenak dengan Putri Balamika, kemudian sambil tertawa … ia bertanya lagi : “Benda apakah yang menggelantung dilehermu itu, jika digunakan sebagai mas kawin rela tidak ?!”

“Ohh… ini ?! …. ini jimatku, bila dikehendaki tuan Putri untuk mas kawin… ambil saja !” kata Si Mat seraya melepas jimat itu dari lehernya. Singkat cerita, akhirnya mereka jadi dikawinkan dengan mas kawin sebuah jimat.
Tak lama kemudian makanan yang enak-enak dibawa masuk ruang acara. Ada ayam kate panggang, ada pindang ikan puhal, samsam belalang rusa, kempelang, bingka, tapai, samalingkung dan ketan, anggur merah, siya jokjok, cuko kabung, mangga, duku… segala rupa makanan tersedia disana. Perut Si Mat tiba-tiba terasa lapar. Selesai ijab kabul semua tamu makan minum, bernyanyi, berjoget… berpesta pora penuh suka-ria. Si Mat pun ikut makan saling suap-suapan dengan sang Putri.

Selesai berpesta pora Si Mat dan Putri Balamika mulai meninggalkan para hadirin menuju kamar pengantin, mengadakan acara khusus pengantin. Dalam kamar itu mereka berdua ngobrol sambil berkasih mesra.

Jimat pemberian Si Mat kini digenggam Putri Balamika. Jimat itu telah menjadi milik Putri Balamika Sambil memeluk Si Mat, Putri Balamika minta agar jimat itu diikatkan dipinggulnya. Si Mat menuruti permintaan sang kekasih. Putri Balamika itupun lalu kembali mendekap erat tubuh kekar Si Mat.

Berada dalam pelukan Si Mat, sang Putri sempat menyandarkan pelipis didada Si Mat sambil berbisik lirih menuturkan bahwa sebenarnya Si Mat telah membunuh suami sang Putri dalam suatu perkelahian di areal hutan karet. Sang Putri merasa amat terpukul dengan kematian suaminya itu. Namun kesedihannya itu sirna karena Si Mat bersedia menjadi suami pengganti. Si Mat lebih guanteng lagi gagah perkasa, Putri Balamika jatuh hati padanya.

“Oh mungkinkah Putri Balamika ini, penjelmaan dari macan betina itu ?” Si Mat menggumam seakan tak percaya.

Si Mat menepis dugaan itu karena Putri Balamika demikian pasrahnya dalam pelukan Si Mat. Namun tiba-tiba tubuh Putri Balamika mengalami getaran yang hebat, badannya begitu dingin… tubuhnya dirasakan Si Mat makin kaku dan mengeras sejak mengenakan jimat itu. Tak lama kemudian badan Putri Balamika benar-benar menjadi beku dan alot seperti tanah liat. Si Mat demikian terkejut… dia tetap memeluknya sambi berharap kiranya kondisi tubuh Putri Balamika kembali normal seperti sediakala.

Apa yang diharapkan Si Mat sia-sia belaka, sang Putri telah berubah wujud menjadi gundukan tanah. Menyerupai patung wanita dari tanah liat lalu bentuk fisiknya berubah secara berangsur-angsur  menjadi gundukan tanah. Begitu menyadari semua itu, Si Mat pun terhenyak dan nangis mengharu-biru : “Oyy… dinda kenapa dirimu mengeras jadi tanah begini… !” katanya sambil terus memeluk gundukan tanah itu. Si Mat menyesalkan akibat mengenakan jimat tersebut Putri Balamika menjadi binasa.
Si Mat masih memeluk dan mencium balamika (tanah tumbuh = unur, unthuk/ jawa = balamika/komring), … dia dalam keadaan antara sadar dan tidak.

Angin kencang disertai hujan lebat mengguyur hutan karet itu. Suara tambur dan genderang terdengar kembali … “tak tak dung…. tak tak dung”. Mereka adalah rombongan Si Dul dari desa yang melakukan sweeping untuk mencari Si Mat dan baru saja tiba dilokasi. Begitu seorang diantara mereka mengetahui tempat Si Mat tersembunyi, merekapun berhenti membunyikan genderang.
“Ini dia Si Mat !” kata Si Dul kepada rombongannya sambil mendekati Si Mat.

Bahu Si Mat dipegang Si Dul sambil berkata :
“Hayo Mat kita pulang…. mohon maaf kami agak terlambat tiba disini. Sebetulnya kamu sudah menghilang selama dua hari ini. Kami mencarimu kesana kemari ternyata kamu berada disini !” kata Si Dul sambil menyeka air hujan yang membasahi wajahnya.

“Saya tidak ingin pulang… isteriku, … isteriku Balamika dia kini menjadi onggokan tanah… hadduuuhh !”

“Isterimu sebenarnya baik-baik saja Mat dan dia kini ada didesa, sedangkan yang kau dekap ini hanya gundukan tanah, … ini gundukan tanah Mat bukan binimu !”

“Tidaaaak !… jangan pisahkan aku darinya, dia adalah Putri Balamika, dia isteriku yang barusan saya nikahi !” kata Si Mat sambil nangis meraung-raung. Si Mat seperti orang yang lupa diri, dia dirasuk halusinasi.

Sedikit teori tentang Halusinasi, … dalam ilmu psikologi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa rangsangan reseptor panca indera. Istilahnya persepsi tanpa obyek. Dapat mendengarkan suara atau melihat sesuatu atau mencium suatu bau tanpa rangsangan visual maupun rangsangan dari indera penciuman.

Macam-macam jenis halusinasi, misalnya :
Halusinasi Visual, melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Atau merasakan seolah-olah melihat sesuatu yang orang lain tak melihatnya.

Halusinasi Akustik, mendengar suara-suara kacau balau. Ada pula halusinasi Phonema, mendengar suara-suara dengan sangat jelas.

Halusinasi Olafaktorik, misalnya mencium bau tertentu tanpa ada sumber bau.
Halusinasi Haptik, gejala halusinasi ini seolah-olah dia dapat bersentuhan secara fisik dengan manusia atau benda lain. Biasanya halusinasi ini berhubungan dengan masalah seksual.

Halusinasi Kinestik, jika ia merasa seolah-olah jiwa terlepas dari badan atau tiba-tiba merasakan badannya berubah bentuk atau bergerak dengan sendirinya.
Halusinasi Autoskopi, seolah-olah melihat badan sendiri saling berhadap-hadapan.

Isi halusinasi biasanya kecemasan. Apa saja yang dihalusinasikan itu adalah projeksi dari kebutuhan psikologi/ sensor/ perasaan bersalah/ keinginan untuk mendapatkan kenyataan yang lebih memuaskan.

Halusinasi dapat timbul karena penyakit toksik/ organik. Halusinasi berkurang bila pasien punya kegiatan, akan makin parah jika dia banyak melamun. Halusinasi pada orang normal, misalnya halusinasi Hypnagogi yang timbul ketika ia antara tidur dan terjaga.

Lanjut cerita…. Si Dul mulai kehabisan akal untuk merayu Si Mat. Menyadari hal itu maka pak Keria (Kepala dusun) yang memimpin rombongan berkata pada Si Dul : “Sudahlah dul !… mari Si Mat kita gotong saja dan bawa segera pulang ke desa !”. Akhirnya Si Mat mereka gotong beramai-ramai meninggalkan hutan karet dalam suasana hujan lebat yang tak kunjung reda. Setiba di desa, Si Mat mendapat pengobatan dan perawatan hingga beberapa hari kemudian iapun sembuh.

Pasca peristiwa itu masyarakat desa menjuluki Si Mat sebagai “Macan Komring”. Julukan ini diberikan karena keberaniannya berkelahi melawan macan. Sebulan kemudian Si Mat merantau meninggalkan kampung halamannya. Dia dibawa sang paman pergi merantau menambah bekal pengetahuan sekaligus meningkatkan kedigdayaan. Mereka berdua bertolak meninggalkan desa dikala malam bulan purnama menuju Gunung Pesagi, Pusat kebudayaan etnis Komring yang dikenal dengan sebutan  Sekala Brak berbatasan dengan wilayah Lampung.

[Bersambung …. ]

=================================================

(BAGIAN-3)

Walhasil… setelah berhari-hari dalam perjalan itu, maka mereka berdua akhirnya sampai di Gunung Pesagi. Si Mat mulai mengkaji sejarah masa lalu etnis Komering.

Mereka berasal dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah Gunung dan sebuah Danau yang luas. Danau tersebut ialah Danau Ranau. Sedangkan Gunung yang berada dekat Danau itu adalah Gunung Pesagi.

Adat Lembaga yang digunakan berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), sezaman dengan ranah pagaruyung pemerintah bundo kandung, naik Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka.

Ketika itu terdapat Kerajaan Sekala Brak kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak ini dihuni oleh Buay Tumi dengan Ibu Negeri Kenali dan agamanya Hindu Bairawa. Kala itu ada alat untuk mengeksekusi pemuda dan pemudi yang tampan dan cantik sebagai tumbal yang dipersembahkan untuk para Dewa.

Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan kerajaan kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.

Berdasarkan Prasasti Hujung Langit (Hara Kuning) bertarikh 9 Margasira 919 Caka yang di temukan di Bunuk Tenuar Liwa terpahat nama raja yang pertama yaitu Sri Haridewa. Prasasti ini terkait dengan Kerajaan Sekala Brak kuno yang masih dikuasai oleh Buay Tumi. Nama Raja yang mengeluarkan prasasti ini tercantum pada baris ke-7.

Lebih jauh lagi Sekala Brak Hindu adalah juga merupakan cikal bakal Sriwijaya, dimana saat persebaran awal dimulai dari dataran tinggi Pesagi dan Danau Ranau satu kelompok menuju keselatan menyusuri dataran Lampung dan kelompok yang lain menuju kearah utara menuju dataran Palembang. Seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah merupakan Pendiri dari Dinasti Sriwijaya yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri Minanga Komering.

Berdasarkan Warahan dan Sejarah yang disusun didalam Tambo, dataran Sekala Brak yang pada awalnya dihuni oleh suku bangsa Tumi ini mengagungkan sebuah pohon yang bernama belasa kepampang atau nangka bercabang karena pohonnya memiliki dua cabang besar, satunya nangka dan satunya lagi adalah sebukau yaitu sejenis kayu yang bergetah. Keistimewaan belasa kepampang ini bila terkena cabang kayu sebukau akan dapat menimbulkan penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya, namun jika terkena getah cabang nangka penyakit tersebut dapat disembuhkan. Karena keanehan inilah maka belasa kepampang ini diagungkan oleh suku bangsa Tumi.

Kerajaan Sekala Brak Hindu berakhir setelah kedatangan Empat Umpu Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam, nama kerajaan berubah menjadi Kepaksian Sekala Brak, terletak di kaki Gunung Pesagi yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah masyarakat ini menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran “way” (sungai-sungai) yaitu way komering, way kanan, way semangka, way seputih, way sekampung dan way tulang bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.

Di Sekala Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti Empat Serangkai atau Empat Sepakat.

Setelah perserikatan ini cukup kuat maka sejak itu disebarlah ajaran Islam di Sekala Brak. Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala Brak saat itu adalah seorang wanita yang bernama Ratu Sekerumong pada akhirnya ditaklukkan Perserikatan Paksi Pak. Dataran Sekala Brak akhirnya dikuasai oleh keempat Umpu yang disertai Si Bulan, Maka Sekala Brak kemudian diperintah oleh keempat Umpu dengan menggunakan nama PAKSI PAK SEKALA BRAK.

Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan maka pohon Belasa Kepampang itu akhirnya ditebang kemudian dibuat Pepadun yaitu singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan.  Ditebangnya pohon Belasa Kepampang ini merupakan pertanda hilangnya faham animisme di kerajaan Sekala Brak.

Suku Komering adalah satu klan dari suku Lampung yang berasal dari Kepaksian yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar abad ke 7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama Komering diambil dari nama way atau sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan Komering.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Komering

http://paksibejalandiway.blogspot.com/2008/09/kepaksian-sekala-brak-dan-asal-usul.html

 

 

PERAGAAN PEMBUATAN BATIK TULIS DIHADAPAN PUTRI MAHKOTA THAILAND

DR IR INDRA DI TAHIALAND

Sebagaimana diketahui bahwa Batik merupakan salah satu Warisan Budaya Indonesia yang eksistensinya telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada bulan September 2009, selanjutnya Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa tanggal 2 Oktober menjadi hari Batik Nasional.

ALUMNI UNIVERSITAS TERBUKA, DR.IR.INDRA TJAHJANI,SS,MLA,MMSI pada tanggal August 8 – 10, 2011 memperagakan memBatik dengan Canting, pada SCIENCE AND TECHNOLOGY EXPO di THAILAND yang berada dibawah MINISTRY OF SCIENCE & TECHNOLOGY Thailand diselengarakan di BITEC – Bangkok.

INDRA TJAHJANI – Pengurus IKAUT yang notabene bekerja di INDONESIAN INSTITUTE OF SCIENCES (LIPI) memperagakan pembuatan BATIK TULIS kepada PRINCESS MAHA CHAKRI SIRINDHORN dan berhasil menarik perhatian beliau sehingga beliau meminta camera kepada ajudannya dan kemudian memotret Indra sendiri. Menurut staf kerajaan Thailand ini adalah hal yang jarang dilakukan oleh Sang Putri.

Sebagai sesama rekan alumni UT, kita turut merasa gembira dengan kiprah jheng Indra yang telah melestarikan batik hingga ke mancanegara. Selamat buat jheng Indra.