Exit Survey Alumni Bidikmisi UT

Yth. Bapak/Ibu, teman2 alumni UT.

Ada permintaan data dari UT Pusat untuk lulusan BIDIKMISI UT.

Berikut ini link surveynya :
https://docs.google.com/forms/d/11eSlNIjh_4HAeUysw-CKsnxAGBR1_TRzyR4YFnRiLe4/edit?usp=drivesdk

 

Mohon bantuan diteruskan kepada alumni bidikmisi UT untuk diisi.

Periode survey sampai tanggal 18 Agustus 2018.

Terima kasih.

Akreditasi BAN PT Universitas Terbuka

Banyaknya permintaan informasi mengenai akreditasi Universitas Terbuka, berikut ini kami informasikan link untuk mengunduh sertifikat akreditasi program studi dan penjelasan tentang akreditasi UT :

 

Akreditasi BAN PT Universitas Terbuka

Penjelasan Tentang Akreditasi Universitas Terbuka

 

Salinan Akreditasi BAN PT Universitas Terbuka dapat dilegalisir di Kantor UPBJJ UT setempat atau Fakultas masing-masing di Kantor Pusat Universitas Terbuka.

 

Semoga bermanfaat. (YV/Hms)

Linda Agum Gumelar membuka Pelatihan Hydroponic IKA-UT

Dalam rangka memperingati HUT RI Ke-73, Pengurus Pusat IKA UT bekerjasama dengan Pengurus Wilayah IKA UT Bogor menyelenggarakan Pelatihan Hydroponic.

Pelatihan yang dihadiri 48 peserta dari Jakarta, Bogor, Cirebon, Tangerang ini dibuka oleh Ketua Umum IKA UT, Linda Agum Gumelar.

Pelatihan ini merupakan bukti nyata keaktifan alumni dalam mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Diharapkan dengan adanya pelatihan ini dapat meningkatkan kemandirian perekonomian keluarga.

 

 

IKA UT Peduli Gempa Lombok

 

 

 

 

 

 

Penyaluran donasi IKA UT untuk korban Gempa di Lombok via IKA UT Mataram (Lombok) bekerjasama dengan UPBJJ UT Mataram.

Bantuan yang diberikan berupa sembako, air mineral, selimut, baju anak dan wanita, pembalut, obat2an.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur dari Pengurus Pusat IKA UT, Pengurus Wilayah IKA UT, UPBJJ UT Mataram, alumni dan mahasiswa yang telah berpartisipasi.

Tidak lupa kami sampaikan terima kasih untuk UPBJJ UT Mataram dan TNI AL yang telah memfasilitasi transportasi menuju lokasi pengungsian.

Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat & meringankan beban saudara/i kita yang tertimpa musibah Gempa di Lombok. (YV/Hms)

Karakterisasi Arc Furnace

IMG_3841qw
Hadijaya, Alumni Prodi Pendidikan Kimia FKIP UT UPBJJ Jakarta

Abstrak
Telah dilakukan karakterisasi Arc Furnace melalui percobaan peleburan beberapa spesimen logam seperti SS-304, AlMg2, Mo serta menentukan besaran arus busur listrik yang diperlukan oleh masing-masing spesimen logam. Arc Furnace adalah salah satu sarana peleburan logam paduan untuk mencairkan logam dalam waktu singkat. Percobaan karakterisasi yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa untuk melelehkan logam SS-304 dibutuhkan arus busur listrik sebesar 85 Amper, AlMg2 50 Amper dan Mo 100 Amper. Aplikasinya dalam kegiatan litbang cukup handal karena dengan arus listrik kurang dari 100 Amper Arc Furnace dapat mencairkan logam bertitik lebur tinggi hanya dalam waktu singkat kurang dari 100 detik.

Latar belakang
Proses mengubah logam padat menjadi logam cair yang umum dilakukan pada industri pengecoran adalah dengan memberikan panas pembakaran dari bahan bakar terhadap logam dalam suatu tungku sampai titik lebur logam tercapai. Penggolongan tungku peleburan untuk berbagai bahan struktur dikelompokkan berdasarkan ukuran, bahan konstruksi, bentuk/ model, mobilitas, laju peleburan, metode penuangan dan sebagainya. Tungku peleburan bahan struktur menurut sumber panasnya dibagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu kelompok tungku peleburan dengan pembakaran api dan kelompok tungku peleburan dengan pembakaran listrik. Tungku peleburan dengan pembakaran listrik terbagi 3 (tiga) jenis yaitu Tungku Induksi, Tungku Resistance dan Tungku Busur listrik (Arc Furnace). Pada Tungku Induksi perolehan panas adalah karena adanya arus berputar yang mengalir melalui konduktor sehingga timbul suatu medan magnet. Arus medan magnet menembus logam, makin besar arus yang dialirkan makin besar pula panas yang dibangkitkan. Pada tungku Resistance, crusible sebagai cawan lebur dililit elemen pemanas yang dikenai arus listrik. Adanya pasokan arus yang tinggi menyebabkan kawat elemen panas membara dan logam yang berada didalam cawan menjadi leleh. Sedangkan pada Arc Furnace, peleburan logam terjadi akibat adanya arus pendek dari elektroda yang terpasang ditepi cawan lebur. Arc Furnace dalam hal ini adalah termasuk jenis Tungku Busur Listrik.
Arc Furnace biasanya digunakan untuk melelehkan logam-Iogam bahan struktur bertitik lebur tinggi. Besarnya arus busur Iistrik yang dibutuhkan setiap spesimen logam sangat bervariasi tergantung pada tinggi rendahnya derajat titik lebur masing-masing logam. Agar peleburan logam dengan arus busur Iistrik terlaksana secara efisien (hemat listrik), maka pada percobaan karakterisasi tersebut dilakukan metode trial and error yaitu masing-masing spesimen logam diberi pasokan arus rendah sampai tinggi sehingga dari setiap spesimen logam yang dilelehkan dapat ditetapkan kebutuhan arus Iistrik dalam batas optimum (tegangan Iistrik tidak berlebihan namun spesimen logam dapat meleleh dalam tempo relatif singkat).

Tujuan
Karakterisasi Arc Furnace dilakukan dengan tujuan untuk mengefisienkan pemakaian arus Iistrik, memahami karakteristik Arc Furnace yang berkaitan dengan kinerjanya.

Tata Kerja
1. Bahan percobaan
Bahan struktur yang digunakan untuk trial and error pencairan diantaranya adalah paduan Aluminium Magnesium (AlMg2), Molibdenum (Mo) dan Stainless Steel (SS-304).

2. Data Teknis Tungku
Model : 5SA Single Arc
Spesitikasi : Daya Iistrik 300 Amphere, 32 Volt (Welding current)
Air 1 g.p.m, Gas innert (Argon) 30 psig
Suhu busur Iistrik 3500 C.

3. Komponen tungku :
1. Power supply, terdapat pada Weld Machine
2. Selang air pendingin
3. Tabung dan saluran gas innert
4. Selang gas buang
5. Glass tube Weld chamber
6. Pompa vacum

4. Persiapan awal
Sebelum tungku dioperasikan, kondisi awal yang harus dipersiapkan terlebih dulu antara lain mencakup suplay media air pendingin bertekanan 40 sampai 50 psi (3,5 bar); gas argon dalam tabung yang memiliki kemurnian 99,99 % lengkap dengan regulatornya serta catudaya listrik dengan tegangan 380 V / 50 Hz 3 phase 40 A.

5. Instalasi
Langkah berikutnya adalah melakukan penyambungan (instal) bagian-bagian dari komonen utama tungku tersebut yang meliputi :
1. Menghubungkan kabel elektrode (bewama merah) dari output power supply ke terminal pada stringer (katoda) dan ke terminal pada chamber (anoda), kabel yang bertanda sama masing-masing disatukan (misal kabel sama-sama bertanda A).
2. Selang pompa vakum ditempatkan pada vacuum port pada chamber.
3. Regulator gas argon dihubungkan dengan inlet gas pada chamber.
4. Memastikan apakah semua kabel telah terhubung dengan benar.
5. Pastikan bahwa catudaya listrik dalam posisi OFF dan REMOTE.
6. Pastikan bahwa tombol pengatur pasokan daya Iistrik pada posisi MIN.
7. Pastikan bahwa katup tabung gas argon dan regulatomya pada posisi tertutup.
8. Sampel yang akan dilebur dimasukkan pada hearth lalu klem bagian bawah chamber dijepitkan dengan baik.
9. Katup vakum pada posisi ON dan hidupkan.

Arc0Gambar 1. Penampang ruang chamber tempat peleburan spesimen logam

6. Cara Kerja
Percobaan peleburan berbagai jenis material reaktor suhu tinggi, pelaksanaannya dimulai dengan menempatkan sampel pada ruang peleburan (electrode chamber), mengalirkan air pendingin, menghidupkan pompa vacum untuk mengosongkan udara diruang peleburan, mengalirkan gas argon ke ruang peleburan, menghidupkan catu daya listrik pada centorr furnace, mengatur besar arus yang diperlukan untuk masing-masing sampel, menyetir tungkai elektrode agar menyentuh sampel hingga sampel logam meleleh. Pada percobaan tersebut dilakukan pendataan besaran arus Iistrik (ampere) dan pengukuran durasi (lamanya) waktu pelaksanaan peleburan dalam satuan detik. Suhu peleburan tidak dapat diukur langsung mengingat chamber tertutup dan konstruksi Arc Furnace tidak memungkinkan masuknya probe termokopel. Sedangkan output air pendingin dari bejana peleburan diukur dalam setiap Iangkah peleburan.

Hasil dan Pembahasan
Percobaan peleburan yang dilakukan terhadap sampel logam paduan yaitu paduan AlMg2, Mo dan SS304 yang masing-masing memiliki perbedaan titik leleh, dengan memberikan variasi besaran arus listrik sebesar 50 Amper; 75 Amper, 85 Amper dan 100 Amper maka telah didapatkan data-data seperti pada tabel-1 sampai tabel-4 pada lampiran.

Arc1Gambar 2. Hubungan antara arus busur listrik terhadap durasi peleburan logam

Berdasarkan Gambar-2, yaitu hubungan antara arus busur listrik terhadap lamanya durasi peleburan, tampak bahwa dengan pasokan arus busur listrik yang tinggi menyebabkan terjadinya peningkatan rambat panas yang cepat dan titik cair logam cepat tercapai dalam waktu singkat. Oleh sebab itu makin tinggi pasokan arus listrik maka durasi peleburan makin singkat, begitupun sebaliknya.

Arc2Gambar 3. Hubungan antara arus busur listrik terhadap suhu output air pendingin

Berdasarkan Gambar-3, tampak bahwa makin tinggi pasokan arus listrik, makin tinggi pula suhu output air pendingin begitu pula sebaliknya. Pasokan arus listrik yang tinggi menyebabkan terjadi peningkatan temperatur di ruang chamber. Fungsi air pendingin adalah menyerap kelebihan panas pada dinding chamber agar chamber berbahan dasar Tembaga tersebut tidak ikut meleleh ketika terjadi kontak panas dengan sampel logam yang dilebur. Pasokan air pendingin dan laju aliran perlu diperhatikan agar keselamatan chamber lebih terjamin.

Arc3Gambar 4. Pengaruh massa spesimen logam terhadap durasi peleburan

Berdasarkan Gambar-4 untuk specimen logam SS304 dengan masa yang sama yaitu 8,5 gram, tampak bahwa pemberian arus berpengaruh sekali terhadap kecepatan waktu lebur. Pada pemberian arus rendah (75 Ampere) membutuhkan waktu lebur 60 detik dan makin tinggi arus (100 Ampere) peleburan hanya membutuhkan waktu 40 detik.
Konduktivitas Iistrik merupakan karakteristik khas logam karena logam memiliki elektron yang dapat bergerak oIeh adanya potensial Iistrik. Konduktivitas terjadi akibat pergerakan elektron-eiektron melalui kisi. Ketika potensial listrik tinggi elektron pada logam akan bergerak cepat, amplitudo getaran meningkat sehingga ikatan logam terlepas dalam hal ini logam mencair dengan cepat. Pergerakan ini meningkatkan energi sistem oleh karena perbedaan potensial listrik mempengaruhi kecepatan pergerakan elektron, dengan demikian dapat dipahami bahwa dengan pasokan arus tinggi maka durasi peleburan logam akan terjadi lebih cepat.

Kesimpulan
Perbedaan jumlah arus busur Iistrik dan waktu yang diperlukan Arc Furnace untuk melelehkan berbagai spesimen logam tergantung pada tinggi rendahnya titik lebur, besar kecilnya dimensi spesimen logam serta keterampilan teknisi pelaksana peleburan. Berdasarkan percobaan karakterisasi yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa untuk melelehkan logam SS-304 dibutuhkan arus busur listrik sebesar 85 Amper, AlMg2 50 Amper dan Mo 100 Amper. Aplikasinya dalam kegiatan litbang cukup handal karena dengan arus listrik kurang dari 100 Amper Arc Furnace dapat mencairkan logam bertitik lebur tinggi hanya dalam waktu singkat kurang dari 100 detik.

Pustaka
1.SINDON SUSANTO BE, “Peleburan Besi Tuang”, Proyek Pusat Pengembangan Industri Pengerjaan Logam, MIDC, Bandung, 1977
2.KW. VOHDIN Prof. DR. BASIR LATIEF, S. ZAIROEDDIN, “Mengolah Logam”, PT. Pradnya Paramita. Jakarta, 1978
3.KENJI OHJIWA Prof. DR, TATA SURDIA MS.Met.E.Ir, “Teknik Pengecoran Logam”. PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1980
4.DE ROSE, ALAN B, “Aluminum Casting Techologi”, American Found-rymen’s Society, Inc. Des Plaines, Illionis.

Lampiran

Tabel 1. Data hasil peleburan logam AlMg2; 660 C

ArcTabel1

Tabel 2. Data hasil peleburan logam SS304; 1535 C

ArcTabel2

Tabel 3. Data hasil peleburan logam Mo; 2620 C

ArcTabel3

Tabel 4. Data hasil peleburan SS304; 1535 C berdasarkan variasi arus dan massa spesimen

ArcTabel4

Disain Mesin Homogenisasi Serbuk

Foto-disdikHadijaya, Alumni Prodi Pendidikan Kimia FKIP UT, UPBJJ Jakarta [HP : 08128727937]

Pendahuluan
1. Latar belakang
Pembuatan ingot logam dapat dilakukan dengan cara casting (pencairan) dan dapat pula dengan cara metalurgi serbuk. Dalam hal metalurgi serbuk, proses pembuatan logam dilakukan dengan jalan menekan serbuk logam paduan yang ditempatkan pada dies (cetakan) kemudian disinter dibawah titik cairnya. Metalurgi serbuk antara lain ditujukan bagi bahan yang tidak dapat atau sukar diproses dengan jalan mencairkan dan bagi bahan yang memerlukan pemrosesan yang lebih murah dengan kualitas yang lebih baik. Keuntungan lain pada aplikasi teknologi metalurgi serbuk misalnya dapat memperoleh paduan dengan sifat-sifat khusus sesuai yang diinginkan yang tidak mungkin diperoleh jika menggunakan teknik penuangan disamping itu dengan metalurgi serbuk dapat pula diperoleh homogenitas yang lebih baik dibandingkan homogenitas paduan yang dihasilkan dari proses casting. Permasalahan yang dihadapi dalam pembuatan logam paduan dengan metode metalurgi serbuk adalah bagaimana mendapatkan hasil homogenisasi atau pencampuran yang merata pada bahan serbuk.
Sejumlah material dalam industri logam maupun bahan struktur dalam industri elemen bakar nuklir seperti Zircaloy, Aluminium, Molibden, Grafit, Magnesium beserta paduannya sebagian besar tersedia dalam bentuk serbuk. Dalam dunia litbang pembuatan paduan khususnya, bahan serbuk biasanya dihomogenisasi terlebih dahulu dengan menggunakan suatu mesin atau alat pencampur selama selang waktu tertentu. Penting pula untuk diperhatikan bahwa kemurnian dan asal serbuk logam ikut mempengaruhi kualitas produk akhir, yaitu bentuk serbuk, ukuran, struktur partikel, distribusi dan keadaan permukaan. Pada kompaksi serbuk dan penyinteran, derajat kontak antar partikel harus dapat tercapai yaitu rongga-rongga antar partikel dan packing volume (volume pengepakan) harus lebih kecil dari massive volume (volume pejal). Rongga antar partikel diusahakan menjadi nol dengan menggunakan distribusi ukuran partikel tertentu dengan demikian derajat porositas dapat diperkecil. Distribusi ukuran partikel berhubungan pula dengan densitas ketuk serbuk, yaitu densitas semu serbuk yang diperoleh bila volume serbuk yang ada dalam suatu wadah diketuk-ketuk (digetar) selama pengisian pada kondisi tertentu. Densitas kompakan yang tinggi memerlukan densitas ketuk yang tinggi yang dapat diupayakan melalui suatu distribusi ukuran partikel tertentu dan pencampuran unsur paduan yang homogen. Menurut sifat-sifat serbuk logam, kemampuan untuk dikompaksi, besarnya tekanan, kehalusan permukaan dan kekerasan yang dihasilkan dapat berbeda-beda antara lain ditentukan pula oleh homogenisasi unsur-unsur paduan. Tingkat homogenitas yang tinggi dalam penyediaan serbuk tentu saja akan menunjang hasil kompaksi pelet yang berkualitas.
Mesin Pencampur serbuk atau mesin Homogenisasi serbuk (Hombuk) dirancang dalam bentuk kubus dengan poros yang memiliki 4 dudukan botol sampel serta dapat memproses sampai empat jenis variabel paduan secara sekaligus sehingga penyediaan bahan serbuk terhomogenisasi menjadi lebih cepat. Hasil rancangan mesin homogenisasi serbuk (Hombuk) ini dapat dimanfaatkan pula oleh unit litbang kalangan industri lain seperti industri baja maupun semen atau industri pengolahan tepung beras dan tepung ikan yang secara prinsip mengolah bahan-bahan serbuk.
2. Tujuan
Perancangan Mesin Homogenisasi Serbuk (Hombuk) dilakukan dengan tujuan untuk berbagi informasi teknologi, andaikata suatu saat laboratorium penelitian baik industri logam maupun industri bahan dasar pangan menghendaki tersedianya peralatan buatan sendiri.

Komponen-Komponen Utama

1. Motor listrik
Motor listrik adalah alat yang dapat merubah energi listrik menjadi energi mekanik. Motor yang dikonfigurasikan/dihubungkan dengan star-delta dapat digunakan untuk mereduksi atau menghindarkan arus start atau arus mula yang besar terutama pada motor-motor yang berdaya besar sehingga komponen-komponen yang akan dijalankan oleh motor tersebut tidak mengalami kerusakan. Bagian-bagian motor meliputi :
1. Stator, adalah bagian motor yang tidak bergerak (diam) dan terdiri dari: badan, sikat arang, inti rotor, inti kutub, sepatu kutub, plat name dan lilitan penguat magnet
2. Rotor, adalah bagian motor yang bergerak terdiri dari : inti rotor, lilitan rotor, komutator, alur rotor, dan poros. Motor yang diperlukan adalah jenis motor induksi dengan prinsip perputaran motor pada mesin arus bolak-balik yang timbul oleh adanya medan putar (flux yang berputar) yang dihasilkan dalam kumparan stator. Medan putar terjadi apabila kumparan stator dihubungkan dalam fasa banyak. Motor induksi jenis ini mempunyai rotor dengan belitan kumparan 3 fasa sama seperti kumparan stator. Kumparan stator dan rotor juga mempunyai jumlah kutub yang sama.

Penambahan tahanan luar sampai harga tertentu, dapat membuat kopel mula mencapai harga kopel maksimum. Kopel mula yang besar memang diperlukan pada waktu start. Motor induksi dengan rotor belitan memungkinkan penambahan (pengaturan) tahanan luar. Tahanan luar yang dapat diatur ini dihubungkan ke rotor melalui cincin. Selain untuk menghasilkan kopel mula yang besar, tahanan luar tadi diperlukan untuk membatasi arus mula yang besar pada saat start. Disamping itu dengan mengubah-ubah tahanan luar, kecepatan motor pm dapat diatur.
Motor induksi jenis ini mempunyai rotor dengan kumparan yang terdiri dari beberapa batang konduktor disusun sedemikian rupa sehingga menyerupai sangkar. Konstruksi rotor jenis ini sangat sederhana bila dibandingkan dengan rotor mesin listrik lainnya.
Ketika sumber tegangan tiga fasa dihubungkan dengan kumparan stator, maka dihasilkan medan putar. Penggerak utama dipakai untuk memutar rotor searah dengan arah medan putar. Motor induksi pada umumnya berputar dengan kecepatan konstan, mendekati kecepatan sinkronnya.

gmar2Gambar 1. Penampang bagian dalam Mesin Hombuk

Keterangan :

  1. Motor listrik,
  2. Belt penghubung poros
  3. Poros dudukan botol
  4. Botol Sampel
  5. Dudukan botol dengan 4 bidang
  6. Penyangga poros dudukan botol

2. Dudukan dan Botol sampel
Dudukan yang dimaksudkan adalah bagian yang bersatu dengan poros sebagai tempat meletakkan botol-botol sampel. Dudukan dapat berputar bolak-balik menurut kerja motor listrik. Pada dudukan terdapat 4 (empat) sudut dengan bentuk penampang seperti huruf X yang memungkinkan bagi penempatan empat botol sampel. Jadi setiap satu botol ditempatkan pada satu sudut dudukan seperti pada Gambar-1. Panjang dudukan disesuaikan dengan panjangnya botol sampel. Dimensi dudukan adalah panjang x lebar = 50 cm x 30 cm. Ujung poros dudukan dihubungkan dengan sebuah belt ke motor penggerak agar pada saat motor berputar poros ikut pula berputar. Dikedua ujung poros dudukan dipasang lagher yang memungkinkan poros dapat bergerak dengan mudah.
Botol sampel adalah wadah sampel serbuk-serbuk logam yang akan diproses pencampuran. Jumlah botol sampel 4 (empat) buah, masing-masing memiliki bentuk seperti silinder bertutup dengan dimensi : diameter x panjang = 8 cm x 40 cm seperti pada Gambar-2. Botol sampel dibuat dari besi pejal stainless steel yang bagian tengahnya dikorter (dibubut) dengan kedalaman 38 cm dan diameter dalam 7,5 cm, sedangkan panjang tutup 2 cm. Botol sampel ditempatkan pada dudukan dengan posisi kemiringan 45° dan agar penempatan botol sampel kokoh pada dudukannya maka diberi 2 (dua) buah klem (penjepit).

gmar3Gambar 2. Bentuk dan Dimensi Botol Sampel

Mesin Hombuk menggunakan mesin motor 3 fasa. Motor ini dihubungkan star dengan tegangan 380 V. Pengontrolan motor menggunakan sistem semi otomatis yaitu saklar tekan, start-stop dan sebuah kontaktor. Pada Gambar-3 dapat dilihat rangkaian pengendalinya yang diletakkan di panel. Komponen yang terdapat pada panel antara lain meliputi :
a.Line terminals, untuk menyambungkan kabel-kabel ke rangkaian lain (R.S.T)
b.Line fuses, untuk mengamankan rangkaian bila terjadi hubungan singkat atau beban lebih. (F1,F2.F3)
c.Magnetic Stater Coil, dengan type LAI DN22 (K2)
d.Over load, untuk mengamankan beban motor (O.R)
e.Timer motor, untuk mengatur waktu yang dibutuhkan lamanya motor berputar (T .M)
f.ON P.B dan Stop P.B, untuk menjalankan dan menghentikan motor (S1.S2)
g.Single-Phase Transformer 380/110V, 50HZ-50VA, untuk pengaturan tegangan (T .R)
h.Lampu yang terdiri dari :
1. over load alarm lamp, untuk tanda bila terjadi hubung singkat atau beban lebih (L3)
2. running lamp, untuk tanda bahwa arus sudah masuk ke beban (motor berputar); (L2)
3. line lamp, untuk tanda bahwa arus sudah masuk ke rangkaian kontaktor (L1).
Perhitungan waktu dan kecepatan pencampuran menggunakan rumus:
gmar_hombukDimana V = kecepatan atau laju putaran (m/detik)
T = periode, yaitu waktu untuk menempuh satu titik putaran (detik)
R = jari-jari bidang lingkaran dalam botol (meter)
f = frequensi, banyaknya partikel yang dapat melakukan lingkaran penuh
dalam satu detik

Berdasarkan rumus diatas ditentukan harga R adalah tetap yaitu jari-jari bidang lingkaran dalam botol = 8 cm. dengan demikian setelah dimasukkan rumus akan diperoleh data seperti pada Tabel-1  terlampir. Mengingat laju putaran ideal untuk sebuah mesin hombuk tidak perlu secepat putaran kipas angin ataupun blower (60-100 m/det) yang memiliki frekwensi (f) tinggi, diatas 125 oleh kanena itu spesifikasi teknis yang dipilih cukup dengan frekwensi maksimum 100 dan minium 25, kebutuhan arus Iistrik 15 Ampere, tegangan 125 Watt serta mampu melakukan putaran balik.

Prinsip Kerja Mesin Hombuk
Apabila sumber tegangan 3 fasa dipasang pada kumparan stator, timbulah medan putar dengan kecepatan : ns = 120 f/P. Medan putar stator akan memotong batang konduktor pada rotor. Akibatnya pada kumparan rotor timbul induksi (ggl) sebesar : E2S = 4,4f2N2 (untuk satu fasa). Karena kumparan rotor merupakan rangkaian yang tertutup, ggI(E) akan menghasilkan arus (l). Adanya arus (l) didalam medan magnet menimbulkan gaya (F) pada roton. Pada saat start dan rotor belum berputar frekuensi pada stator dan rotor sama.

Berdasarkan Hk. Lorenz, jika penghantar diberi arus listrik dan diletakkan dimedan magnet maka akan timbul gaya dan gaya tersebut akan menggerakkan motor sehingga motor berputar. Arus akan masuk ke rangkaian panel dengan menaikan MCB pada Master Distribusi Panel. Ketika saklar utama (main switch) diputar maka lampu line menyala dan bila tombol ON ditekan kontaktor akan bekerja, lampu Running hidup berganti lampu line mati dan beban motor akan berputar menggerakan mesin pencampur. Jika motor berputar, kecepatan dan tegangan induksi Ea masih sama dengan nol. Pada persamaan Ia = vt – Ea, untuk Ea = 0 dan Ra yang cukup kecil, arus Ia yang mengalir besar sekali. Oleh karena itu untuk membatasi arus jangkar (la) yang sangat besar pada waktu start, perlu diberikan tahanan mula yang dipasang seri terhadap tahanan jangkar. Secara perlahan-lahan tegangan induksi akan dibangkitkan dan rotor-pun berputar, bersamaan dengan ini tahanan mula akan diturunkan. Untuk menurunkan tahanan mula dapat dilakukan manual atau otomatis (dengan menggunakan relay elektromagnetik).

gmar1aGambar 3. Wiring Diagram Mesin Hombuk

gmar1bUntuk menentukan lamanya motor berputar digunakan suatu komponen yaitu TDR (Time Delay Rosy) yang dihubung paralel pada coil kontaktor. Timer Contact inl bekerja berdasarkan waktu dengan batasan tertentu. Proses pencampuran akan berlangsung sesuai batas waktu yang telah ditentukan dan akan berhenti sendirinya bila Timer Contact telah mencapai 0 (nol). Over Load dihubungkan paralel pada kontaktor fungsinya untuk mengamankan beban motor bila terjadi hubungan singkat dengan ditandai lampu alarm. Untuk menghentikan motor tekan tombol emergency stop. Motor berhenti dan lampu running mati berganti lampu line. Bila switch Off dilepas atau tutup tempat pengaduk dilepas motor berhenti berputar dengan sendirinya karena switch Off terhubung ke TDR. Hal ini bertujuan sebagai sistem safety agar tidak terjadi kecelakaan pada operator.

Kesimpulan
Mesin Hombuk diperlukan untuk menunjang litbang metalurgi serbuk khususnya pada pencampuran serbuk-serbuk bahan logam yang akan disiapkan dalam bentuk pelet hasil press. Mesin Hombuk dirancang dengan dimensi pxlxt = 70 cm x 60 cm x 70 cm. Berdasarkan perhitungan rancangan disimpulkan bahwa spesifikasi teknis yang dipilih adalah mesin hombuk yang bekerja dengan frekwensi (f) 100, kebutuhan arus listrik 15 Ampere, tegangan 125 Watt serta mampu melakukan putaran balik.

Pustaka
1.Prof. DR. Ir. TATA SURDIA MS, Met, E dan Prof. DR. SHINROKU SAITO, “Pengetahuan Bahan Teknik”, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1979.
2.WD. ALEXANDER dkk, “Dasar Metalurgi Untuk Rekayasawan”, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991.
3.BARUS PK, PURNOMO IMAM. “Fisika-3”, Balai Pustaka Jakarta, 1994.
4.RE. SMALLMAN, “Metalumi Flsik Modeni”, Ed. IV, PT. Gramedia Jakarta, 1991
5.G. TAKESHI SATO dan N. SUGIHARTO, “Menggambar Mesin”, PT.Gramedia Paramita Jakarta”. 1986.

Lampiran

Tabel 1. Korelasi Frekwensi dan Periode Terhadap Kecepatan Putar Mesin Hombuk

tabel hombuk

Disain Vacuum Furnace

vacfurHadijaya, Alumni Prodi Pendidikan Kimia FKIP UT UPBJJ Jakarta;  HP/WA : 08128727937

Pendahuluan
Penelitian material logam pada umumnya membahas mengenai perubahan strukturmikro, komposisi, kekuatan tarik, kekerasan, ketahanan korosi dan sebagainya yang banyak berhubungan dengan proses perlakuan panas (Anealing). Perubahan strukturmikro dan komposisi kimia logam setelah mengalami perlakuan panas akan mempengaruhi sifat mekanik. Penelitian tentang material yang mengalami proses anealing biasanya menghasilkan data karakteristik material yang hendak diketahui[1]. Anealing adalah suatu metode karakterisasi perlakuan panas material pada suhu, waktu dan kondisi tertentu. Suhu pemanasan biasanya hampir mendekati titik leleh material. Waktu pemanasan dapat berlangsung hingga 3 x 24 jam dalam kondisi gas inert (2,5 psig argon) maupun kondisi vacum ( 3 x 10-3 psig).
Dalam hal pelaksanaan percobaan proses anealing dengan kondisi gas inert maupun dalam suasana vacum diperlukan chamber sampel yang hampir sama. Pada proses anealing dengan kondisi gas inert, maka kedalam chamber sampel dimasukkan gas argon dengan debet tertentu sesuai kebutuhan dengan tujuan agar gas argon dapat mengusir oksigen yang berada di chamber sampel sehingga peristiwa oksidasi selama anealing dapat diatasi. Lain halnya pada proses anealing dengan kondisi vacum, udara didalam chamber sampel disedot dan dibuang keluar dan setiap saat gas yang terjadi akibat pemanasan itu diisap menggunakan pompa vacuum pada tekanan mendekati nol atmosflr sehingga peristiwa oksidasi selama anealing dapat dicegah. Dalam mendapatkan keadaan vacum yang sangat rendah, perlu dirancang suatu sistem/ rangkaian pengukur kevakuman dan teknik mengatasi perubahan tekanan vacum karena pengaruh perubahan suhu pemanasan chamber. Vacuum furnace tersebut dirancang untuk dapat beroperasi melalui sistim controller serta memiliki jangkauan suhu sekitar 1000 °C.
Perancangan vacum furnace dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan model vacum yang layak pakai dan bila diperlukan dapat dibuat sendiri guna menunjang percobaan perlakuan panas (anealing) berbagai material logam paduan.

Tehnik Konstruksi
Sejumlah bahan utama, bahan dukung dan komponen elektrikal yang dibutuhkan untuk menciptakan satu unit tungku vacuum dapat dilihat pada Tabel-1 dan 2. Sedangkan peralatan kerja yang diperlukan seperti pada Tabel-3.
Tahap awal yang akan dilakukan yaitu membuat badan furnace menggunakan bahan pelat logam setebal 3 mm. Pelat dipotong-potong, dibor pada bagian-bagian tertentu misalnya lubang lintasan kabel, lubang lintasan heating element dan lubang lintasan thermokopel. Selanjutnya tiap sisi sambungan di-las sehingga diperoleh kabinet berbentuk kubus (Gambar 1, 2 dan 3) yang terdiri dari 3 bagian, yaitu unit tube chamber berikut vacum; unit thermal (heater) dan unit electrical.

vacum1

vacum2-3-4

Unit Tube Chamber dan Vacum Mc Leod
Unit tube chamber adalah ruang yang disediakan untuk tempat pemanasan sample, berupa tabung SS-304 yang dirancang khusus. Memiliki lubang saluran gas masuk (melalui sisi bawah) dan lubang saluran gas keluar (melalui sisi atas tabung) seperti pada Gambar-1 dan 3. Tutup tabung dan sebagian dari panjang tabung dibuat berongga untuk menyalurkan air pendingin bertekanan, sehingga tutup tabung tak panas ketika furnace beroperasi. Tabung dilengkapi dengan termokopel tipe K sebagai alat ukur suhu anealing. Ketika tungku beroperasi, tabung anealing divacumkan lebih dahulu menggunakan pompa vacum mekanik dan diikuti pemakuman dengan pompa vacum difusi tipe Hg. Pada tahapan tersebut dapat dianggap bahwa kevacuman bagian dalam tabung mencapai 3×10-3 psig. Sedangkan disaat pelaksanaan pengukuran, udara dibiarkan masuk keruang D dengan katup simpang dua T berisi air raksa (Hg) yang mendapat tekanan keatas melalui pipa S (Gambar-4). Tabung anil memperoleh panas dari unit thermal dengan suhu dan waktu anil yang direncanakan sebelumnya[2]. Pompa vacuum atau aliran inert gas dimatikan dulu ketika akan membuka pintu tabung.

Unit Thermal (Heater)
Unit thermal (heater) adalah ruang sumber panas. Tempat lilitan heating element Khantal dan tempat head thermokopel. Bagian thermal ini dibuat secara konstruktif, kokoh dan tahan getaran. Selain itu juga dapat menahan panas sampai suhu 1000°C. Konstruksi bagian thermal terdiri dari 3 lapisan penahan panas, lapis paling dalam (lapis 1) adalah bata tahan api, lapis 2 adalah Unifiber Rock wool tipe R850 (Kao wool) dan lapis 3 (dinding luar) yaitu kabinet furnace. Untuk membuat lubang saluran gas keluar, yaitu lubang lintasan heating element serta lubang lintasan thermokopel maka bata tahan api dibor dulu kemudian masukkan keramic tube dilubang tersebut. Kawat heating element dan head thermokopel dipasang setelah pekerjaan pelapisan dinding penahan panas diselesaikan. Bata tahan api, unit fiber rockwool tipe R850 dipasang secara berurutan. Antara bata tahan api satu sama lainnya diperkuat dengan pasak dari ceramic tube agar bata tahan api tidak berjatuhan dan celah-celahnya yang renggang diisi dengan Refractories Durax supaya rapat dan faktor kehilangan panas dapat diperkecil[3]. Cup kabinet dipasang setelah pekerjaan lantai dan dinding termasuk heating element dan head thermokopel diselesaikan.

Unit Electrical
Bagian elektrikal adalah ruang yang disediakan untuk menempatkan beberapa komponen elektrikal seperti power supply, power regulator, temperature controller, ampheremeter, serta voltmeter. Tahap pekerjaan instalasi diawali setelah heating element dan head thermokopel terpasang di ruang thermal selanjutnya semua komponen elektrikal ditempatkan pada lubang kabinet yang tersedia disisi muka kabinet sedangkan power regulator ditempatkan didalam ruang kabinet. Keseluruhan komponen dihubungkan dengan power regulator. Dalam kaitan tersebut, power regulator berfungsi sebagai penerus arus listrik AC ke heating element dan arus DC ke temperatur controller. Thermokopel dihubungkan langsung ke temperatur controller (tidak melalui power regulator). Setelah semua komponen elektrikal terpasang selanjutnya kabel power supply dihubungkan dengan power regulator.

Perhitungan Heating Element
Perhitungan kawat heating element untuk jangkauan suhu 1000°C mengacu pada tabel Kanthal. Mengenai berapa panjang dan diameter lilitan kawat dihitung sebagai berikut :
Jika mengacu pada kondisi power supply yang tersedia, Tegangan; E = 220 Volt; Arus. i = 25 Amphere, maka Tahanan maksimum mengikuti Hukum Ohm[4] bahwa kuat arus (i) sebanding dengan tekanan (E) dan sebanding pula dengan kebalikan tahanan (R).

vacumaDari Tabel “Khantal-AF” kita dapatkan tahanan kawat elemen permeter (diameter kawat 2,2 mm) yaitu sebesar 0.366 Ω/M. Angka tersebut memberikan pengertian bahwa bila 1 meter kawat yang terbuat dari Pt-PtRh 13% dan penampangnya 2,2 mm maka tahanan kawat (f) adalah 0,366 Ohm. Konstanta Ct untuk pemakaian temperatur 1.000°C sebesar 1,06 diperoleh dari tabel yang sama. Konstanta Ct merupakan faktor pengali untuk mendapatkan tahanan kawat terkoreksi.

f’ = Ct.(f)
= 1,06 (0,366 Ω/M)
f’ = 0,388 Ω/M.

Selanjutnya kebutuhan panjang kawat (L) dihitung dengan cara Tahanan maksimum power supply yang tersedia (R) dibagi Tahanan kawat terkoreksi (f’) :

vacumbMengingat bahwa kawat heating element 22,68 meter akan dipasang disepanjang lubang unit themal dalam bentuk spiral berdiameter 0,30 meter maka, untuk mengetahui berapa jumlah lingkaran adalah dengan membagi panjang kawat terhadap (π diameter).

Jumlah lingkaran = (22,68 meter)/[3,14 (0,3 meter)] = 24 lingkaran
Sehingga diperoleh hasil = 24 lingkaran. Berdasarkan perhitungan tersebut lalu ditetapkan panjang sisi ruang Chamber menjadi 35 cm + toleransi 1 cm = 36 cm. Satu hal yang cukup prinsif bahwa dimensi ruang chamber yang relatif kecil akan menghasilkan kalor yang maksimal. Unit element tersebut merupakan rangkaian seri. Jika heating element menunjukkan arus listrik bekerja 25 Amphere dan tegangan 220 Volt (dapat dibaca dari voltmeter dan ampheremeter pada furnace) maka Jumlah kalor yang dilepaskan heating element ditentukan oleh jumlah daya listrik yang bekerja disepanjang kawat element, dalam hal ini heating element merupakan sumber panas[5].
Daya listrik; Watt = Volt x Amphere
= 220 x 25
= 5500 Watt = 5,5 kilo Watt.
Pada tabel konversi diketahui :
1 kilo Watt = 0,9476 Btu/sec
atau    1 kilo Watt = 3.411 Btu/hr
Daya 5,5 kilo Watt = q = 5,5 (3.411) Btu/hr
q = 18.762 Btu/hr

Hal ini berarti jumlah panas yang dihasilkan heating element (sumber panas) setiap jam sebesar 18,762 BTU. Tungku perlakuan panas biasanya digunakan berdasarkan kebutuhan temperatur antara 400°C – 700°C untuk pemakaian yang terus-menerus atau temperatur antara 700°C – 1000 °C untuk pemakaian berkala.

Kesimpulan
Disain Vacum Furnace yang memiliki jangkauan suhu sampai 1000°C telah diselesaikan. Perencanaan disusun berdasarkan fungsi dan kapasitas furnace yang diinginkan. Pemilihan komponen yang compatible serta mudah ditemukan dipasar lokal meliputi komponen inti seperti power regulator, temperature controller dan heating element. Pra rancangan ini berkaitan dengan model/ bentuk furnace, perhitungan kebutuhan kawat heating element, perhitungan kebutuhan pelapis penahan panas (batu tahan api, dan ceramic wool) serta perhitungan kalor ruang chamber. Vacum furnace dapat digunakan untuk keperluan anealing.

Pustaka
1. Books, Charlie R, Heat Treatment, Structure and Properties of Non-ferrous Alloys, ASM, Metal Park OHIO 44073, 1982.
2. Drs. Peter Soedojo, BSc, Pengantar Teknik Vakum, Universitas Gajahmada, 1977.
3. Brosur (Product Data Sheet); Unifiber Rockwool; Controller Temperature; Power Regulator; The series C of High  Quality Insulating Bricks; Kanthal; dll. Via PT.Putrawinong, 1997.
4. RM. Francis.D.Yury, Pokok-pokok Ilmu Elektronika untuk Keterampilan, M2S Bandung, 1984.
5. Holman, J.P., Heat Transfer 5th Edition, Mc.Graw-Hill International Book Co, 1981.

LAMPIRAN

Tabel 1. Daftar Peralatan kerja.

tabel 1 vacum

Tabel 2. Suku Cadang untuk pembuat Body Furnace

tabel 2 vacum

Tabel 3. Daftar Suku Cadang untuk Bagian Elektrikal

tabel 3 vacum

Pembuatan Unit Pengaduk Logam Cair

aaahjdHadijaya, Alumni Prodi Pendidikan Kimia FKIP UT UPBJJ Jakarta; Pensiunan PNS pada Jabfung Litkayasa BATAN PUSPIPTEK Serpong Banten, HP/WA : 08128727937

Pendahuluan

Pada proses pembuatan logam paduan dengan metode casting (peleburan dan penuangan), antara unsur utama dan unsur tambahan mengalami pencampuran. Pencampuran akan sempuma atau terjadi homogenitas yang baik pada produk tuang apabila unsur tambahan dapat terdistribusi secara merata sehingga semua unsur yang ada tamasuk juga unsur pengotor memiliki ikatan intermetalik yang baik. Pencampuran unsur-unsur secara kimiawi dalam suatu komposisi paduan logam akan memberikan pengaruh tertentu terhadap perilaku fisis dan mekanis dari produk tuang seperti kekuatan, keuletan dan kekerasan.
Dalam kondisi dimana unsur tambahan (serbuk Mg) akan ditambahkan kedalam cairan logam (AlMg2) pada suhu diatas 700°C, beberapa kendala yang kemungkinan besar dapat terjadi adalah serbuk Mg tidak segera larut dalam logam cair aluminium karena adanya perbedaan masa jenis. Masa jenis Mg (1.74 g/m) lebih kecil dari pada masa jenis Al (2.78 g/m) sehingga serbuk Mg mengambang diatas cairan aluminium. Disamping itu juga disebabkan karena adanya perbedaan fasa dimana pada saat pencampuran dilakukan, Mg masih dalam fasa padat sedangkan Al dalam fasa cair. Casting dengan perlakuan tertentu memungkinkan pencampuran tersebut terjadi dengan sempurna mengingat bahwa titik leleh Mg (650°C) lebih rendah dari pada titik leleh A1 (660°C). Untuk memperoleh produk tuang dalam pencampuran unsur yang sempurna maka salah satu cara perlakuannya adalah melalui metode mixed casting (peleburan disertai pengadukan).
Sehubungan dengan masalah tersebut telah dibuat satu unit pengaduk logam cair yang digunakan sebagai sarana dukung pada proses pembuatan logam paduan khususnya logam paduan Aluminium (AlMg2 atau AlMgSi) dengan cara casting. Tujuan rancangbangun alat aduk logam cair ini adalah untuk meningkatkan homogenitas pada penambahan unsur paduan dengan unsur utama dari logam produk tuang dengan cara pengadukan.

Bahan :
1.Plat besi ukuran 100 cm x l00 cm. sebanyak 1 lembar
2.Plat SS ukuran 50 cm x 50 cm. scbanyak l lembar
3.Pipa SS ukuran 100 cm, diameter 4 cm. sebanyak l batang
4.Pipa pejal SS ukuran 75 cm, diameter 0.5 cm, sebanyak 2 batang
5.Kabel power, sebanyak 1 roll (150 cm)
6.Kabel serabut halus, sebanyak 1 roll (200 cm)
7.Kawat las 1 dus (isi 100 batang)
8.Soket kecil l buah
9.Terminal kabel 1 buah
10.Dinamo 40 Watt, 50 – 150 Rpm sebanyak 1 buah
11.Lampu indikator warna kuning I buah
12.Mur/ baut 1 box isi 25, masing-masing terdiri dari 0.3″, 0.7″ dan 1.2″
13.Cat meni dan cat pilox masing-masing l kaleng

Alat :
1.Mesin potong plat
2.Gergaji besi
3.Mesin las
4.Gerinda
5.Mesin tekuk plat
6.Mesin bor

Rancang bangun alat aduk logam cair dilakukan secara bertahap yang dimulai dari pembuatan gambar disain selanjutnya menginventarisasi bahan dan peralatan yang diperlukan. Pekerjaan pembuatan alat aduk ini  dibagi menjadi 2 (dua) tahap yaitu pekerjaan mekanik yang merupakan pekerjaan awal dan pekerjaan instalasi elektrikal. Pekerjaan awal yang dilakukan adalah memotong plat besi dan membuat lubang-lubang untuk casing dengan ukuran sesuai gambar disain. Selanjutnya plat ditekuk untuk memberi bentuk bagian muka casing lalu dilakukan penyambungan bagian potongan plat dengan pengelasan. Casing harus disanggah oleh sebuah stager agar dapat berdiri tegak lurus keatas. Stager terdiri dari sebatang pipa SS yang salah satu ujungnya disambungkan ke selembar plat SS sebagai dudukan dengan cara dilas. Casing dicat warna krem sedangkan stager dari bahan SS cukup di-polish sehingga berkilau. Pekerjaan elektrikal dimulai dengan memasang terminal kabel, memasang kabel power yang berhubungan dengan lampu indikator maupun dinamo, menempatkan lampu indikator, menempatkan tombol-tombol ON-OFF dan tombol pengatur kecepatan aduk dan yang terakhir adalah menempatkan dinamo serta memasang pemegang tangkai aduk.

gamb1Dalam menentukan model atau bentuk alat aduk (Gambar-1), perancang menyesuaikan dengan keadaan melting furnace (tungku lebur) dimana unit alat aduk akan ditempatkan. Melting furnace memiliki sebuah krusibel grafit atau cawan lebur yang kedudukannya vertikal. Krusibel grafit adalah tempat bahan logam yang akan dilelehkan. Bagian bibir krusibel merupakan area mendatar terdiri dari susunan batu tahan api yang memungkinkan alat aduk dapat berdiri tegak (Gambar-2). Sesuai menurut keadaan melting furnace tersebut maka alat aduk harus dirancang dengan arah vertikal terhadap krusibel. Faktor lainnya yang harus disesuaikan dengan keadaan melting furnace adalah pengaruh uap panas terhadap keselamatan dinamo yang terdapat di dalam casing (rumahan) alat aduk. Pada proses peleburan bahan logam paduan AlMg2 diperlukan setting suhu melting furnace antara 700-800°C. Jarak alat aduk tahadap krusibel perlu disesuaikan agar dinamo tidak lekas rusak karena serangan uap panas. Altematif yang dilakukan adalah dengan cara memasang stager atau tiang penopang casing. Tiang dari bahan SS tersebut berdiri pada plat SS dimana plat SS juga berfungsi sebagai tutup krusibel. Bagian tengah plat SS diberi lubang kecil untuk pelumasan tangkai aduk.

gamb2Dimensi casing ditentukan dengan mempertimbangkan volume dinamo yang berbentuk silinder dengan ukuran diameter 9 cm dan tingginya 12 cm. Dinamo akan ditempatkan dibagian tengah ruang casing, untuk itu ruang casing harus cukup longgar sehingga memudahkan pemasangan terminal kabel yang menghubungkan power supply dengan dinamo serta lampu indikator. Dimensi casing yang ideal diperkirakan antara 60-70% lebih besar dari dimensi dinamo. Bentuk bagian dan dimensi casing sangat tergantung pada susunan benda-benda didalamnya dan dapat divariasi sesuai imajinasi perancang. Untuk diameter dinamo 9 cm, maka lebar ideal casing diperkirakan 14,4 cm -15,3 cm. Sedangkan tinggi ideal casing diperkirakan 19,2 cm – 20,4 cm. Bagian dasar casing harus diberi lubang yang proporsional berdiameter 7 cm untuk melewatkan as/ poros pada dinamo yang akan dihubungkan dengan sudu aduk. Pada persilangan diagonal lubang as (bagian dasar casing) juga diberi tempat lubang untuk mur/ baut agar duduknya dinamo lebih kokoh. Pelubangan lainnya pada casing yang cukup penting diantaranya untuk lintasan kabel power supply 1 cm, pelubangan untuk bagian-bagian tombol dalam bentuk lubang persegi empat berukuran 7 cm x 2,5 cm, lubang untuk lampu indikator berdiameter 1 cm serta lubang untuk ventilasi berdiameter 7 cm.

melting furnaceGambar 3. Tungku peleburan logam Aluminium (A dan B)

Pada pelaksanaan uji fungsi, alat aduk yang selesai dibuat kemudian dipasang atau ditempatkan diatas bilik pemanas tungku (Gambar-2 dan 3B) sehingga sudu-sudu pengaduk berada didalam krusibel tungku (cawan lebur). Cawan lebur diisi skrap AlMg2 (unsur utama) sebanyak 1000 gram dan serbuk Mg sebagai unsur tambahan sebanyak 20 gram. Tungku dioperasikan pada suhu 750°C dan alat aduk djjalankan selama 2 menit setelah skrap logam paduan AlMg2 mencair atau meleleh.

Tingkat homogenitas produk tuang dari uji fungsi yang dilakukan dikaji setelah produk tuang dianalisis komposisinya dengan metoda AAS. Pada percobaan peleburan logam paduan AlMg2 yang pernah dilakukan sebelumnya dipelajari bahwa proses peleburan pada suhu diatas 700°C dapat mengakibatkan terjadinya penurunan unsur Mg logam produk tuang sebagai pengaruh oksidasi. Komposisi unsur Mg pada skrap AlMg2 yang belum dilebur mecapai 2,4% akan tetapi setelah dilakukan peleburan dalam waktu 2 jam, unsur Mg hanya tersisa 0,8% hal ini tentu saja akan berdampak pada menurunnya mechanical properties logam tuang. Setelah dilakukan analisis komposisi dengan metode AAS ternyata unsur Mg yang terdapat didalam logam produk tuang AlMg2 menjadi 2,0%. Apabila pencampuran tersebut berlangsung sempurna, setidaknya unsur Mg pada logam tuang menjadi 2,8% bukan 2,0%. Pada uji fungsi penggunaan alat aduk hasil rancang-bangun selama 2 menit atau 120 detik tingkat homogenitas produk tuang AlMg2 mencapai 71,43% dan dengan waktu aduk 600 detik diperoleh tingkat homogenitas mencapai 85,35% (lihat Tabel-l).

Tabel-1. Data Pengaruh Waktu Aduk Terhadap Tingkat Homogenitas Logam AlMg2

tabel aduk

gamb3Hal ini menunjukkan kecenderungan bahwa panjangnya waktu aduk berpengaruh terhadap kenaikan tingkat homogenitas logam cor (Gambar-4). Beberapa faktor yang kiranya cukup mempengaruhi homogenitas antara lain metode penambahan unsur Mg dan lamanya waktu pengadukan, karena waktu pengadukan yang lebih panjang akan memberikan kesempatan serbuk Mg terdistribusi secara lebih merata. Namun demikian proses pemulihan unsur Mg pada logam produk tuang dapat dikatakan masih memenuhi jangkauan komposisi yang ditargetkan karena berdasarkan standar DIN 1725 part 1 edition 1967 dijelaskan bahwa kandungan Mg pada logam paduan AlMg2 berkisar antara l,7% sampai 2,4%.

Penutup

Alat aduk logam cor dapat beroperasi dengan baik dan cukup membantu pelaksanaan homogenitas logam cair khususnya bagi percobaan pembuatan logam paduan aluminium (AlMg2 atau AlMgSi). Tingkat homogenitas sebesar 71% untuk waktu aduk 2 menit dapat terus dinaikkan dengan memperpanjang waktu aduk. Unsur Mg sehanyak 20 gram (untuk mengkonpensasi kehilangan akibat oksidasi ) yang ditambahkan pada 1000 gram skrap AlMg2, menghasilkan produk tuang AlMg2 dengan kandungan Mg 2% memenuhi standar DIN 1725 tetapi masih perlu diteliti lebih jauh lagi mengenai keberadaan kandungan Mg pada logam produk tuang apakah dalam fasa padat atau fasa cair karena berpengaruh pada keuletannya.[Gway]

gwy

Teknologi Pangan Pada Pembuatan Permen Terong

Terong ialah tumbuhan pangan yang ditanam untuk buahnya. Ukuran buah terong berbeda-beda antara kecil hingga besar, bergantung kepada hasil budidaya. Buah terong mempunyai berbagai warna : ungu, hijau, dan putih. Buahnya biasa digunakan sebagai sayur untuk masakan.
Manfaat dari percobaan ini adalah untuk menyumbangkan informasi ilmu pengetahuan tentang teknologi pengolahan permen terong menjadi suatu pangan yang bernilai tambah serta disukai khalayak.
1. Alat yang digunakan :
– Pisau
– Baskom
– Kompor dan peralatan dapur
– Plastik tipis untuk pembungkus produk

2. Bahan
– Terong ungu 1 kg (pilih yang kecil kecil)
– Gula pasir 0,5 kg
– Vanila 1 bungkus
– Air bersih

terong1Bahan Baku Permen Terong

3.Cara pengolahan
– Siapkan 1 kg terong yang cukup muda lalu dipotong dan dibelah dadu
– Cuci dan rendam dalam air bersih
– Didihkan 4 liter air lalu larutkan 0,5 kg gula pasir, 1 bungkus vanili, dan masukkan terong yang telah disiapkan
– Proses perebusan dilakukan selama 45 menit atau sampai volume cairan gula mengering
– Selama perebusan tersebut diaduk terus secara merata
– Terong manis didinginkan dan siap dihidangkan atau dikemas dengan plastik tipis sebagai permen.

terong3 Diagram Alir Pengolahan Permen Terong

Dalam pembuatan permen terong, pemilihan buah terong yang segar merupakan faktor yang tak kalah pentingnya. Terong yang dipilih harus relatif muda berwarna ungu dan hal ini dapat diketahui dari warnanya yang belum begitu gelap. Terong yang warna ungunya agak pekat menandakan usianya sudah tua. Terong tua memiliki biji-biji yang cukup besar dan dapat mempengaruhi cita rasa saat dikunyah terlalu liat beda dengan terong muda.
Pemakaian gula pasir, hendaknya menggunakan gula produksi dalam negeri tipe SHS-1 (Super Head Sugar) yang memiliki butir relatif besar. Gula dalam negeri memiliki perbedaan dengan gula impor. Kelebihan gula dalam negeri adalah memiliki warna agak kekuningan dibanding gula impor. Warna kekuningan tersebut ikut mempengaruhi pembentukan karamel terutama pada saat berikatan dengan zat warna yang dikeluarkan oleh kulit terong. Hal ini sengaja dilakukan agar kesan warna coklat kehitaman pada produk terong benar-benar menyerupai tekstur warna korma tua yang telah banyak dikenal khalayak.

terong2Permen Terong siap dikemas/ dibungkus setelah dikeringkan

Pada proses pemasakan, terjadi peristiwa difusi dimana larutan glukosa dan vanili masuk kedalam daging terong sehingga mempengaruhi rasa serta kekenyalan yang mantap. Makin berkurang kadar airnya maka akan menghasilkan rasa manis yang tinggi pula sehingga menyerupai manisnya buah korma. Hal yang unik dari proses pengolahan permen terong yaitu pada proses pemasakan, dimana terjadi perisitiwa difusi larutan glukosa dan vanili masuk kedalam daging terong sehingga mempengaruhi rasa serta kekenyalan yang mantap
Disarankan agar penelitian dilanjutkan pada uji kadar gula, nilai gizi, kadar zat warna karoten serta antisipasi kemungkingan pertumbuhan mikroba.[Gway]

troongterrung

teerongteronng

Laporan Kegiatan Aktivasi Alumni UT per Juli 2018

Kegiatan aktivasi anggota baru Ikatan Alumni UT di Kawasan Perkantoran UT Pusat terasa agak berbeda suasananya dibanding dengan kegiatan aktivasi yang pernah berkali-kali dilakukan sebelumnya. Alasan pertama adalah hari Minggu 1 Juli 2018 masih dalam suasana halal bi halal karena masih bulan Syawal sehingga antara rekan-rekan pengurus satu sama lain saat bersalaman sambil mengucapkan kata : “maaf lahir batin yaa !”.
Alasan yang kedua dan terasa berkesan adalah dengan kehadiran Rektor UT secara non formal soalnya bertepatan dengan libur hari Sabtu. Baru kali ini tenda tempat pendaftaran calon alumni UT dikunjungi Rektor. Tampak ada rona ceria di wajah rekan-rekan pengurus IKAUTPUS dengan kehadiran orang nomor satu UT ini. Kehadiran pak Rektor langsung dimanfaatkan rekan-rekan untuk berfoto selfy, … pokoknya mantap dah.

wisudawan12wisudawan13wisuda6Lalu yang ketiga kami juga melakukan bincang-bincang dengan calon wisudawan, kali ini dengan wisudawan dari Pokjar – Balikpapan, berikut cuplikannya :

Hadijaya : Selamat siang bu, mari silahkan duduk dan kalau tak keberatan sambil memperkenalkan diri dengan kami pengurus pusat Ikatan Alumni UT.
Sri Wahyuningsih : Terimakasih bapak dan juga ibu-ibu, nama saya Sri Wahyuningsih, kami rombongan semuanya 8 orang sama-sama guru SD dari Balikpapan. Asal UPBJJ-nya Samarinda. Saya sendiri bekerja sebagai Guru Honorer di SDN 009 Kecamatan Balikpapan Utara – Kaltim. Saya pertama kali menjadi guru tahun 2011 pak, lalu mendaftar sebagai Mahasiswa UT mulai tahun 2013.

wisudawan00Hadijaya : Sekarang ibu mulai lega ya bu bisa hadir ke UT Pusat untuk mengikuti prosesi wisuda. Coba ibu ceritakan hal yang menyedihkan pada saat masih sebagai Mahasiswa UT.
Sri Wahyuningsih : Hal menyedihkan yang pernah saya alami adalah banyaknya tugas–tugas kuliah sementara anak saya sedang sakit, sedangkan saya tidak bisa mengurus anak saya yang sakit karena tugas kuliah yang harus segera dikumpulkan. Sebagai ibu tentunya saya sangat mengkhawatirkan anak saya dilain sisi sebagai mahasiswa saya harus konsisten menyelesaikan tugas dari dosen tepat waktu. Pada akhirnya saya harus menyelesaikan tugas dengan bermacam pekerjaan rumah tangga dan sambil mengajar pula, walaupun sering diliputi kekhawatiran sambil terus mengurus anak yang sakit saya tetap selesaikan tugas dari dosen. Alhamdulilah akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas tepat waktu.

wisudawan11Hadijaya : Bagaimana kisahnya kok ibu bisa kuliah di UT, ibu dapat info darimana tentang UT ?
Sri Wahyuningsih : Saya pilih kuliah di UT setelah dapat info dari teman. Sebelumnya saya pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Balikpapan namun tidak saya selesaikan pak lalu beralih ke Universitas Terbuka. Sebetulnya Perguruan Tinggi Swasta tersebut didominasi oleh banyak guru SMP, sedangkan saya  guru SD.

Hadijaya : Saya sebelumnya dapat info dari ibu Danella Cerelia, SPd, MM – Tutor dari Kaltim yang juga Ketua II IKAUT KALTIM bahwa seorang diantara calon wisudawan dari Pokjar – Balikpapan ini ada yang berhasil meraih IPK cukup tinggi (3,5) yaitu bu Sri Wahyuningsih sendiri, nah saya mau tanya apa kiat-kiat yang ibu lakukan sehingga dapat menyelesaikan kuliah di UT tepat waktu ?
Sri Wahyuningsih : Kiat–kiat saya bisa menyelesaikan kuliah adalah …
Yang pertama karena adanya peran dari dosen-dosen saya yang baik dan membimbing saya dari semester 1 sampai semester 10, saya selalu bertemu dengan dosen yang baik terhadap kami mahasiswanya. Dosen selalu datang setiap pertemuan dan selalu memberi kami tugas–tugas agar kami senantiasa membuka modul yang diberikan dari UT. Dosen–dosen kami itu tanggung jawab sekali dengan selalu datang setiap kali pertemuan.
Yang kedua, peran dosen/ tutor sangat membantu sekali dalam mengantarkan dan membukakan wawasan saya. Apabila ada hal-hal yang saya kurang paham saya tanyakan ke dosen/ tutor, trik yang biasa tutor berikan agar mahasiswanya menguasai materi adalah dengan memberi kami tugas-tugas agar kami mau mempelajari modul yang sudah diberikan. Selalu membaca modul apabila ada kesempatan/ waktu jauh–jauh hari sebelum ujian.

Hadijaya : Apa nilai tambah yang ibu rasakan setelah menyelesaikan kuliah di UT ?
Sri Wahyuningsih : Sebelum mengajar di SD, saya pernah mengajar di PAUD selama 4 tahun dari 2007 sampai 2011. Saat ada lowongan pencarian guru SD, saya mencoba mendaftar jadi guru SD walau hanya dengan ijazah SMA. Tahun 2011 saya menjadi guru SD, saya harus meningkatkan profesionalisme saya sebagai guru maka sayapun mengikuti kuliah di UT. Setelah kuliah di UT, Alhamdulilah saya yang tadinya “buta sama sekali” tentang pendidikan, tentang menghadapi peserta didik, tentang kesiapan media dan modul pendidikan, kini saya merasa sudah memiliki pengetahuan itu dan makin bertambah wawasan dan pengetahuan saya.

Hadijaya : Apa cita-cita dan harapan ibu setelah diwisuda besok dan meraih predikat S1 ?
Sri Wahyuningsih : Harapan saya setelah meraih S1 adalah bisa menjadi PNS karena sekarang saya masih honorer pak.

ipitUsai mewawancara calon wisudawan terbaik dari Kaltim tersebut kami langsung menghubungi Tutor untuk para mahasiswa UT Kaltim yaitu ibu Danella Cerelia, SPd, MM dan menanyakan langsung kunci sukses mengikuti kuliah jarak jauh yang diselenggarakan oleh UT. Beliau menjelaskan bahwa belajar mandiri dalam banyak hal adalah dengan pandai-pandai mengatur waktu secara efisien; rajin membaca modul; percaya diri dan berupaya untuk menerapkan strategi belajar CERDAS, yang maksudnya adalah :
C-cerdik menggunakan strategi belajar;
E-efektif menggunakan waktu belajar;
R-realistis merencanakan belajar;
D-dapat mencapai target belajar;
A-akurat merencanakan belajar;
S-spesifik dalam menetapkan tujuan/ target belajar. Maksudnya bahwa belajar di UT tujuannya bisa bermacam macam, misal untuk mengembangkan kemampuan diri, mendukung karier atau kemampuan profesional, memperoleh kompetensi/ kualifikasi pendidikan sebagai persyaratan, mengubah dan memperbaiki masa depan.
Demikian ibu Danella Cerelia, SPd, MM menambahkan penjelasan pada saat kami konfirmasi via telephon seluler.
Sebetulnya masih banyak lagi wisudawan UT dengan IPK tinggi (>3,5) namun pada kesempatan ini ibu Sri Wahyuningsih yang kami wawancarai karena secara kebetulan bertemu dengan kami pada saat kegiatan aktivasi alumni.

kaltim4Calon wisudawan yang berdatangan dari berbagai UPBJJ UT ke Wilayah Perkantoran UT Pusat mencapai sekitar 1250 orang. Sebagian telah hadir lebih awal di Pondok Cabe yaitu hari Sabtu, 30 Juni 2018. Mereka menginap diberbagai tempat seperti Wisma UT, Kos-kosan dan Penginapan baik di Pamulang maupun di sekitar UT Pondok Cabe. Kegiatan aktivasi alumni baru berlangsung dari hari Sabtu, Minggu dan Senin. Pada hari Senin diberikan Sosialisasi guna memperkenalkan organisasi alumni UT dengan nama IKA-UT. Acara sosialisasi disampaikan langsung di Gedung UTCC pada hari Senin, 2 Juli 2018 oleh Hadijaya, MPd selaku Ketua II- IKAUTPUS.

wisuda8Pada kesempatan tersebut Hadijaya menyampaikan mengenai pentingnya peran alumni baru dalam mendukung dana beasiswa bagi mahasiswa UT yang berprestasi namun secara financial kurang mampu. Cukup ringan, calon alumni cukup membayar uang Rp. 35.000,- (Tiga puluh lima ribu rupiah) hanya sekali bayar untuk seumur hidup. Uang tersebut bernilai sodaqoh jariah karena sebagiannya untuk digunakan membantu adik-adik mahasiswa UT sendiri yang telah diseleksi dan dinyatakan layak menerima beasiswa. Gerakan beasiswa tersebut telah menjadi program IKAUT baik di Pusat maupun Daerah.
Adapun penyerahan daftar nama calon alumni dilakukan pada hari Selasa, 3 Juli 2018 dan disampaikan usai prosesi wisuda oleh Rektor UT kepada Drs. Leles Sudarmanto MM (Sekjen IKAUTPUS). Demikian sekilas info kami laporkan dari Kawasan UT Pondok Cabe Pamulang BANTEN.[Gway]