IKAUT PUSAT Mensosialisasikan Teknologi Pembuatan Pupuk Organik Kepada Kelompok Tani Desa Sukajadi Bogor

skjd 2

Pupuk organik mulai digunakan orang terutama oleh para petani sayur-mayur, seperti terong, timun, cabe, tomat dan juga oleh para penggemar budidaya tanaman bunga seiring dengan pola manusia untuk kembali kepada produk-produk yang bersifat alami.
Pupuk merupakan komponen yang sangat penting untuk meningkatkan produksi pertanian. Pupuk organik memiliki kandungan hara yang bermanfaat seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain. Sekalipun sudah ada pupuk non organik (pupuk kimia) seperti Urea, ZA, TSP dan KCL yang terbukti mampu meningkatkan hasil pertanian namun penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dalam jangka waktu lama dapat merusak sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga kemampuan tanah untuk mendukung ketersediaan air, hara dan kehidupan mikro organisme menurun. Oleh sebab itu penggunaan pupuk organik merupakan solusi yang baik dalam mengimbangi penggunaan pupuk kimia.
Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, kompos, gambut, rumput laut dan guano. Jenis pupuk organik cair (POC) antara lain adalah kompos teh, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan hasil fermentasi limbah ternak dan lain-lain.
Pada dasarnya cukup banyak metode dan formula pembuatan POC namun dirahasiakan pembuatnya. Pembuatan POC ada dua macam yaitu metode ekstraksi (perebusan) dan metode fermentasi (peragian). Contoh metode fermentasi adalah pengolahan urine (air kencing sapi, kambing, kelinci), fermentasi ekstrak daun teh atau dedaunan dari tanaman lain-lainnya.
Sejumlah pupuk organik tersebut banyak kita jumpai dipasaran akan tetapi masih sedikit masyarakat atau petani yang mengetahui cara membuatnya. Ada juga beberapa orang yang menguasai teknologi pengolahan pupuk organic tersebut namun merahasiakan cara pembuatannya. Perbedaan kualitas satu POC dengan POC yang lain umumnya terletak pada komposisi dan jenis bahan yang digunakan. Formula sebuah POC tentu sangat dijaga karena menjadi penentu daya saing di pasaran.
Disisi lain kita melihat bahwa para petani sangat membutuhkan informasi pengetahuan mengenai teknologi pengolahan pupuk organik. Memang para petani selama ini banyak yang sudah mengetahui teknik pengolahan kompos dedaunan dan penggunaan kotoran ternak. Namun cara ataupun metode pengolahan pupuk organik cair maupun granule melalui proses fermentasi belum banyak yang tau. Di-era yang “serba duit” saat ini, petani jangan sampai menjadi konsumtif tanpa dapat menciptakan sendiri pupuk organic cair dengan kata lain petani perlu diberikan pembekalan.


Menyadari akan hal itu maka Hadijaya MPd, Kabid Pengembangan Informasi dan Teknologi IKAUT Pusat pada hari Minggu, 8 Juli 2012 lalu melakukan turba (turun kebawah) ke Desa Sukajadi Kecamatan Tamansari Bogor. Kehadirannya adalah sebagai nara sumber guna memenuhi permintaan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tengah melakukan kegiatan kuliah kerja nyata di desa Sukajadi. Pada acara tersebut Hadijaya mempresentasikan mengenai metode pengolahan starter pupuk organik cair dengan memanfaatkan limbah ikan (isi perut ikan) dilanjutkan dengan praktik bersama para anggota kelompok tani serta mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah di Balai Desa Sukajadi.

Bahan dasar yang digunakan adalah isi perut ikan kemudian diberi nasi dan tetes atau gula. Campuran ini disimpan selama 7-10 hari dalam wadah bertutup agar terjadi fermentasi. Cairan hasil penyaringan  disebut starter sedangkan sisa endapan diberi gula/ tetes lagi dan dibiarkan 5 hari. Dalam masa tersebut sisa limbah ikan akan habis diurai oleh mikroba.
Belasan kantung starter pupuk cair hasil fermentasi telah dibagikan kepada para petani, tak ketinggalan Bapak Alan Sumarna selaku Kepala Desa Sukajadi yang juga hadir dalam pertemuan ikut menerima starter pupuk organik cair berbasis limbah ikan tersebut. Starter POC dalam kantung plastic 500 cc perlu diencerkan 7x sebelum digunakan menyemprot tanaman.
Selaku alumni Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Terbuka, Hadijaya berharap agar hasil pembekalan mengenai teknologi pembuatan pupuk organik ini menjadikan para petani memiliki kemandirian dalam mendapatkan solusi bagi pemeliharaan tanaman sayur-mayur mereka. Pupuk organik tidak usah beli dipasar tapi cukup bikin sendiri dengan cara memfermentasi limbah ikan atau limbah ternak dengan metode yang mudah, bahan bakunya gratis dan mudah didapat. [Gway]

3 Responses to IKAUT PUSAT Mensosialisasikan Teknologi Pembuatan Pupuk Organik Kepada Kelompok Tani Desa Sukajadi Bogor

  1. Eko Budi Priyono says:

    Maaf artikel ini sgt menyentuh tp klau ingin mendptkan pupukx gmn / cara pembuatannya agar d didesa kami bisa maju jg trims infox!!!

    • Admin says:

      Bung Eko ada didesa mana nih ?
      Kalau dekat dg Jabotabek bisa kami datangi spy sekalian kita praktek bersama petani disana.
      Pupuk tsb tidak kami produksi, jadi kami hanya mengajarkan cara bikinnya saja, dmk

  2. deni says:

    kalau nanti alumni ut ada kegiatan boleh saya ikut gabung saya mahasiswa ut jurusan ilmu dan teknologi pangan. terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *